
Kita sering mengartikan kebebasan sebagai tidak adanya batas. Semakin sedikit aturan, semakin bebas kita. Logika ini terdengar masuk akal, tetapi benarkah demikian?
Kalau kita perhatikan, seekor ikan tidak menjadi lebih bebas ketika ia melompat keluar dari air. Ia justru mati di daratan. Kereta api tidak menjadi lebih bebas ketika meninggalkan rel. Ia justru terguling dan menghancurkan segalanya di sekitarnya.
Tanpa kita sadari, prinsip ini berlaku pada hampir semua hal. Mobil dirancang berjalan di jalan bukan di sungai. Burung diciptakan untuk udara bukan dasar laut. Tidak ada satu pun ciptaan yang bisa menikmati kebebasan ketika ia keluar dari tujuan penciptaannya.
Bagaimana dengan kehidupan kita?
Setiap Ciptaan Memiliki Rancangan
Allah tidak menciptakan dunia secara acak. Kejadian 1 memperlihatkan sebuah pola yang jelas: Allah menciptakan, memisahkan, menetapkan fungsi. Terang dipisahkan dari gelap. Air dari darat. Setiap makhluk ditempatkan dalam habitatnya. Seluruh ciptaan bergerak dalam keteraturan desain Allah.
Setiap ciptaan memiliki tujuan, fungsi, dan batas. Batas-batas itu bukan penjara. Batas-batas itu adalah ruang di mana ciptaan tersebut bebas berfungsi dengan sempurna – persis seperti air bagi ikan.
Manusia pun diciptakan dengan rancangan. Namun manusia menolak rancangannya.
Godaan Tertua di Dunia
Kejadian 3 mencatat percakapan paling berbahaya dalam sejarah. Ular berkata kepada manusia, "Engkau akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
Yang ditawarkan ular bukanlah buah melainkan definisi baru tentang kebebasan. Allah memberi manusia kebebasan makan apa pun di Taman Eden tetapi ular menawarkan kebebasan dari Tuhan.
Ular berkata: tentukan sendiri apa yang baik bagimu. Jangan biarkan siapa pun, termasuk Tuhan, menentukan apa yang baik bagi kamu.
Sejak saat itu manusia menyamakan kebebasan dengan otonomi. Kebohongan tidak pernah berhenti dijual, hanya berganti kemasan dari zaman ke zaman.
Namun perhatikan buahnya. Generasi yang paling "bebas" dalam sejarah justru adalah generasi yang paling cemas, paling kesepian, dan paling banyak mengonsumsi obat antidepresan. Orang-orang paruh baya yang sudah "sukses" menurut standar dunia diam-diam merasa kosong. Di usia senja, tidak sedikit yang baru sadar bahwa hidupnya sudah habis untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Itulah harga dari kebebasan yang keluar dari rancangan.
Kristus: Harga Kemerdekaan Sejati
Di sinilah Injil berbicara dengan kuasa yang tidak tertandingi.
Kristus tidak datang sekadar sebagai guru moral yang mengajar mengenai cara hidup yang sehat dan baik. Ia datang karena manusia sama sekali tidak mampu kembali kepada rancangan Allah dengan kekuatannya sendiri. Dosa bukan sekadar kesalahan yang dapat diperbaiki dengan niat baik. Dosa adalah kerusakan fundamental yang perlu pemulihan. Dan pemulihan itu menuntut harga. Di kayu salib, Kristus membayar harga itu. Ia yang tidak berdosa menjadi dosa bagi kita (2 Kor. 5:21). Ia yang hidup sepenuhnya sesuai rancangan Bapa, taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, menanggung seluruh konsekuensi dari pemberontakan kita. Namun pada hari ketiga, Ia bangkit. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa rancangan Allah tidak dapat dikalahkan oleh kematian sekalipun.
Kristus tidak datang untuk memberi kita lebih banyak pilihan. Ia datang untuk mengembalikan kita kepada desain Allah.
Rasul Paulus menulis, "Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya" (Ef. 2:10). Kata "buatan" di sini dalam bahasa aslinya bermakna “workmanship”, "karya cipta." Bukan produk massal. Bukan kebetulan. Ada tujuan, ada keindahan, ada maksud Allah dalam setiap detail keberadaan kita.
Hiduplah Sesuai Desain Kita
Secara roh, kita didesain untuk menyembah Allah. Ketika kita menyembah uang, karier, atau pengakuan manusia, roh kita tidak menjadi lebih kaya. Dia justru menjadi lebih melarat, terikat, terjajah.
Secara jiwa, kita didesain untuk percaya kepada Allah. Ketika kita memikul seluruh beban sendirian, menolak berserah, menolak meminta tolong, menolak mengakui kelemahan, jiwa kita tidak menjadi lebih kuat. dia justru retak.
Secara tubuh, kita didesain untuk melayani. Ketika tubuh hanya dipakai mengejar kenikmatan pribadi, ia tidak menjadi lebih puas. Kenikmatan itu justru memperbudak kita.
Kembali ke Rel
Ikan yang melompat keluar dari air mungkin mengira ia sedang terbang. Tidak. Ia sedang sekarat. Sesungguhnya, ia tidak kehilangan kebebasannya ketika tetap berada di dalam air. Ia justru sedang menikmati kebebasannya yang paling penuh.
Demikian pula dengan kita. Ketaatan bukanlah lawan dari kebebasan. Ketaatan adalah tempat di mana kebebasan bertumbuh. Aturan Allah bukanlah tembok penjara. Ia adalah rel yang memungkinkan kita melaju ke arah yang benar, dengan kecepatan yang benar, menuju tujuan yang benar.
Kebebasan sejati bukanlah bebas dari desain Allah melainkan bebas di dalam desain Allah.
Di dalam Kristus, desain itu telah dipulihkan. Roh, jiwa, dan tubuh dimerdekakan seutuhnya. Bukan untuk menjadi apa saja yang kita mau melainkan untuk menjadi apa yang sejak semula Ia kehendaki.
Itulah kemerdekaan yang utuh. Kemerdekaan yang tidak akan pernah dapat ditawarkan oleh dunia ini.
*******