• Building Smart Faith & Mental Health
  • 2026-09-04
  • Abigail Soesana

Ada trend atau kecenderungan dari tahun ke tahun di mana terjadi peningkatan dari gejala kecemasan dan permasalahan mental yang mengarah ke stres dan depresi pada anak-anak muda yang semula 18% (2020) kini mencapai ± 30% (2026). 

Menurut catatan, satu dari empat pemuda Indonesia teridentifikasi mempunyai kecenderungan gejala permasalahan mental. Sebagian dari mereka (42%) mencari pertolongan dan informasi dari media oneline terkait bagaimana mengatasi masalah mental dengan mengakses aplikasi kesehatan mental. Mereka tidak lagi bertanya langsung kepada orang tua, pemimpin rohani atau berdiskusi dengan orang yang dipercaya. 

Faktor apa saja yang menyebabkan permasalahan kesehatan mental pemuda/i ini?

  • Tekanan akademis (35%).

Biasanya anak muda mempunyai tekanan dari orang tua yang menuntut berprestasi atau si anak mengukur kemampuan akademisnya dengan orang lain sehingga menjadi beban mental sendiri.  

  • Sosial media (25%)

Anak-anak zaman now melek digital sehingga mereka dengan mudah mencari informasi apa pun dari sosial media yang dapat menyebabkan meningkatnya permasalahan kecemasan karena mengukur diri dengan apa yang ada di medsos. Bahkan terkadang mereka melakukan komparasi dan menganggap dirinya tidak lebih baik dibandingkan orang-orang yang ada di medsos. Mereka menganggap tolok ukur kesuksesan yang dipublikasikan di medsos adalah kriteria yang ideal. Dan ini menimbulkan tekanan dan kecemasan sendiri bagi mereka. Contoh: seorang anak muda mengatakan bahwa dia tidak sukses atau tidak sebaik kondisi teman-temannya yang ada di medsos. Padahal kenyataannya kondisi dia baik dan sudah mempunyai prestasi serta usaha sendiri di usia muda. Masalahnya, dia merasa gagal karena mengukur dirinya dengan yang ideal di medsos. Dia seharusnya mengukur diri sendiri apakah kondisi sekarang lebih baik daripada yang kemarin sebab setiap orang mempunyai potensi kelebihan serta kekurangan masing-masing. 

  • Keluarga dan teman (20%).

Permasalahan terjadi ketika anak mengalami konflik dengan teman-temannya kemudian orang tua mau menyelesaikannya tanpa memahami adanya gap antargenerasi walau orang tua bertujuan baik. 

Bagaimana menjembatani orang tua yang mempunyai andil terhadap pembentukan rohani maupun mentalitas anak sementara anak juga ingin dirinya dipahami, dapat menyampaikan pendapat serta mengungkapkan kondisi dan performanya yang kurang baik. Apalagi sekarang ada istilah trending yakni “toxic positivity” – suatu “paksaan” untuk selalu berpikir positif (dengan menekan perasaan sedih karena kegagalan) walau kenyataannya kondisi sedang tidak baik. Memang tampak bertujuan baik untuk memberikan semangat tetapi dengan menekan perasaan negatif (kesedihan, kegagalan) akan menimbulkan masalah baru bagaikan gunung es yang sewaktu-waktu akan meledak kalau tidak terselesaikan.  

Permasalahan mental yang tidak diselesaikan akan berdampak pada seluruh aspek hidup termasuk masalah spiritual. 

  • Krisis identitas dan spiritual (15%).

Anak muda di usia mahasiswa/i termasuk kelompok remaja akhir yang mempunyai krisis sendiri terkait dengan tugas perkembangannya. Perhatikan, setiap episode kehidupan manusia mulai dari lahir sampai menutup mata ada tugas perkembangannya sendiri-sendiri.

Anak remaja awal-menengah-akhir dalam tugas perkembangannya dapat mengalami kebingungan dan konflik dalam dirinya. Ada beberapa tuntutan untuk memikirkan masa depan. Anak zaman now berpikiran kritis jauh ke depan menjadikan mereka overthinking, berakibat ketakutan akan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan. 

  • Faktor lain (5%) baik internal maupun eksternal yang memengaruhi seseorang.

Bayi Yesus sendiri bertambah besar (Bhs. Yun. prokopto) → besar secara fisik dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya (bhs. Yun. helikia) → bertambah/bertumbuh secara mental dan makin dikasih oleh Allah dan manusia (Luk. 2:52).

Jelas Yesus mengalami pertumbuhan secara jasmani, mental, sosial (dikasihi manusia) dan spiritual (dikasihi Allah). 

Manusia sebagai Imago Dei (Kej. 1:27) diciptakan menurut gambar (Bhs. Ibr. tselem) dan rupa (Bhs. Ibr. demuwth) Allah yang memiliki tiga komponen di dalam dirinya: soma (tubuh), psyche (jiwa), pneuma (roh). Mental (psikis) berada di aspek kognitif/pikiran, emosi, dan kehendak atau kemauan. Pemulihan mental adalah bagian dari restorasi citra Allah di dalam Yesus Kristus. 

Korelasi antara smart faith dan mental health

Iman sebagai coping mekanism (cara mengatasi) meningkatkan resiliensi (Michael Ungar: Resilience Theory). Jadi, salah satu faktor untuk menjadi orang yang tangguh ialah melalui spiritualitas.

Iman juga memberi makna dalam penderitaan (Viktor Frankl: Man’s Search for Meaning).

Dukungan sosial, makna hidup dan spiritualitas terbukti meningkatkan mental health dan proteksi terhadap gangguan mental (MSPSS, Peeters Social Support Scale). 

Spiritualitas berbeda dengan religiositas. Religiositas terkait bagaimana seseorang merefleksikan imannya di dalam keagamaan – mengekspresikan dalam doa, membaca Alkitab dll. Sementara spiritualitas meliputi seluruh aspek hidup dalam segala aktivitas di dunia kerja, studi, pelayanan dll. kita lakukan seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. 

Dibutuhkan support system dari keluarga, gereja, pembina rohani, pembina pemuda untuk aware terhadap apa yang dialami oleh anak muda agar dapat mengantisipasi permasalahan mental. 

Salah satu penelitian menyatakan anak SD kelas 4-6 sudah mengalami stres dan depresi karena tuntutan akademis baik dari sekolah maupun dari orang tua. Selain kurikulumnya cukup berat, orang tua menuntut agar performa akademis anaknya bagus lalu anak diberi beban lebih banyak dengan mengirim mereka dari kursus satu ke kursus lainnya menyebabkan kelelahan mental baik fisik maupun psikis. Orang tua tidak memahami anak juga mempunyai kebutuhan lain seperti: kebutuhan dikasihi, rasa aman dan kebutuhan aktualisasi diri. Orang tua terlalu intervensi dengan alasan demi kebaikan anak tanpa memberikan waktu dan kesempatan anak untuk mengutarakan apa yang diinginkan dan bagaimana perasaannya. Akibatnya, anak mengaktualisasikan diri dalam bentuk kenakalan remaja di luar. 

Awareness 

Menurut James Fowler (Stages of Faith Development), iman berkembang sesuai dengan tahap mentalitas atau psikologis. Fowler menganalisa iman anak bergantung bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai kepada mereka. Kalau sudah di tahap dewasa, dia akan merefleksikan dirinya dengan iman dan disebut iman yang reflektif. 

Fowler melihat pertumbuhan iman berkaitan dengan mentalitas seseorang. Iman yang sehat sama dengan mengarahkan seseorang menuju kesehatan mental yang lebih baik dan ini tidak secara otomatis diperoleh walau spiritualitas/kerahaniannya baik.

Iman yang terintegrasi adalah iman yang tidak terpisah dari kesehatan mental melainkan menjadi fondasi hidup bermakna. 

Kesimpulan

Pentingnya kepekaan orang tua terhadap tanda-tanda kelelahan mental anak yang dapat dilihat dari adanya perubahan perilaku, misal: biasanya ceria menjadi murung atau menarik diri dari pergaulan sosial maupun semua aktivitas. Namun ada pula hal-hal mendasar yang tidak terlihat di permukaan. Yang tampak di luar hanyalah simtom atau gejala. 

Perlu dibangun komunikasi terbuka dan support system.

Pentingnya gereja menyediakan program kesehatan mental, membuka ruang diskusi dan monitoring bagi anak muda. Anak membutuhkan komunikasi terbuka, bukan langsung dihakimi atau diberikan petunjuk langsung secara umum karena kebutuhan mereka belum tentu sama.  

Prinsip mendasar untuk intervensi anak yang membutuhkan treatment ialah:

-     Safety: pastikan rasa aman secara fisik dan emosional. 

-     Stabilization: ajarkan ketrampilan regulasi emosi (bagaimana mengatur emosi saat marah, gagal, menyesal dll.) sebelum masuk ke pemprosesan trauma. 

-     Gradual exposure: cerita atau ingatan traumatis diproses bertahap tidak sekaligus.

-     Support system: libatkan keluarga, sekolah dan komunitas.

-     Cultural sensitivity: sesuaikan intervensi dengan nilai budaya  dan konteks.

Iman yang kuat tidak menuntut kita untuk selalu terlihat sempurna melainkan memberi kita keberanian untuk bangkit saat rapuh. Jadilah generasi cerdas yang menjadikan iman sebagai jangkar dan kesehatan mental sebagai pelindung langkah kita. Mari melangkah maju dengan utuh: sehat mentalnya, kuat imannya.

*******