• The Artistic Value of Clay is in a Potter's Hand
  • 2026-09-04
  • Liliek Harwani

Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? 

Hampir setiap tempat seperti di rumah, hotel, restaurant, excecutive club house, taman dan sebagainya mempunyai benda-benda dari keramik. Dari kualitas bawah sampai kelas eksklusif dengan harga yang sangat fantastik; dari bentuk “kodian” sampai pada yang disebut sebagai sebuah karya dengan karakter dan cita rasa seni yang tinggi – semua ini adalah perpaduan antara buatan tangan dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar ini.

Coba lihat piring, mangkuk dan cangkir yang selalu kita gunakan setiap hari. Pasti kita sudah tidak ingat lagi bahwa barang-barang cantik yang senantiasa menemani kita itu berasal dari bongkahan tanah liat kotor yang telah melalui beberapa tahapan sebelum menjadi bahan keramik pilihan. Dibutuhkan kesabaran yang tinggi untuk dapat melewati tahap demi tahap dalam pembuatan keramik yang indah.

Setelah direndam selama beberapa hari dan diaduk menjadi lumpur, tanah liat tersebut harus disaring terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran yang ada di dalamnya. Hasilnya kemudian diendapkan sampai mendekati kering dan disimpan lagi dalam kantong plastik selama beberapa minggu sebelum masuk pada tahap pembentukan.

Proses pembentukannya dapat dilakukan dengan teknik putar, slab dan cetak, tergantung dari jenis serta bentuk yang ingin dihasilkan. Sekali lagi tantangan untuk sabar masih harus dihadapi saat pengglasiran dan pembakaran yang kadang dilakukan sampai dua kali dengan suhu yang sangat tinggi. Belum lagi yang namanya pengukiran dan pewarnaan. Wuuhh…ternyata tidak gampang! Tak jarang pula perubahan atau anomali warna terjadi saat pembakaran yang menimbulkan semburat warna lain di luar dugaan. Namun yang namanya seni akan selalu indah dipandang dari sudut mana pun. 

Bagi mereka yang sudah terbiasa bermain dengan tanah liat akan mengatakan bahwa hasil akhir adalah bentuk kebebasan mengekspresikan energi diri dan dapat membawa pada sebuah sensasi emosional tersendiri. Sangat bisa dipahami! Bagaimana tidak? Dari onggokan tanah yang berada di lapisan bawah permukaan bumi, yang tak pernah dipandang mata manusia, segera berpindah posisi ke tempat yang mulia ketika telah menjadi sebuah karya seni yang indah.

Tidak berbeda jauh dengan refleksi kehidupan manusia di tangan Sang Pencipta. We are like the clay formed by His hand. Betapa banyaknya tahapan dan proses yang harus kita lalui dalam mengarungi kehidupan ini. Sakit, sedih, suka, duka, bahagia, gagal dan sukses silih berganti untuk membawa kita sampai pada kehidupan mulia bagaikan emas yang telah dimurnikan dengan api. Yet one thing we have deeply learnt that His plans are for good and not for disaster, to give us a future and a hope. Our lives will be meaningful in His hands.

*******