• Hidup Sesuai Karunia: Melajang atau menikah
  • 1 Korintus 7:7-9
  • Johor
  • 2026-10-04
  • Pdt. Jusuf Wibisono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hidup-sesuai-karunia-melajang-atau-menikah

Shalom,

Perlu diketahui kondisi lajang atau menikah adalah karunia pemberian Tuhan. Yang sudah menikah hendaknya komitmen dengan janji nikah namun yang penting ialah kehidupan kita semua dipimpin dan dituntun oleh Shekinah, kehadiran Allah yang berdiam di tengah umat-Nya. 

Manusia dibentuk dari debu tanah menjadi satu kehidupan yang berketurunan, seperti: keturunan Abraham  bagaikan pasir di laut dan bintang di langit. Suatu kehidupan yang “diinjak-injak” orang diubah menjadi “bintang” bercahaya dari hari ke hari. 

Perhatikan, kehidupan manusia memiliki lima periode seperti tertulis dalam Mazmur 71, yakni: 

·       Periode pertama: dimulai dari kandungan dan dikeluarkan dari perut ibu (ay. 6).

·       Periode kedua: masa kecil (ay. 17). 

·       Periode ketiga: masa muda (ay. 5).

·       Periode keempat: masa tua dan putih rambut (ay. 18).  

·       Pperiode kelima: masa tua ketika kekuatan habis (ay.9).  

Dari keturunan manusia pertama, ada salah satu keturunan yang hidupnya berkenan di hadapan Alllah, itulah Nuh. Oleh karunia Tuhan dia menikah dan dikaruniai tiga anak yang juga menikah. Mereka sekeluarga hidup di tengah-tengah kondisi seperti era Korintus yang penuh dengan kejahatan dan kemaksiatan (ay. 5-10) – percabulan, penyembahan berhala, perzinaan, pemburit, dst.). Namun nikah mereka diselamatkan dari hukuman air bah karena mereka tidak ikut menceburkan diri dengan dosa kejahatan orang-orang sezamannya.  

Kasih karunia memampukan Nuh (juga kita) untuk hidup benar, tidak bercela dan bergaul sama Tuhan (Kej. 6:8-9) juga melakukan perintah-Nya dengan tepat (ay. 22). Kata “bergaul” = walk and live in the Holy Spirit  = berjalan dan hidup di dalam Roh Kudus. Sebaliknya, Roh Tuhan tidak tinggal dalam kehidupan orang yang rusak moralnya (ay. 3).

Terbukti Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia dan perjanjian-Nya diberitahukannya kepada mereka (Mzm. 25:14). Bukankah Tuhan memberitahu Nuh terlebih dahulu untuk membuat bahtera karena Ia akan mengakhiri hidup segala makhluk (Kej. 6:13-14)? 

Aplikasi: bagi orang yang hidup takut kepada Tuhan dan  bergaul akrab dengan-Nya, Ia akan memberitahu apa yang baik untuk ditempuh dan dipilih termasuk mendapatkan jodoh untuk masuk dalam pernikahan yang baik seperti tiga anak Nuh (Sem, Ham, Yafet) beroleh karunia mendapatkan pasangan hidup tentu dimulai dari kehidupan orang tuanya yang hidup dekat menyatu dengan Tuhan.  

Untuk memasuki kehidupan nikah yang kudus harus mengikuti ketentuan dan syarat yang telah ditetapkan, antara lain sudah dibaptis untuk pembaruan hidup. Kehidupan anak Tuhan yang mau masuk pernikahan ada tanda: darah, air dan Roh itulah pertobatan, kelahiran baru dan meterai jaminan keselamatan. Ini bukan sekadar syarat agama tetapi ketentuan Surgawi. Orang yang mengalami pembaruan hidup dapat mengerti perkara-perkara Surgawi dan melihat kebenaran Firman Tuhan. Contoh: Nikodemus, orang Farisi dan pemimpin Yahudi, bercakap-cakap dengan Yesus mengenai kelahiran baru (Yoh. 3:1-13). Juga Yohanes diutus untuk memberitakan berita baptisan bahkan membaptis Yesus kemudian terdengar pengakuan dari Surga, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-nyalah Aku berkenan.” (Mat. 3:17). Baptisan tidak dapat diremehkan bahkan menjadi amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). 

Perhatikan, kasih karunia erat hubungannya dengan Roh Kudus. Kalau kita menuruti Roh Kudus maka daging dikalahkan; sebaliknya, kalau kita menuruti daging, Roh Kudus dikalahkan (Gal. 5:16-24). Mana yang kita pilih? Hidup yang diubahkan atau tetap manusia daging yang tidak mampu menghadapi ujian. 

Di zaman Musa, Allah memerintahkan untuk mendirikan Tempat Kudus (Tabernakel) karena Ia mau berdiam di tengah-tengah umat-nya (Kel. 25:8). Bagi kita sekarang, bagaimana kita dapat menerima anugerah Tuhan kalau hidup kita tidak kudus? Hati kita perlu dibersihkan/dikuduskan dan Firman Tuhan berkuasa membersihkannya (Yoh. 15:3).  

Yesus mengetahui dan menghargai setiap usaha orang yang rindu diperbarui untuk menerima anugerah-Nya seperti Zakheus, pemungut cukai, yang memanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Kemudian terjadilah keubahan hidup dan keselamatan dari orang yang suka memeras sebab dia juga anak Abraham (Luk. 19:1-10). 

Introspeksi: sudahkah hati kita dibersihkan oleh Firman Tuhan dan hidup kita diperbarui untuk didiami oleh-Nya?  

Setiap orang mempunyai sejarah perjalanan hidupnya masing-masing namun jangan lupa akan kasih karunia-Nya. Bila beroleh karunia untuk menikah, jangan sembarangan dan asal pilih calon pasangan hanya karena penampilan luar yang cantik/ganteng tetapi bertanyalah kepada Tuhan apa betul-betul jodohnya, tandanya ada damai sejahtera dan tidak menabrak kebenaran Firman Tuhan sebab Kerajaan Allah bukan soal makan minum tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). 

Marilah kita belajar terus melakukan Firman Tuhan dan tinggal di dalam Dia untuk menjadi murid-Nya dan berbuah tetap (Yoh. 15:7-8). Dengan demikian Bapa dipermuliakan dan kita berhasil serta berbahagia dalam nikah dan rumah tangga (Mzm. 128:1-6). Inilah berkat bagi orang yang hidup dalam kasih karinia Tuhan. Amin.

 

 

 

 

 

 

  • Video Youtube Ibadah: