Shalom,
Masih sering kita dengar pertanyaan apakah perkataan Iblis dalam Alkitab adalah Firman Allah? Misal: perkataan Iblis kepada Allah untuk menjatuhkan Ayub, perkataan Iblis yang mencobai Yesus di padang gurun dll. Tidak semua perkataan dan tindakan seseorang (bahkan malaikat sekalipun) yang dilakukan atas inisiatifnya sendiri adalah Firman Allah, contoh: tindakan Salomo yang berpoligami dengan 700 istri dan 300 gundik atau Daud yang berzina dengan Batsyeba, jelas bukanlah Firman Allah. Namun ketika perkataan Iblis dan tindakan Daud maupun Salomo ditulis dalam Alkitab maka ini adalah Firman Allah. Sungguh, Firman Allah bersifat jujur dan menulis apa adanya tanpa ditutup-tutupi baik buruknya karena bertujuan untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan (2 Tim. 3:16), menjadi contoh dan peringatan agar tidak ditiru oleh kita (1 Kor. 10:6). Rasul Paulus menyatakan bahwa tulisan dan perkataannya bukan dari hikmat manusia (dari dirinya sendiri) tetapi oleh Roh (1 Kor. 2:13). Rasul Petrus meneguhkan bahwa nabi-nabi bernubuat bukan atas inisiatif sendiri tetapi atas dorongan Roh Kudus (2 Ptr. 1:20-21). Jelas bahwa seluruh tulisan dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah Firman Allah.
Apa pesan Firman Allah bertemakan “Menangkan Pasangan Bagi Kristus menurut 1 Korintus 7:12-16?
Terlebih dahulu kita mempelajari frasa “kalau ada seorang saudara beristrikan seorang yang tidak beriman...”. Apa definisi dari orang beriman supaya mengerti karakteristik dari orang tidak beriman yang pasti bertolak belakang dari orang beriman?
DEFINISI ORANG BERIMAN
1. Mengaku dan percaya bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat juga sudah dibaptis.
Tentu pengakuan ini direspons dengan sukacita bersedia dibaptis tanpa diminta atau dipaksa.
2. Alkitab adalah patokan utama dan tertinggi untuk mengenal Tuhan dan menjalani hidup (sola scriptura).
Alkitab menjadi junjungan paling tinggi bukan tradisi, perasaan, kebiasaan. Tradisi gereja membantu tetapi tidak boleh mengalahkan apa kata Alkitab. Tentu orang yang tidak beriman fokus pada pikirannya sendiri bukan pada Alkitab.
3. Manusia dibenarkan dan diselamatkan karena percaya kepada Kristus bukan karena perbuatannya (sola fide).
Kita selamat bukan karena tekun beribadah, rajin memberikan persembahan, rutin berbuat baik. Perbuatan baik adalah buah dari iman.
4. Keselamatan adalah pemberian Allah yang gratis, tidak layak kita terima dan tidak dapat kita upayakan sendiri (sola gratia).
Jadi kita tidak perlu sombong rohani karena sadar keselamatan kita peroleh secara gratis karena kemurahan Allah. Namun anugerah bukanlah izin untuk hidup sembarangan; sebaliknya, membuat kita bersyukur dan berubah hidup.
5. Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat dan Perantara antara manusia dan Allah.
Ingat, Yesus bukan salah satu jalan tetapi satu-satunya Juru Selamat sebab Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6).
6. Bertanggung jawab memelihara keluarganya (1 Tim. 5:8).
7. Hidup berpadanan dengan iman (buah).
Orang beriman menghasilkan buah sesuai dengan pertobatannya (Mat. 3:8). Dengan kata lain, kalau tidak tampak buahnya berarti dia belum bertobat.
Jadi karakter dan tindakan orang tidak beriman sama sekali bertolak belakang dengan kehidupan orang beriman yang ditandai dengan tujuh macam kriteria di atas.
Bagaimana kondisi jemaat Korintus pada waktu itu? Mereka terpapar dengan penyembahan berhala dan ketika Injil diberitakan, ada yang bertobat. Misal: asalnya suami istri adalah penyembah berhala kemudian suami/istri dimenangkan menjadi orang beriman. Dapat dibayangkan terjadinya perubahan suasana yang tidak mengenakkan dalam keseharian hidup berkeluarga yang biasanya berdua menyembah berhala kemudian tiba-tiba istri/suami tidak ikut! Pasti terjadi percekcokan yang makin lama makin meruncing dan akhirnya salah satu memutuskan untuk berpisah/cerai.
Kepada jemaat Korintus yang bertobat, Rasul Paulus mengatakan, “Kalau ada seorang istri bersuamikan seorang yang tidak beriman (bhs. Yun. apistos = faithless) dan laki-laki itu mau hidup bersama dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.” Dengan kata lain, kalau salah satu dari pasangan itu beriman, perceraian bukan solusinya. Justru suami/istri yang tidak beriman itu (apistos) dikuduskan oleh istri/suami yang beriman, maksudnya: bukan beroleh keselamatan kekal tetapi kekudusan relasional – pernikahan ini tetap sah dan kudus di hadapan Tuhan. Suami/istri yang apistos masuk dalam lingkungan umat Allah melalui ikatan pernikahan. Apa dampaknya? Anak-anak mereka yang sebelumnya anak cemar sekarang menjadi anak-anak kudus (ay. 14b). Jelas orang tidak beriman (apistos) beroleh privilege berada dalam lingkaran berkat Allah oleh karena salah satu anggota keluarganya adalah anggota tubuh Kristus. Pasangan nikah ini (apistos) tidak otomatis selamat masuk dalam kehidupan kekal, membutuhkan respons (iman) secara pribadi kepada Kristus. Namun pernikahan dan rumah tangga mereka sah dan kudus, artinya dipisahkan untuk Allah.
Bagaimana kalau orang tidak beriman mau bercerai? Biarlah ia bercerai; dalam hal demikian pasangan yang beriman tidak lagi terikat (bhs. Yun. douloo = bondage = diperhamba, diperbudak; ay. 15). Artinya, orang percaya/beriman dibebaskan dari kewajiban mempertahankan pernikahan akibat kematian hubungan nikah karena pengkhianatan iman – yang satu kepada Yesus Kristus sedang satunya tetap kepada penyembahan berhala. Dan yang menceraikan adalah apistos bukan orang beriman.
Sebaliknya, bolehkah orang beriman menceraikan? Orang beriman tidak boleh menceraikan istri/suaminya tetapi kalau ngotot minta cerai maka (1) dia harus tetap hidup tanpa suami/istri atau (2) berdamai/rujuk dengan suaminya (ay. 11). Kalau orang beriman ini menikah lagi berarti status dia adalah apistos. Waspada, jangan menukar Yesus dengan cinta, harta dan takhta.
Apa bedanya ayat 15 dengan ayat 39? ‘Isteri terikat (bhs. Yun. deo = bound = terikat) selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.” Ikatan pernikahan orang beriman berlaku sah mengikat sampai kematian secara fisik atau maut memisahkan.
Kalau begitu apa yang harus dilakukan oleh suami/istri untuk memenangkan pasangannya bagi Kristus?
- Jangan pernah menyerah pada pasangan hidupnya.
Bagi pasangan yang satu beriman dan satunya apistos, rumah tangga adalah ladang misi pertama. Kesabaran, kasih dan kesaksian hidup adalah alat-alat yang Tuhan gunakan untuk membuka hati pasangan.
Bagi pasangan suami istri yang dua-duanya beriman: jangan menyerah pada keadaan istri/suami yang karakter aslinya baru kelihatan jelas setelah hidup serumah. Ingat janji nikah yang tidak bersyarat! Pertengkaran hebat terjadi karena masing-masing mempertahankan egonya. Baik suami yang mudah emosi dan istri yang cerewet harus sama-sama belajar mengendalikan diri untuk tidak menuruti kemauan sendiri.
- Jagalah kekudusan pernikahan.
Pasangan suami istri yang awalnya sama-sama tidak beriman kemudian salah satu pasangannya menjadi orang beriman maka pernikahan tersebut adalah kudus di hadapan Tuhan. Peringatan bagi anak muda lajang, jangan cari masalah berencana menikah dengan apistos (orang tidak beriman) atau beda agama!
- Didiklah anak-anak dalam kekudusan.
Jangan abaikan tanggung jawab rohani tetapi tanamkan Firman Tuhan di dalam hati anak-anak karena mereka adalah generasi perjanjian.
Orang tua wajib memberitakan Firman Tuhan kepada anak-anaknya agar mereka tumbuh besar baik jasmani maupun rohaninya dalam kekudusan.
- Menangkan pasangan bukan dengan kekuatan sendiri tetapi dengan Injil.
Sungguh tidak mungkin menggunakan kekuatan sendiri untuk dapat mengubah istri atau suami kecuali Injil (Firman Tuhan). Kita yang beriman hanya mampu bersaksi untuk menyakinkan pasangan kita dan Roh Kudus berkuasa mengubahkan hidupnya.
Ternyata memasuki hidup pernikahan dan rumah tangga tidaklah seindah yang kita bayangkan karena masing-masing harus menyatukan diri dari latar belakang dan karakter beda. Apa pun badai ujian datang menerpa, jangan cepat menyerah lalu memutuskan bercerai! Sebaliknya, berdoalah minta pertolongan Tuhan dan pimpinan Roh Kudus untuk dapat bersaksi memenangkan suami/istri yang belum beriman agar dia mengenal Tuhan secara pribadi. Juga masing-masing belajar mengendalikan diri dan melepas ego agar keutuhan hidup nikah dapat dipertahankan karena Tuhan sangat membenci perceraian. Amin.