• Jangan Terikat
  • 1 Korintus 7::25-31
  • Lemah Putro
  • 2026-11-01
  • Pdp. Arnold Sutandharu
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
jangan-terikat

Shalom,

Perlu diketahui surat 1 Korintus 7 mengisahkan tentang Rasul Paulus yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari jemaat Korintus berkaitan dengan topik orang tidak menikah, suami-istri; kini mengenai para gadis (virgins = perjaka atau perawan).  

Kepada para gadis (juga orang percaya), Paulus meyampaikan prinsip sama yakni jangan melihat perubahan status hidup sebagai prioritas utama. Contoh: kondisi orang bebas adalah hamba di dalam Kristus; demikian pula seorang hamba adalah bebas di dalam Kristus. Jelas, “status” tidaklah penting di dalam Kristus sebab semua sama di dalam Dia sehingga tidak perlu mengejarnya mati-matian sebagai prioritas kehidupan orang percaya.  

Paulus hanya mengingatkan bahwa tidaklah berdosa untuk kawin namun dalam perkawinan akan muncul kesulitan dan kesusahan badani (ay. 28). Oleh sebab itu Paulus ingin seseorang terhindar dari kesulitan semacam itu cuma untuk mengejar status kehidupan. Namun jika ada kemungkinan dan peluang untuk kawin juga tidak bermasalah. 

Apa alasan Paulus menyampaikan prinsip tersebut? “Aku berpendapat bahwa mengingat waktu darurat sekarang adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.” (ay. 26) Ternyata Paulus melihat orang percaya pada abad pertama khususnya jemaat Korintus sedang hidup di dalam waktu darurat. 

Bicara tentang “waktu darurat”, ada hal serius yang harus diperhatikan yakni cara kita menilai prioritas akan berubah atau bergeser. Ilustrasi: ketika menginap di hotel di lantai cukup tinggi dan tiba-tiba terjadi gempa bumi maka tamu-tamu hotel tidak akan sibuk menyelamatkan pakaian untuk dimasukkan ke koper tetapi bergegas mengambil benda-benda penting (dompet, KTP, HP) dan segera turun melalui tangga darurat. Pada saat darurat, hal-hal yang tadinya kita pandang penting seperti laptop, pakaian pesta yang sudah disiapkan dll. tidak lagi digandoli tetapi kita memfokuskan perhatian pada hal-hal yang lebih penting. 

Ternyata Paulus memiliki perspektif jauh ke depan yakni kekekalan hidup bersama Kristus dan saat ini kita sedang hidup di masa darurat – di antara waktu kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua. Dalam kondisi darurat ini, kita tidak boleh santai tetapi berjaga-jaga karena waktunya telah singkat dan dunia akan berlalu. 

Dunia ini bukan final/akhir bagi kita tetapi masa transisi yang bersifat sementara. Ilustrasi: kita naik pesawat dengan tujuan Jakarta dan sekarang berada di ruang tunggu. Walau terasa nyaman dan menyenangkan sikon di ruang tunggu, kita akan tetap meninggalkannya ketika mendengar panggilan terakhir menuju ke pesawat tujuan Jakarta. Tidak layak kita menginvestasikan waktu dan harta kita untuk mendekorasi ruang tunggu agar bagus seolah-olah itu rumah kita karena tujuan kita bukan ruang tunggu tetapi Jakarta. Tujuan akhir pengikutan kita kepada Tuhan ialah kekekalan bersama-Nya. Dunia hanyalah tempat transisi sambil menanti kedatangan-Nya.  

Rasul Paulus jelas melihat Kristus jauh lebih berharga dari segala sesuatu yang dimiliki manusia. Dia mengalami sendiri – semua atribut dan latar belakang hebat yang dahulu menjadi kebanggaannya sekarang dianggap kerugian bahkan sampah setelah mengenal Kristus Yesus (Flp. 3:7-8). Ternyata dalam waktu darurat, hal-hal yang baik sekalipun tidak serta merta menjadi prioritas dibandingkan dengan Kristus. 

Anehnya, apa yang baik justru berpotensi mengikat kita berakibat Kristus tidak lagi menjadi yang utama bagi kita. Paulus memberikan petunjuk dari tulisannya menggunakan frase “hos me” = as though = seolah-olah sebanyak lima kali (ay. 29, 30, 31). Berdasarkan frase “hos me = as though” ada tiga bidang kehidupan baik yang dapat mengikat di waktu darurat jika kita lengah. 

Bidang apa saja yang dapat mengikat kita, membuat kita mandek di dalam pengikutan kita kepada Tuhan? REM. Apa itu?

  •     Relasi (ay. 29).

“Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah (bhs. Yun. hos me = as though) mereka tidak beristeri.”

Apa maksud Paulus menyuruh suami yang beristri berlaku seolah-olah tidak beristri? Apakah menceraikannya? Tentu tidak sebab Allah membenci perceraian (ay. 10)! Apakah mengabaikan istri/suami lalu mengutamakan Kristus saja? Juga tidak sebab ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami dan istri (ay. 3-5). Bahkan orang yang tidak menghidupi keluarganya sendiri adalah murtad dan lebih buruk daripada orang tidak beriman (1 Tim. 5:8). Bersikap seolah-olah tidak beristri bukan pula berarti boleh mencari perempuan lain! 

Kalau begitu apa yang dimaksud “seolah-olah tidak beristri” oleh Paulus? Orang yang tidak menikah (lajang) memiliki keleluasaan/kelonggaran dalam memusatkan perhatiannya kepada Tuhan sementara orang yang menikah memiliki tambahan kewajiban dan tanggung jawab untuk juga memusatkan perhatian kepada pasangan dan keluarganya (1 Kor. 7:32-35). Namun Paulus mengingatkan walaupun memusatkan perhatian kepada pasangannya, jangan pernah menggeser perhatian utamanya kepada Tuhan. Dengan kata lain, jangan menduakan atau menggeser perhatian kepada Tuhan walau sudah beristri/bersuami! Dan ini cukup sulit dilakukan jika suami dan istri tidak sejalan (satu formasi) dalam mengikut Tuhan. Suami/istri akan kesulitan membagi waktu dan perhatian antara Tuhan dan pasangannya. Kenyataannya, ada banyak kendala untuk dapat berjalan seirama memerhatikan Tuhan karena masalah kesehatan, kondisi ekonomi yang terpaksa bekerja di tempat berbeda dll. Apa pun masalahnya, suami dan istri harus saling mengusahakan bagaimana caranya memerhatikan Tuhan dan pasangan tanpa mengorbankan salah satunya. Sikap hati semacam ini dilatih bahkan sebelum menikah. Oleh sebab itu carilah pasangan yang dapat diajak sama-sama melayani Tuhan. Jangan biarkan Tuhan tergeser prioritasnya dalam hidup kita! Jangan pula kita menjadi orang yang menggeser prioritas Tuhan kepada pasangan yang sedang memerhatikan Tuhan. Kita merasa kurang/tidak diperhatikan oleh pasangan kita hingga tercetus omongan, “Kamu pilih Tuhan atau pilih aku?” 

Kita harus memerhatikan relasi sebagai bidang hidup yang baik tetapi kalau kita tidak waspada, relasi dapat menggeser Tuhan dari takhta hati orang percaya.

  • ·    Emosi (ay. 30a).

“dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira;”

Apakah Paulus menyuruh kita untuk mengingkari emosi kita dengan pura-pura kuat atau menyembunyikan perasaan gembira kita? Paulus sendiri mengungkapkan sikap hatinya saat sedih nan cemas (2 Kor. 2:4). 

Menangis dan bergembira patut diekspresikan tanpa perlu ditutup-tutupi dengan kepura-puraan. Namun dalam waktu darurat, kita perlu mengevaluasi apakah luapan emosi kita itu berguna atau tidak. Perhatikan, menangis penuh kesedihan dapat melumpuhkan seseorang; sebaliknya, luapan kegembiraan dapat melengahkan. Ingat, dalam suka maupun duka di masa darurat, kita tetap harus konsentrasi kepada Tuhan. 

Contoh: ketika Daud dan orang-orangnya sampai di Ziklag, kotanya sudah terbakar habis, harta benda dirampas dan keluarga mereka ditawan oleh gerombolan bandit. Maka menangislah Daud dan rakyat yang bersamanya hingga mereka tidak kuat lagi menangis. Selama menangis, mereka tidak melakukan apa-apa bahkan hendak melempari Daud. Kedukaan yang mendalam telah melumpuhkan mereka. Untungnya Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan dan di sinilah titik balik kemenangan.

Beda dengan kondisi orang Amalek yang diliputi dengan kegembiraan karena mendapatkan jarahan banyak. Mereka berpesta pora membuatnya lengah ketika Daud beserta 400 orangnya mengendap-endap menyerbunya dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam. Tidak ada seorang pun yang lolos kecuali 400 orang muda yang melarikan diri dengan menunggang onta. Daud dan teman-teman mengambil kembali barang-barang yang dirampas juga melepaskan keluarga yang ditawan (1 Sam. 30). 

Pembelajaran: emosi memang baik dan perlu diekspresikan tetapi dalam masa darurat jangan kita tenggelam dalam kesedihan berlebihan yang membuat kita lumpuh atau terlalu bergembira sehingga kita lengah dan melupakan Tuhan.

  •     Materi (ay. 30b-31).

“dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki (possesed = held fast = menguasai, memegang erat) apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya (those who use this world as not misusing it = menggunakan dunia ini seolah-olah tidak menyalahgunakannya). Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.”

Apa maksud “orang membeli seolah-olah tidak memilikinya”? Setelah barang itu dibeli dan menjadi milik kita, kita tidak boleh menguasai serta memegang erat-erat tidak mau melepaskan. Tentu membeli untuk kebutuhan hidup adalah wajar tetapi jangan dicengkeram erat tidak mau dilepaskan bahkan tidak boleh disentuh oleh siapa pun karena merasa sudah menghabiskan waktu, uang dan kekuatan untuk mendapatkannya. Ingat, dunia akan berlalu dan semua yang kita miliki bersifat fana. 

Paulus mempersilakan kita mempergunakan dunia ini untuk menunjang kehidupan. Gunakan dengan wajar tidak disalahgunakan apalagi diandalkan sepenuhnya sehingga tanpanya kita serasa tidak dapat hidup! Tentu kita boleh menggunakan fasilitas dunia sebagai alat tetapi jangan menjadikannya sebagai sandaran keberhasilan dan rasa aman kita. Mengapa? Karena dunia ini sedang berlalu dan semua materi yang dipakai untuk kebaikan pun tidak dapat dijadikan sandaran hidup kita di dalam kekekalan. Contoh: perumpamaan orang kaya yang berencana membuat lumbung-lumbung lebih besar untuk menampung gandum dan barang-barangnya yang berlimpah. Tampak dia begitu mencengkeram harta kekayaan yang dikumpulkan untuk dirinya sendiri berlanjut dengan penyalahgunaan materi yang seharusnya berurusan dengan jasmani kini dipakai untuk memuaskan jiwa. Dia berpikir materi dapat membuat jiwanya tenang padahal jiwanya miskin di hadapan Allah (Luk. 12:16-21).  

Pembelajaran: kita hanyalah pengelola atas seluruh harta duniawi yang kita miliki. Buktinya saat mati, kita tidak membawa rumah dan harta kita menghadap Tuhan. Berkat materi yang kita punya hanyalah titipan yang patut dikelola. Oleh sebab itu pakailah untuk memuliakan Tuhan, nikmati dengan syukur dan jangan sandarkan jiwa kita pada materi itu. 

Ingat, kita hidup dalam waktu darurat – waktu yang singkat dan dunia sedang menuju pemusnahan. Kita lagi berada di masa transisi menuju tujuan hidup kekal bersama Tuhan. Marilah kita menggunakan Relasi, Emosi, Materi dengan tepat; kalau tidak hati-hati, tiga bidang ini dapat mengikat kita, membuat kita mandek di dalam pengikutan kita kepada Kristus. Untuk itu jangan biarkan relasi kita menggeser Tuhan sebagai prioritas utama kita; jangan pula emosi kedukaan melumpuhkan kita atau kesukaan besar membuat kita lengah. Selain itu kita patut mensyukuri materi pemberian Tuhan dan menggunakannya dengan tepat bukan untuk memuaskan jiwa kita sebab hanya darah Kristus yang berkuasa menyelamatkan jiwa kita. Hanya Yesuslah segalanya bagi kita. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: