• Menangkan Pasangan Bagi Kristus
  • 1 Korintus 7:12-16
  • Johor
  • 2026-10-18
  • Pdm. David Wellyanto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
menangkan_pasangan-bagi_Kristus

Shalom,

Benarkah menikah dengan orang Kristen menjamin seseorang mempunyai pernikahan yang bahagia? Belum tentu! Memakai nama dan cap Kristen tidak otomatis membuat seseorang menjadi suami yang penuh kasih atau istri yang penuh pengertian. Ada orang yang sangat ramah terhadap jemaat di gereja tetapi kalau di rumah senyum kepada istrinya saja sulit sekali. Di gereja memuji Tuhan tetapi di rumah mendengar pasangan berbicara sedikit saja sudah marah. Persoalannya bukan pada identitas agama Kristen tetapi sudahkah Kristus mengubah hidupnya menjadi manusia baru? 

Berkaitan dengan tema “Menangkan Pasangan Bagi Kristus”, Rasul Paulus menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Korintus, yakni: ada pasangan suami istri yang tidak percaya Kristus sebelum menikah. Kemudian diinjili oleh Paulus atau bertemu jemaat lain lalu salah satu menerima Injil sedangkan pasangannya tetap tidak percaya. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan apakah orang yang telah percaya harus meninggalkan pasangannya yang belum percaya? Paulus menjawab tidak selama pasangan tersebut bersedia hidup bersama. Mengapa? Karena kehadiran orang percaya dalam keluarga memiliki arti yang penting di hadapan Tuhan. Namun Paulus juga menjelaskan bahwa orang percaya tidak boleh memaksa pasangannya untuk menerima Kristus. Perhatikan, ini bukan perintah untuk menikahi orang yang belum percaya dengan harapan kelak untuk mengubah keyakinannya. Ternyata keluarga merupakan salah satu tempat di mana kesaksian tentang Kristus terbukti dan dapat dilihat nyata. 

Kalau begitu bagaimana kita dapat memenangkan pasangan dan keluarga bagi Kristus?

  •    Pelihara hubungan yang memberi kesempatan bagi kesaksian Kristus (ay. 12-13).

Paulus mengatakan apabila suami/istri yang tidak percaya masih bersedia hidup bersama, istri/suami yang percaya tidak boleh menceraikan. Mengapa? Karena menjadi percaya kepada Kristus bukanlah alasan untuk meninggalkan tanggung jawab pernikahan yang sudah berjalan.  

Dalam hal ini pertobatan seharusnya membuat seseorang makin menunjukkan tanggung jawab bukan malah gampang meninggalkan pasangannya. Bayangkan suami yang baru percaya Kristus mulai rajin beribadah, membaca Alkitab, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama tetapi istrinya belum percaya, haruskah dia meninggalkan istrinya hanya karena perbedaan iman? Jangan! Sebaliknya, melalui kehidupan yang telah diubahkan Kristus, suami memiliki kesempatan baik untuk memperlihatkan kepada istrinya bagaimana Tuhan bekerja dan menunjukkan kasih-Nya kepada suami yang menjadi Kristen itu. 

Perhatikan, memenangkan pasangan bagi Kristus bukan berarti memenangkan perdebatan agama. Ada orang yang ingin pasangannya percaya kepada Tuhan tetapi caranya justru membuat pasangan makin menjauh sebab setiap pembicaraan selalu berubah menjadi perdebatan dan perdebatan pendapat yang berbeda dianggap sebagai perlawanan terhadap iman. 

Perlu diketahui orang tidak selalu tertarik mengenal Kristus karena kita pintar berargumentasi atau hafal Alkitab tetapi mulai tertarik ketika melihat bukti keubahan hidup yang nyata dilihat, misal: dahulu suka marah sekarang lebih sabar; sebelumnya tidak peduli sekarang mulai perhatian; dahulu sulit minta maaf sekarang bersedia merendahkan diri dll. Perubahan-perubahan semacam ini menjadi pintu yang membuka kesaksian tentang Kristus. Jangan begitu bersemangat mengajak pasangan mengenal Tuhan tetapi cara memperlakukannya justru membuat dia sulit melihat kasih Tuhan. 

Prinsip ini tetap berlaku bagi pasangan yang sama-sama sudah percaya. Jangan beranggapan karena pasangan sudah menjadi anggota gereja dan sama-sama melayani, kita tidak lagi perlu menolongnya untuk bertumbuh! Suami istri dipanggil untuk saling menguatkan, mengingatkan dan saling menolong agar makin dekat kepada Tuhan. 

Bagi orang muda yang belum nikah, Firman mengingatkan pentingnya memilih pasangan yang mengasihi Tuhan. Jangan sengaja memasuki pernikahan beda iman dengan anggapan nanti pasti akan dapat mengubahnya! Anda sedang masuk dalam jembatan yang berbahaya. Kristus tidak menyelamatkan kita supaya kita menjadi lebih pandai menuntut perubahan dari orang lain tetapi supaya hidup kita sendiri yang lebih dahulu diubahkan oleh-Nya. Pernikahan suami istri beda agama lebih rumit mengalami pergumulan di dalam kehidupan nikah dan rumah tangganya. 

Aplikasi: hendaknya suami istri memelihara hubungan pernikahan dengan kasih, kesetiaan dan tanggung jawab. Juga suami/istri membuka kesempatan bagi pasangannya untuk makin mengenal Kristus.

  •    Tunjukkan kekudusan Kristus melalui kehidupan sehari-hari (ay. 14).

Paulus mengatakan suami/istri yang tidak beriman dikuduskan oleh istri/suami yang beriman. Apa ini berarti suami otomatis diselamatkan oleh istrinya yang percaya? Atau anak-anak otomatis diselamatkan karena orang tuanya Kristen? Tidak! Paulus tidak mengajarkan keselamatan diperoleh melalui hubungan keluarga tetapi melalui anugerah Allah di dalam Kristus Yesus dan diterima melalui iman secara pribadi. 

Rasul Paulus mau menjelaskan bahwa pernikahan dengan pasangan yang belum percaya tidak membuat orang percaya menjadi najis tetapi pernikahannya memiliki kedudukan yang sah dan diterima di hadapan Allah. Dampaknya, anak-anak di dalam keluarga tidak dipandang sebagai anak-anak cemar. Keadaan ini memberikan kesempatan dan tanggung jawab kepada orang percaya untuk menghadirkan pengaruh kehidupan yang telah dikuduskan oleh Tuhan di dalam keluarga. 

Apa bukti pasangan dan anak-anak dapat mengenal Kristus melalui kehidupan kita? Salah satunya melalui karakter yang terus dibentuk oleh Firman Tuhan. Contoh: suami dimenangkan tanpa banyak perkataan melalui perilaku istri yang murni dan saleh (1 Ptr. 3:1-2). Kesaksian melalui perkataan harus didukung oleh kesaksian hidup yang diubahkan. Ilustrasi: seorang anak mungkin tidak mengingat seluruh isi khotbah dalam ibadah gereja tetapi dia mengingat bagaimana ayah/ibu memperlakukan ibu/ayahnya di rumah. Sudahkah mereka mempraktikkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkotbah? Rumah adalah tempat di mana orang-orang terdekat dapat melihat apakah iman sebatas perkataan atau sungguh-sungguh mengubah perilaku dan cara berpikir kita.

Introspeksi: apakah pasangan kita merasa sudah dikasihi? Apakah anak-anak melihat kesabaran kita? Apakah keluarga merasakan kita makin rendah hati setelah mengenal Kristus? Jangan sampai kita dikenal sebagai pelayan yang aktif dan baik oleh jemaat tetapi anggota keluarga malah menjauhi kita. Jangan kita rajin membicarakan kekudusan tetapi tidak menjaga perkataan: ketika marah yang keluar kata-kata yang menyakitkan, saat chatting di grup bernadakan provokasi. Yesus menjadi teladan sempurna, Ia tidak hanya mengajari kasih tetapi memperlihatkan kasih itu melalui kehidupan-Nya – melayani, mengampuni bahkan menyerahkan diri-Nya bagi orang berdosa (Ef. 5:25). 

Kita tidak perlu menunggu hingga sempurna baru membawa pasangan mengenal Kristus sebab kita semua masih memiliki kelemahan. Namun kita berupaya dan bersedia untuk terus-menerus dibentuk oleh Kristus – kalau salah, bertobat; ketika melukai, minta maaf; saat menghadapi kesulitan, belajar mengandalkan Tuhan. Inilah kesaksian hidup yang menunjukkan kekudusan Kristus melalui keseharian hidup kita.

  •    Berharap pada karya keselamatan Tuhan bukan pada kekuatan diri sendiri (ay. 15-16).

Ternyata keselamatan pasangan tidak dapat kita pastikan atau kendalikan. Kita boleh berharap dan berdoa agar pasangan kita menerima Kristus tetapi kita tidak dapat memaksanya untuk percaya. Kita hanya dapat menjadi saksi bukan juru selamat mereka. Ada kalanya orang sudah berdoa bertahun-tahun bagi pasangannya tetapi belum juga melihat keubahan darinya. Apakah doanya sia-sia dan hilang begitu saja? Tentu tidak. Tuhan mendengar doa umat-Nya namun kita tidak diberi kuasa kapan dan bagaimana seseorang merespons anugerah Tuhan. Ini berada dalam kedaulatan Tuhan. 

Paulus mengingatkan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan (Rm. 10:17). Jadi kesaksian hidup yang baik tetap harus disertai dengan kesempatan untuk memperkenalkan kebenaran Firman Tuhan. Contoh: kalau di rumah ada anggota keluarga yang belum percaya, kita tidak akan diam membisu dan hanya menunjukkan kesaksian perbuatan baik tetapi juga mencari kesempatan untuk menyampaikan Firman Tuhan. Kita bersaksi dan berdoa serta menyerahkan hasilnya kepada Tuhan tanpa mengabaikan tanggung jawab. Selama hubungan masih dapat dipelihara dengan baik, kita harus mengusahakan kasih dan perdamaian. Namun apabila seseorang mengalami kekerasan atau ancaman, kita tidak boleh membiarkan dirinya terus menjadi korban yang disakiti dan nyawanya terancam. Mencari perlindungan dan pertolongan merupakan tindakan yang bijaksana dengan datang ke kerabat yang mengenal Tuhan, konsultasi kepada hamba-hamba Tuhan yang membantu mencarikan jalan keluar. 

Mungkin ada yang sudah berusaha lama tetapi pasangan belum juga berubah bahkan tandanya pun tidak kelihatan sama sekali. Ingat, keberhasilan kesaksian kita tidak diukur hanya dari apakah orang lain berubah tetapi dari kesetiaan kita melakukan kehendak Tuhan. Tetap berdoa dan bersaksi dengan setia; jangan hilang pengharapan dan jangan pula pengharapan dijadikan alasan untuk mengendalikan/memaksa orang lain. Teruslah mengasihi dengan benar, sampaikan kebenaran dengan lemah lembut dan berdoa dengan tekun. Kita dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi bukan mengambil alih pekerjaan kedaulatan Kristus.  

Kini kita mengetahui bagaimana menjadi alat Tuhan untuk memenangkan pasangan bagi Kristus, yakni: memelihara hubungan yang memberi kesempatan bagi kesaksian Kristus, menunjukkan kekudusan Kristus melalui kehidupan sehari-hari dan selalu berharap pada karya keselamatan Tuhan bukan pada kekuatan diri sendiri. Tentu sebelum memenangkan pasangan bagi Kristus, kita sendiri harus dibentuk oleh kasih Kristus terlebih dahulu. Jangan sibuk memikirkan bagaimana pasangan kita berubah sementara kita sendiri menolak perubahan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita! 

Tuhan mempercayakan gereja melalui visi dan misinya supaya kita menjadi anggota jemaat yang makin mengenal, mengasihi, dan setia kepada Kristus, Sang Mempelai Pria Surga. Panggilan Tuhan berlaku bagi semua orang percaya! Bagi yang sudah menikah, jadikan pernikahan sebagai tempat saling menolong dan mensupport untuk bertumbuh di dalam Kristus. Bagi yang belum menikah, persiapkan hidup Anda dengan mengutamakan kasih kepada Tuhan juga dalam memilih pasangan. Bagi yang memilih hidup sendiri, ingatlah bahwa nilai dan kepenuhan hidup tidak ditentukan oleh status pernikahan. Anda tetap dipanggil untuk berubah dan bertumbuh bagi Kristus. Bagi yang sedang bergumul karena pasangannya belum mengenal Tuhan, jangan menyerah tetaplah berdoa dan bersaksi penuh kasih. Hanya Kristus yang sanggup memberikan dasar kuat bagi keubahan hati manusia termasuk hati kita sendiri.

Kiranya Tuhan menolong kita menjadi keluarga yang makin mengenal Kristus, makin mengasihi Dia dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: