Shalom,
Perhatikan, kehidupan rohani kita dapat tumbuh bersama oleh sebab ikatan kasih Tuhan. Sebenarnya hidup kita masih ada banyak ikatan dan kita tidak mungkin bebas total. Misal: kita masih terikat dengan rumah dan pekerjaan dst. Sekalipun ada ikatan tetapi ada perbedaannya yakni ikatan yang menghancurkan dan ikatan yang membuat kita hidup dalam kemuliaan.
Ikatan macam apa saja yang dapat mengikat:
- Dosa yang dahulu mengikat/menguasai tubuh fana kita untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, membuat kita mati dalam dosa tetapi sekarang dilepaskan dan kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus serta anggota tubuh kita dipakai menjadi senjata kebenaran (Rm. 6:11-13).
- Keinginan daging yang mengikat ini merupakan perseteruan terhadap Allah sebab tidak takluk pada hukum Allah (Rm. 8:6-8).
- Kita diikat menjadi satu oleh pelayanan kasih sesuai dengan kadar pekerjaan tiap anggota untuk bertumbuh ke arah Kristus yang adalah Kepala (Ef. 4:14-16). Melalui pelayanan kasih, kita dapat saling mengasihi juga terikat di dalam pengajaran nabi-nabi, rasul, penginjil, gembala dan pengajar yang memberikan kekuatan dalam hidup kita.
Kini kita mengetahui siapa yang mengikat kita, kita tidak bebas total tanpa kendali tetapi mengikatkan diri di dalam pengajaran Firman Allah agar tidak diombang-ambingkan oleh pengajaran sesat juga keinginan daging yang membuat kita tidak takut kepada hukum Allah.
Apa pesan Rasul Paulus terhadap para gadis? Dia mempertimbangkan dengan hikmat Allah agar para gadis tetap dalam keadaannya (tidak menikah) mengingat waktu darurat. Tentu dalam waktu darurat, setiap tindakan yang diambil harus benar-benar diperhitungkan tidak asal menyenangkan kemudian menerobos apa yang tidak diinginkan. Apalagi saat itu kenajisan, penyembahan berhala dan kebejatan moral merajarela sementara perkawinan bersifat kudus. Pernikahan diciptakan oleh Allah sendiri sesuai dengan kehendak-Nya sehingga harus dihormati. Pernikahan bukan hanya didasari keinginan daging yang menyebabkan orang jatuh terperosok dalam kesukaran dan penderitaan.
Dunia masa kini semata-mata hanya memikirkan tentang nilai, harta benda, kekayaan, materi dll. yang menguntungkan diri sendiri bukan yang berkenan di hadapan Tuhan dan ini bersifat mengikat. Itu sebabnya Rasul Paulus berpesan supaya di masa darurat ini para gadis tetap sebagaimana keadaannya. Kalaupun ada rencana, mereka harus menghitung seperti orang membangun rumah. Semua dipikirkan matang-matang sebelum masuk dalam nikah seperti: latar belakang, ekonomi, iman, dll. sebab pernikahan bukan untuk coba-coba. Misal: mampukah seorang gadis tunduk kepada suami sesuai tuntutan Firman Tuhan? Ketundukan kepada suami menjadi penderitaan yang sangat berat bagi seorang gadis jika suami tidak memahami pernikahan yang kudus. Jangan bayangkan kehidupan nikah selalu berjalan mulus! Pasti ada tantangan dan pergumulan yang dihadapi tetapi Tuhan yang setia akan menolong karena janji-Nya pada pasangan nikah yang kudus.
Bagi yang sudah menikah, suami istri tidak boleh melepaskan ikatannya dengan Tuhan, tetap dalam persekutuan dengan-Nya. Suami istri tidak boleh bercerai karena terikat dengan janji nikah yang kudus di hadapan Allah. Jangan pula dikuasai hal-hal lain yang tidak dapat memberikan pengayoman!
Memang masuk dalam pernikahan tidaklah berdosa tetapi Paulus peduli dan mau menghindarkan mereka dari kesusahan badani (ay. 28). Ketika kehidupan nikah tidak berjalan baik, perempuan dan anak biasanya menjadi korban. Mereka mengalami penderitaan berat dalam hidupnya.
Perhatikan, kehidupan yang taat pada Firman Tuhan harus disertai dengan penyerahan. Bagi yang sudah beristri, jangan mengusahakan perceraian; yang tidak terikat, jangan mencari ikatan. Sayangnya, nasihat Firman Tuhan sering dilanggar oleh karena keinginan yang berakhir dengan kandasnya nikah. Percayalah orang yang berserah akan dilindungi Tuhan.
Bagi kehidupan yang dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, tidak semua yang halal itu berguna/bermanfaat (1 Kor. 6:12). Rasul Paulus sangat peduli terhadap nikah karena merupakan persekutuan orang-orang kudus yang terdiri dari banyak keluarga dan anggota keluarga di dalamnya. Keutuhan jemaat secara keseluruhan tidak boleh dicemarkan oleh satu anggota keluarga bagaikan adonan yang dikhamirkan oleh sedikit ragi.
Juga gadis maupun perjaka harus menjaga kekudusan supaya tidak terkontaminasi oleh “ragi” dalam jemaat besar. Nikah yang dipermainkan itu menghina penyucian yang Tuhan kerjakan bagi kehidupan jemaat. Bukankah setiap dari kita adalah anggota tubuh Kristus? Waspada, kuasa kegelapan berusaha menyerang dan menghambat kesatuan tubuh Kristus menggunakan berbagai macam cara – menyerang secara terbuka maupun tersembunyi. Contoh: bangsa Israel diserang dari depan juga dari belakang yang menyerang perempuan dan anak-anak yang lemah. Taktik perang selalu menghancurkan yang paling lemah.
Apa maksud “orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri. Dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis”? Harus diakui menikah itu ada beban berat yang harus ditanggung tetapi kita menanggungnya dengan suka rela seolah-olah beban itu tidak ada dan tidak perlu mencuat keluar didengar oleh orang luar. Tempat pelarian yang tepat untuk mencurahkan beban yang berat ialah Tuhan, Pencipta nikah.
Bagaimana dengan “pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” Ikatan terakhir yang harus kita lepaskan ialah keterikatan akan harta benda duniawi dan keindahannya sebab semuanya akan berlalu.
Firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk tidak terikat pada dosa, keinginan daging dan barang-barang duniawi bersifat fana tetapi kita mengikatkan diri dalam pelayanan kasih untuk bertumbuh ke arah Kristus, Kepala bagi gereja-Nya. Amin.