Shalom,
Selasa depan ini (16 Juni 2026) dengan seizin Tuhan kita akan memasuki regenerasi dari penggembalaan di GKGA. Regenerasi adalah suatu keniscayaan karena manusia dibatasi oleh umur, kekuatan, kemampuan dan kesehatan fisik. Jadi proses regenerasi pergantian kepemimpinan dalam penggembalaan adalah wajar dan kita harus dapat menerima juga mendukung serta mendoakan supaya semua berada dalam kehendak Tuhan.
Apa pentingnya kehadiran seorang pemimpin di tengah-tengah jemaat? Pemimpin dalam konteks komunitas organisasi bahkan jemaat Tuhan sangatlah penting bagaikan figur yang mempersatukan seperti kepala atas tubuh. Bukankah tubuh terdiri dari banyak organ dan fungsi yang begitu rumit juga milyaran sel di dalam tubuh? Ada yang dikendalikan secara sadar dan tidak sadar oleh otak yang ada di kepala. Jelas betapa pentingnya seorang pemimpin untuk menyatukan dan mempersatukan agar tetap terjaga kesatuan.
Sangat celaka jika seorang pemimpin tidak dapat mempersatukan berbagai golongan yang berbeda bagaikan kawanan domba yang lelah, lapar, haus, tercerai berai karena tidak ada gembala. Waspada, betapa pentingnya figur seorang pemimpin karena kita menghadapi berbagai perpecahan di dalam gereja akhir-akhir ini!
Sebagai hamba Tuhan dan pendiri jemaat di Korintus, Rasul Paulus sangat prihatin ketika menerima kabar bahwa jemaat Korintus sedang terpecah belah akibat iri hati dan perselisihan karena ketidakdewasaan. Dia kemudian menulis surat Korintus karena dia kemungkinan sedang berada di Efesus.
Apa teguran bernada lembut Rasul Paulus terhadap jemaat yang terpecah belah?
- Mengingatkan umat Tuhan pada satu standar yakni hidup sesuai dengan Firman Tuhan yang tertulis (ay. 6-8).
Perlu diketahui, sebagai rasul – jabatan tertinggi dalam jemaat hari-hari itu – Paulus memosisikan diri bagaikan kotoran (ay.13). Dia merasa dirinya tidak ada yang patut dibanggakan walau dia melakukan pekerjaan berat nan kasar (ay. 12) sebagai tukang kemah untuk menghidupi diri sendiri maupun pelayanan. Dia tahan uji ketika dimaki, dianiaya, difitnah tetapi tetap sabar dan memberkati.
Aplikasi: hendaknya kita tidak terpecah-belah gara-gara grup-grupan mengultuskan tokoh tertentu tetapi ternyata mereka “pepesan kosong” – penampilan tidak sesuai dengan harapan. Juga pelayan/hamba Tuhan harus siap masuk dalam pergumulan tidak dihargai dan tidak dipandang orang walau sudah melayani mati-matian. Ini menunjukkan hamba Tuhan dengan kriteria selaras dengan-Nya.
Rasul Paulus mengingatkan pelayan-pelayan Tuhan berpegang pada satu standar yakni Firman yang tertulis dan tidak boleh ada yang melebihi Firman supaya tidak ada seorang pun menyombongkan diri minta dihormati atau diperlakukan istimewa. Faktanya, ada hamba-hamba Tuhan yang meminta tarif dan fasilitas khusus untuk pelayanan luar.
Koreksi bisa datang dari orang yang mungkin tidak selevel dengan kita, misalnya Apolos, diingatkan oleh Akwila dan Priskila. Walau mahir tentang soal Kitab Suci tetapi apa yang dikhotbahkan belum sesuai dengan apa yang tertulis sebab pengetahuannya masih terbatas. Bagusnya, hamba Tuhan Apolos mau merendahkan diri dan menerima nasihat bahwa dia masih kurang dan bersedia diajari (Kis. 18:24-28).
Paulus juga mengingatkan jemaat Korintus yang sudah terpecah belah agar mengambil sikap dan tindakan untuk belajar menghargai otoritas Firman Tuhan, Alkitab, melebihi semuanya. Bagi kita sekarang, hendaknya kita, pelayan-pelayan Tuhan, sadar diri bahwa Firman Tuhan adalah otoritas tertinggi. Dampaknya, kita sanggup menghadapi ancaman pengajaran-pengajaran salah, yang menyimpang, yang membuat perpecahan-perpecahan karena merasa lebih (rohani) dari yang lain. Contoh: ketika Yesus dicobai oleh Iblis, Yesus menjawab, “Ada tertulis” (Mat. 4:4,7,10).
Aplikasi: hendaknya kita mendisiplin diri membaca Firman Tuhan setiap hari di tengah kesibukan sehari-hari demi kebaikan diri sendiri menghadapi ajaran-ajaran yang menyesatkan; karena dengan berbuat demikian kita menyelamatkan diri sendiri dan semua orang yang mendengarnya (1 Tim. 4:13,16). Kita juga harus siap dikoreksi dan ditegur untuk kemudian memperbaiki diri menjadi lebih baik.
- Bagaimana menjadi teladan hidup dalam mengikut Kristus (ay. 9-13).
Bagaimana teladan hidup seorang pelayan Tuhan? “....Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati sebab kami telah menjadi tontonan (a theater) bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.”
Di zaman dahulu, orang-orang percaya dijadikan tontonan di tempat pertunjukan bagaikan “binatang sirkus” yang siap dimangsa oleh binatang buas kemudian orang Yunani dan Romawi yang menontonnya akan bersorak-sorak. Bayangkan pelayan-pelayan Tuhan disorot hidupnya menjadi tontonan gratis!
Namun Paulus menunjukkan realita bahwa kehidupan pelayan/hamba Tuhan yang teruji (lemah, lapar, haus, telanjang, dipukul, mengembara, dianiaya, difitnah) sangatlah indah (1 Kor. 4:10-12). Bagaimana mungkin mengalami banyak penderitaan, Rasul Paulus masih mampu bertahan? Apa yang diperolehnya dengan menjadi pelayan Tuhan? Dia teguh di jalur yang sebenarnya menyakitkan karena dia boleh menjadi hamba Tuhan yang dipercaya dan yang setia (ay. 1-2). Inilah kerinduan seorang hamba Tuhan hingga nanti mendengar Sang Tuan mengatakan, “hai hamba-Ku yang setia, engkau mengasihi Aku lebih dari semua.” Yang dia cari bukan pujian dari manusia tetapi dari Allah (ay. 3-5).
Aplikasi: hendaknya motivasi dan tujuan hidup pelayan/hamba Tuhan ialah dia didapati setia dan dapat dipercaya oleh Tuan di atas segala tuan, itulah Tuhan sendiri. Kita patut bersukacita sebab Allah Bapa sudah mengerjakan begitu banyak, bahkan rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal mati disalib untuk menerima kita dengan segala dosa, cacat cela, penuh pelanggaran dan pemberontakan. Apa yang dapat kita balas untuk semua yang sudah Ia lakukan? Marilah kita setia beribadah dan melayani untuk menyenangkan hati Tuhan tanpa menuntut pujian dan penghormatan dari manusia.
Sungguh merupakan sukacita besar apabila kita didapati sebagai pelayan Tuhan yang teruji oleh sebab mampu bertahan menghadapi penderitaan dengan berpegang teguh pada Firman Tuhan yang tertulis, juga menjadi teladan hidup dalam mengikut Dia, ditandai dengan kesetiaan dan dapat dipercaya hingga satu kali nanti Tuhan mengatakan, “Sabaslah hai hamba-Ku yang setia, engkau sudah setia sampai pada akhir hidupmu!” Amin.