Shalom,
Sesuai dengan tema “Pelayan Kristus yang Teruji”, kita akan membahas lebih lanjut siapa yang dimaksud dengan “pelayan” dan siapa Kristus itu.
Pelayan pada umumnya tidak begitu membutuhkan ijazah dan skills khusus untuk melakukan tugas pekerjaannya seperti: pelayan di restoran, di hotel, di rumah tangga atau untuk kebersihan umum. Dan dalam memulai pekerjaannya, seorang pelayan harus menjalani masa percobaan tiga bulan. Namun pelayan Kristus berbeda karena melayani Dia, Raja di atas segala raja dan tidak ada raja mana pun dapat menyamai apalagi melebihi Dia.
Siapa yang dimaksud pelayan Kristus? “Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr. 1:13-14)
Malaikat-malaikat yang adalah roh diutus untuk melayani manusia. Berikutnya, Rasul Paulus mengatakan, “Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.” (1 Kor. 3:5) Ternyata Paulus, Apolos adalah pelayan-pelayan Tuhan bahkan Ia memberikan jabatan-jabatan rohani seperti: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar (Ef. 4:11) untuk melayani-Nya.
Aplikasi: kita adalah pelayan-pelayan Tuhan Yesus Kristus, Raja atas segala raja, yang sudah ditebus dengan darah-Nya yang mahal! Pelayan Tuhan bukan hanya tampil melayani dan dilihat orang seperti: berkhotbah, paduan suara, ushers dll. tetapi juga pelayanan di belakang layar yang tidak dilihat orang seperti: tim doa, bersaksi dll. Semua bertujuan membawa dan menguatkan orang-orang yang imannya lemah.
Perhatikan, setiap orang pasti mengalami ujian terakhir oleh Hakim di atas segala hakim, Kristus sendiri (Why. 20:11-15). Mereka lulus ujian bila namanya tercantum dalam buku kehidupan untuk menerima mahkota kehidupan. Kalau tidak lulus seperti malaikat yang sombong (Yes. 14:12-15) akan dilemparkan ke dalam lautan api itulah kematian kedua.
Kalau begitu kriteria pelayan Tuhan harus menjalani ujian:
- Kerendahan hati dengan mengutamakan yang satu daripada yang lain (1 Kor. 4:6-8).
Paulus, pembenci bahkan pembunuh pengikut-pengikut Tuhan, mengawali pertobatannya setelah berjumpa dengan Tuhan (Kis. 9) kemudian dibaptis dan lahir baru.
Firman Tuhan menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang baik dan benar (Rm. 3:10, 12). Jadi kalau kita merasa tidak berdosa, kita menipu diri sendiri dan tidak ada kebenaran dalam diri kita. Sebaliknya, jika kita mengaku dosa, Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh. 1:8-10).
Setelah dipilih menjadi pelayan Tuhan, Rasul Paulus tidak mau lengah ketika menyampaikan Firman Tuhan bersifat nasihat maupun teguran, Firman itu dia tujukan terlebih dahulu kepada dirinya sendiri apakah dia sudah melakukannya. Demikian pula dengan kita, jangan kita mempertahankan gengsi dan kesombongan kita ketika Firman Tuhan datang menyampaikan kebenaran lalu menasihati bahkan menegur kesalahan kita! Akui dosa kesalahan kita selama kita masih diberi waktu dan kesempatan oleh-Nya. Apa yang perlu kita banggakan dan sombongkan? Bahkan napas, kekuatan dan kesehatan pun pemberian dari Tuhan semata. Pengertian akan Firman Tuhan juga oleh Roh Kudus yang memimpin kita masuk ke seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Dosa kita yang seperti merah kirmisi dihapus menjadi putih justru oleh darah Kristus (Yes. 1:18). Lebih baik kita ‘dihakimi’ sekarang melalui teguran untuk perbaikan diri berkaitan dengan kerendahan hati agar lulus dalam ujian akhir.
Setelah mengalami pembaruan hidup, status kita dari pelayan/hamba naik menjadi sahabat Yesus dengan menuruti peruntah-Nya untuk saling mengasihi (Yoh. 15:9-17). Berbeda dengan status hamba, dengan status sahabat, Tuhan tidak segan-segan membukakan Firman-Nya kepada kita.
Aplikasi: marilah kita, pelayan-pelayan Tuhan, melayani sesama dengan kasih penuh rendah hati karena sadar kita dahulu juga terhilang menuju kebinasaan tetapi oleh kasih Tuhan kita diselamatkan. Kita tidak perlu menyembunyikan identitas kita sebagai pimpinan tinggi dalam perusahaan, kaum intelektual, orang kaya dll. tetapi kita tetap memosisikan diri sebagai pelayan Tuhan ditandai dengan rendah hati dan penuh kasih di dalam melayani sesama yang masih banyak belum/tidak mengenal Tuhan.
- Lemah lembut dalam pelayanan (ay. 9-13).
Lemah lembut adalah kemampuan untuk bersabar tidak mudah terbawa emosi sebab sbagai pelayan Kristus, kita menghadapi beraneka ragam orang dengan latar belakang dan karakter beda. Untuk itu diperlukan kelemahlembutan dan kesabaran kalau dipersalahkan saat menjalankan pelayanan seperti telah dialami oleh Yesus.
Harus diakui tidaklah ringan memikul beban pelayanan ini; itu sebabnya Yesus menawarkan agar siapa pun yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya (Mat. 11:28-30). Yesus sendiri sudah meneladani kita dengan memikul beban dosa; jadi, sudah selayaknya hamba mengikut jejak Tuannya (1 Ptr. 2:21; Mat. 10:24).
Di dalam pelayanan, Rasul Paulus mengalami banyak penderitaan – dipenjara, didera, dirantai dll. – tetapi Tuhan selalu membuka jalan. Kita juga harus siap menghadapi penderitaan demi Tuhan, Raja di atas segala raja, yang kita layani.
Jadi bagaimana menjadi pelayan Kristus yang teruji? Kita harus melayani Tuhan, Raja di atas segala raja, dan sesama dengan rendah hati, lemah lembut serta penuh kasih untuk beroleh mahkota kehidupan saat penghakiman terakhir dihakimi oleh Hakim mahaadil itulah Tuhan yang duduk di atas takha putih karena nama kita tercatat di dalam buku kehidupan. Amin.