• JANGAN MERUSAK BAIT ALLAH
  • 1 Korintus 3:16-20
  • Johor
  • 2026-05-17
  • Pdm. Sukarjo Sutioso
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
jangan_merusak_bait_allah

Shalom,

Dalam tulisannya Rasul Paulus mau mengingatkan sekaligus mengingatkan apakah jemaat Korintus (juga kita) tidak tahu bahwa mereka (juga kita) adalah umpan Allah. Apa tanggapan kita terhadap informasi penting ini, percaya atau tidak? Pertanyaan “tidak tahukah kamu” merupakan pertanyaan retorika yang tidak perlu dijawab tetapi lebih menunjukkan keheranan Paulus sekaligus teguran kepada jemaat (juga kita). 

Siapa jemaat Korintus ini? Mereka dipanggil menjadi orang-orang kudus yang berseru kepada Nama Yesus Kristus (1 Kor. 1:2, 6) karena di Korintus ada banyak ilah. Mereka beroleh anugerah keselamatan oleh pengurbanan Yesus yang disalib dan diperkaya dalam segala macam kata serta pengetahuan (ay.6). 

Bait Allah di zaman Musa disebut Kemah Suci/Tabernakel yang didirikan oleh bangsa Israel setelah keluar dari Mesir dengan tujuan agar Allah hadir di tengah-tengah mereka (Kel. 25:8). Setelah tinggal di tanah perjanjian, Salomo mendirikan Bait Suci (1 Raja. 6). Seiring berjalannya waktu, orang-orang Yehuda tidak setia kepada Allah maka Bait Suci dihancurkan (± 586 SM) dan barang-barangnya dibawa ke Babel. Dibangunlah Bait Allah kedua oleh Zerubabel setelah orang-orang Yehuda kembali dari pembuangan Babel. Kemudian Bait Suci ini melonjak besar-besaran oleh Herodes yang makan waktu 46 tahun dan Yesus pernah mengajar di sana. Umpan ini dirubuhkan pada tahun 70M oleh pasukan Romawi di bawah pimpinan jenderal Titus. Di zaman Perjanjian Baru Yesus tidak lagi berbicara tentang bangunan fisik bahkan Ia mengatakan, “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali.” (Yoh. 2:19) Dialah Bait Suci sejati dan hadirat Allah yang sempurna ada di dalam diri-Nya bukan di gedung. Kini Bait Allah adalah gereja sebagai komunitas orang-orang yang beriman beribadah.  

Nilai penting tentang Bait Allah yang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman adalah:

  • Hadirat Allah ada di dalam umpan-Nya.

Jika tidak ada hadirat-Nya, yang ada hanyalah kehancuran karena tujuan utama adanya umpan Allah ialah Ia ingin bersekutu dan diam di tengah-tengah umat-Nya.

  • Kudus karena Allah yang diaminya adalah Kudus. Karena Ia kudus, Ia tidak mau tempat yang didiami-Nya cemar, kotor dan tidak suci.
  • Sepenuhnya milik Allah pribadi.

Gereja bukan milik hamba Tuhan atau gembala siapa pun tetapi milik Allah sepenuhnya. Manusia hanya bertindak sebagai penjaga atau pengelola. Jangan bertindak kebablasan seperti jemaat di Korintus yang membuat pengelompokan-pengelompokan karena unsur favoritisme menyebabkan timbulnya perpecahan karena pemilik Bait Allah/gereja adalah Allah sendiri. 

“Jangan merusak” merupakan perintah untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan yang merugikan, mengganggu, merusak atau melanggar hak pribadi orang lain. Jangan merusak Bait Allah merupakan langkah awal kita menghargai Bait-Nya.

Langkah proaktif apa yang harus dilakukan dalam menghargai Bait Allah? 

  • Menjaga kesatuan (ay. 16). 

Penting untuk menjaga kesatuan karena Yesus berjanji di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Nya, Ia ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). 

Menjelang Yesus naik ke Surga, Ia tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu tetapi menjanjikan Roh Kudus, Roh Penghibur, menyertai kita selama-lamanya (Yoh. 14:16-18). 

Itu sebabnya Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mana ada perselisihan dan blok-blokan di dalamnya karena mengidolakan tokoh-tokoh rohani bukan mendatangkan hadirat Tuhan atau mengangungkan Nama-Nya. 

Aplikasi: hendaknya kita sadar diri bahwa kita hanyalah pengelola Bait Allah dan dipakai lebih hebat kalau kita bersatu dalam persekutuan. Tanpa kesatuan yang kukuh, kita akan mudah dihancurkan. Ilustrasi: satu batang lidi akan mudah dipatahkan tetapi segombyok sapu lidi berjumlah ratusan batang yang diikat menjadi satu akan sulit dipatahkan juga lebih cepat menyapu kotoran dan sampah.  

Bagaimana kita menjaga kesatuan? Dengan saling menghargai dan tidak mudah meremehkan orang. Contoh: Kerajaan Surga seumpama harta terpendam di ladang dan ditemukan orang maka pergilah orang itu menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu (Mat. 313:44). Jangan malah bersikap seperti anak bungsu yang meminta ayahnya harta kekayaan yang menjadi haknya kemudian pergi berfoya-foya hingga jatuh miskin. Setelah itu barulah dia sadar betapa bernilainya tinggal di rumah ayahnya dan akhirnya dia pulang (Luk. 15:11-33). Demikian pula dengan kita, hendaknya kita menjaga persatuan dan kesatuan; saat ada masalah jangan menyendiri tidak mau ke gereja ikut persekutuan anak-anak Tuhan karena Iblis akan gampang menghancurkan iman yang goyah. Tak dapat dipungkiri makin banyak orang, makin banyak ide dan pendapat yang beda-beda – ada yang positif ada pula yang bernada negatif – tetaplah bersatu hati seperti doa Yesus sebelum disalib. Dia berdoa supaya murid-murid-Nya menjadi satu seperti Dia dan Allah Bapa satu (Yoh. 17:22-23) agar dunia tahu bahwa Bapa mengutus Dia dan mengasihi mereka sama seperti Bapa mengasihi-Nya. 

  • Menjaga kekudusan (ay. 17). 

Kita adalah Bait Allah yang (di)kudus(kan). Kita wajib menguduskan diri supaya Allah berkenan hadir di tengah-tengah kita. Karena Allah itu kudus maka Ia sangat serius menjaga kekudusan umat-Nya supaya tidak cemar. Itu sebabnya Rasul Paulus takut jemaat Korintus disesatkan dari kesetiaannya kepada Kristus sebab sabar saja menerima injil lain atau Yesus lain (2 Kor. 11:3-4). 

Kumpulan orang-orang percaya harus proaktif menjaga kekudusan dan secara kolektif bersatu hati datang kepada Tuhan memohon supaya disucikan. Selain itu kita memerlukan peran Roh Kudus (Gal. 5:16-25) untuk hidup dalam kekudusan. Sungguh Tuhan tidak akan membiarkan kekudusan dicemari! Contoh: Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, mati dihanguskan api karena mempersembahkan api asing yang tidak diperintahkan Tuhan (Im. 10:1-2); Hofni dan Pinehas yang tidak menghargai kurban persembahan juga melakukan pelacuran tewas dalam peperangan melawan orang Filistin dan tabut Allah dirampas (1 Sam. 2:10-11). Sebaliknya, Tuhan tetap menyertai Yusuf yang menjaga kekudusan dari godaan istri Potifar walau harus masuk penjara (Kej. 39); Sandrakh, Mesakh dan Abenego tetap beriman kepada Tuhan walau menghadapi ancaman kematian dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Dan. 3); Daniel tetap berdoa dan memuji Allah walau dihukum dilempar ke gua singa (Dan. 6). Sungguh Tuhan menolong dan membela mereka yang beriman teguh dan menjaga kekudusan dengan tidak mau mencemarkan diri pada yang najis. Namun Tuhan akan membinasakan kita kalau kita hidup sembrono tidak menjaga kekudusan (1 Kor. 3:17). 

  • Memiliki sikap rendah hati (ay. 18-20). 

Rasul Paulus mengingatkan agar Jemaat Korintus tidak sombong dengan kepintaran atau hikmat dari dunia. Memang mereka terkenal dengan hikmat dunia dan budaya yang luar biasa tetapi Rasul Paulus mengingatkan supaya mereka tidak sombong hanya menggunakan logika tanpa melibatkan Allah sebab hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah. Mereka belum/tidak menerima kebenaran Kristus. 

Bukankah Injil terdengar bodoh bagi dunia dan mereka tidak memahami makna salib? Dunia tidak mengerti mengapa harus menderita memikul salib selagi masih dapat bersenang-senang menikmati hidup. Padahal Yesus menegaskan kita harus berani memikul salib dan mengikut Dia (Mat. 10:38). 

Aplikasi: hendaknya kita bersedia dikuduskan dan diubahkan dari hari ke hari untuk memiliki sikap rendah hati. Waspada, kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Ams. 16:18). .Jangan merusak bait Allah oleh sebab kesombongan kita! Hati yang keras tidak mau menerima teguran menunjukkan kesombongan rohani dan terlihat dalam bentuk kebenaran diri sendiri – merasa paling benar. Marilah kita tetap rendah hati sebab Tuhan mengasihani orang yang rendah hati (Yak. 4:6). Dan Ia memberikan teladan sempurna dalam ketaatan dan kerendahan hati dengan mengosongkan diri-Nya hingga mati di kayu salib (Flp. 2:7-8) demi manusia berdosa.  

Jangan merusak umpan Allah tetapi menghargainya dengan tindakan menjaga kesatuan, menjaga kekudusan serta pernyataan rendah hati untuk mau dididik dan terbentuk menjadi satu dalam satu kesatuan. Sejujurnya hal ini tidak mudah dilakukan karena adanya pendapat dan pemikiran yang berbeda-beda dari kumpulan orang percaya. Namun bersama Tuhan dan pertolongan Roh Kudus kita mampukan untuk mempertahankan Bait Allah yang Kudus. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: