• SINERGI DI LADANG TUHAN
  • Johor
  • 2026-04-26
  • Pdp. Hari Gunawan Lianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
sinergi_di_ladang_tuhan

Shalom,

Kata “sinergi” mungkin tidak asing dalam dunia sekuler hingga pelayanan pekerjaan Tuhan. Kita mengalami sinergi dalam kehidupan sehari-hari mulai dari pekerjaan sampai rumah tangga. Kita tidak mungkin bekerja sendirian tetapi mempunyai tim dan anak buah yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan yaitu terciptanya karya yang mendatangkan hasil dan pada akhirnya akan memuliakan Nama Tuhan.  

Singkatnya, “sinergi” adalah kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk memperoleh hasil yang lebih baik daripada dilakukan sendiri. Namun hal ini tidak terjadi pada jemaat Korintus yang mana di dalamnya ditemukan perpecahan oleh sebab iri hati dan perselisihan (1 Kor. 3:3-4). Ternyata mereka sendiri (bukan salah Paulus maupun Apolos) yang menciptakan kondisi yang membuat hati mereka terbuka untuk iri hati dan perselisihan. Mereka terlalu mengidolakan seseorang lebih daripada yang lain sehingga membuat jarak di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu Rasul Paulus menegur mereka karena terpecah-pecah. Kondisi ini ternyata berkembang sampai saat ini di mana kondisi memihak-mihak juga terjadi di dalam gereja Tuhan. 

Kita telah mempelajari siapa Paulus itu, diawali dengan sepak terjangnya sebagai sosok yang sangat membenci Yesus dan pengikut-pengikut-Nya. Dia menangkapi mereka untuk dibawa ke majelis Yahudi bahkan menjadi saksi Stefanus dilempari batu hingga mati. Namun perjumpaannya dengan Tuhan mengubah hidupnya dan dia dipakai Tuhan menjadi rasul yang luar biasa.  

Bagaimana dengan Apolos? Dia berasal dari Aleksandria. Dia fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci (Kis. 18:24). Kemungkinan besar kalau menyampaikan Firman Tuhan, Apolos lebih menarik dan komunikatif dibandingkan Rasul Paulus yang tegas dan teologis. Jemaat mempunyai masing-masing idola mereka berakibatkan perpecahan karena tidak adanya sinergi dan Rasul Paulus tidak menyukai kondisi seperti ini. 

Aplikasi: setiap dari kita dipakai Tuhan untuk melayani di pelbagai bidang pelayanan sesuai dengan talenta dan kemampuan masing-masing bukan untuk bersaing tetapi untuk bersinergi menciptakan satu kesatuan yaitu satu tubuh Kristus yang sempurna. Kita tidak boleh membanding-bandingkan pelayan pekerjaan Tuhan (dengan kelebihan dan kekurangannya) karena kita akan kehilangan fokus kepada Tuhan.  

Bagaimana pola kita bersinergi dengan sesama? 

  • Bersinergi dalam kerendahan hati (ay. 4-5).

Tanpa kerendahan hati maka sinergi dan kerja sama di antara kita tidak akan tercapai. Untuk itu kita harus memosisikan diri dalam kerendahan hati karena banyaknya pelayan di bidangnya masing-masing. Seperti Paulus dan Apolos, mereka hanyalah pelayan-pelayan Tuhan (diakonos = servants) → pelayan, pembantu yang melayani tuannya dan menjalankan tugas atas perintah tuannya. Beda dengan doulos = a slave = status hamba. 

Paulus menekankan pelayan adalah alat bagi Allah; jadi mereka bukan tokoh sentral dan tidak boleh diidolakan.  Demikian pula gembala, pendeta, pembicara adalah pelayan Tuhan yang dipakai oleh-Nya supaya orang menjadi percaya. Tuhanlah yang harus menjadi pusat perhatian kita betapapun hebatnya pemakaian Tuhan kepada hamba-Nya. Amat disayangkan kalau kita mengidolakan seorang hamba Tuhan karena tanpa sadar mendorongnya jatuh dalam kesombongan! Kenyataannya, ada hamba-hamba Tuhan yang menjadi viral dan terkenal karena branding-nya bagus lalu menjadi ajang untuk menonjolkan diri. Akankah sinergi berlaku di ladang Tuhan kalau antarhamba Tuhan saling menonjolkan diri serta mempertahankan diri tidak mau kalah? Kerja sama tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada kerendahan hati. 

Perlu diketahui pelayan (diakonos) bekerja di bawah otoritas Tuhan bukan atas kehendaknya sendiri. Untuk itu pelayan Tuhan harus taat sepenuhnya kepada otoritas Dia. 

Rendah hati adalah syarat untuk kita dapat bekerja sama karena kita tidak mencari kepentingan sendiri tetapi memerhatikan orang lain juga (Flp. 2:3-4). Kita dapat memelihara kesatuan bila kita rendah hati, lemah lembut dan sabar (Ef. 4:2-3). 

  • Bersinergi dalam peran yang berbeda (ay. 6-7). 

Pelayan Tuhan mempunyai peran sendiri-sendiri di dalam jemaat Tuhan – ada yang menanam, ada yang menyiram – tetapi yang penting ialah Allah yang memberi pertumbuhan.

Rasul Paulus memakai pola pertanian: menanam, menyiram, memelihara apalagi sekarang teknologi pertanian sudah canggih namun hanya Tuhan yang mampu memberi pertumbuhan. Sehebat-hebatnya kita melayani dengan seluruh upaya hidup kita, semua sia-sia kalau Tuhan tidak memberikan pertumbuhan! 

Perhatikan, masing-masing memiliki peran berbeda tetapi tidak ada satu peran pun boleh berdiri sendiri dan menonjol tetapi semua harus bekerja sama. Ilustrasi: dalam satu tubuh ada banyak anggota dengan beda fungsi tetapi bersinergi/bekerja sama dalam kesatuan untuk melengkapi satu sama lain (1 Kor. 12:12). Bersinergi bukan berarti semua harus sama tetapi di dalam ketidaksamaan itu peran masing-masing saling melengkapi satu dengan yang lain bukan malah bertengkar mau menonjolkan diri. Bayangkan kalau tubuh mempunyai kaki untuk berjalan tetapi tidak mempunyai mata maka akan kesandung dan nabrak sini-sana! 

  • Bersinergi sebagai rekan sekerja Allah (ay. 8-9). 

Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah kawan sekerja Allah di ladang-Nya. 

Benarkah kawan sekerja Allah hanya mereka yang masuk dalam pelayanan? Bagaimana dengan jemaat biasa yang datang ke gereja dan duduk mendengarkan Firman Tuhan? Apakah Firman Tuhan hanya diperuntukkan kepada mereka yang aktif melayani? Tidak! Tuhan menabur benih Firman ke semua tanah/ladang tidak ada yang terluput. 

Masalahnya, bagaimana kita merespons benih Firman yang ditebarkan? Sadarkah kita bahwa Tuhan sedang mengerjakan hati kita untuk diproses menjadi lebih baik? Atau kita menganggap Firman yang ditaburkan bukan untuk kita tetapi orang lain? Firman Tuhan bekerja di ladang hati siapa pun yang mendengarnya.  

Bagaimana kita mengerjakan ladang (hati)? Tentu mengerjakan ladang tidak dilakukan dengan santai dalam membajak, mencangkul, meratakan, menanam, menyiram, merawat supaya tumbuh tetapi diperlukan upaya dan jerih payah yang melelahkan. Bukankah dalam bekerja di ladang kehidupan sehari-hari juga dibutuhkan usaha keras menempuh kesulitan dan kesukaran untuk menghidupi keluarga?  

Apa pun jerih lelah dan kesulitan yang dihadapi di ladang Allah, kita adalah kawan sekerja-Nya. Artinya, Allah menjadi kawan yang membuat kita tidak merasa sendirian walau harus menjalani hidup yang berat penuh pergumulan. Dalam bekerja, kita bersinergi dengan sesama dan terutama dengan Tuhan sebagai kawan sekerja yang memberikan pertumbuhan. Ia siap menolong dan memegang kendali hidup kita. 

Introspeksi: bagaimana kondisi ladang hati dan ladang keseharian hidup kita? Apakah kita stres karena doa belum dijawab oleh Tuhan? Menghadapi pergumulan hidup yang berat bahkan jalan buntu? Jangan khawatir dan cepat putus asa, kita masih dalam proses mengolah ladang dan menunggu masa panen tiba. Memang tidak salah kita memiliki keinginan dan kehendak tetapi jangan memaksakan diri semua harus terjadi sesuai dengan waktu dan keinginan kita. Jangan mudah menyalahkan Tuhan dan mengambil kesimpulan bahwa Ia tidak bekerja dalam hidup kita!

Apa dampaknya bila kita kawan sekerja Allah? Ia tidak mungkin membiarkan kita bekerja sendiri tetapi memberikan pertumbuhan, artinya Ia akan menyelesaikan masalah hidup kita dan membuat indah pada waktu-Nya. 

Kita patut bersyukur betapapun berat dan lelahnya kita bekerja di ladang Allah, kita tidak bekerja sendirian tetapi mempunyai saudara seiman dan rekan sepelayanan yang bersinergi melewati proses menanam dan menyiram penuh air mata. Untuk dapat bersinergi dengan baik, kita harus memiliki sikap rendah hati dan menghargai sesama yang beda pelayanan. Dan ingat, kita tetap mengarahkan pengharapan kita kepada Tuhan sebagai Pemilik ladang yang memberikan pertumbuhan dan menyiapkan panen pada waktu-Nya. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Video Youtube Ibadah: