Shalom,
Kali ini Rasul Paulus berbicara tentang dua macam manusia: manusia rohani dan manusia duniawi (carnal, fleshly = daging) yaitu manusia yang belum dewasa (bhs. Yun. nepios = an infant = bayi) di dalam Kristus (ay. 1). Yang dimaksud manusia duniawi di sini ialah orang percaya di dalam jemaat Korintus tetapi masih hidup secara manusiawi (ay. 3), tidak sepenuhnya dipimpin oleh Roh. Manusia duniawi (1 Kor. 3:1) di sini beda dengan manusia duniawi (a natural man; 1 Kor. 2:14) yang tidak mengenal iman alias manusia di luar iman.
Apa ciri-ciri manusia duniawi/daging yang hidup di antara jemaat (Korintus)?
- Bayi rohani di dalam Kristus yang hidup secara manusiawi. Buktinya, kemanusiaannya muncul dalam bentuk iri hati dan perselisihan (ay. 3).
- Masih mengonsumsi susu sementara manusia rohani mengonsumsi makanan keras (ay. 2).
Perhatikan, baik susu maupun makanan keras sama-sama diperkenalkan oleh Rasul Paulus. Dengan kata lain, dari satu hamba Tuhan yang sama, dia menyampaikan “susu” juga “makanan keras”, tergantung manusia macam apa yang mendengarnya – masih “bayi” atau “sudah dewasa”.
Seorang hamba Tuhan harus dapat memilah kapan memberikan susu atau makanan keras. Ini menjadi tanggung jawabnya. Tentu tidak salah minum “susu” bahkan setiap orang percaya yang sehat wajib memulai dengan minum “susu” sebagai orang yang dilahirkan kembali oleh Firman (1 Ptr. 1:23) yang selalu ingin akan air susu yang murni supaya bertumbuh di dalam keselamatan (1 Ptr. 2:1-2).
Masalah terjadi karena jemaat Korintus yang sudah mendapat “susu” tidak bertumbuh sebab masih menginginkan “susu” tidak mau mengonsumsi makanan keras. Inti permasalahan bukan terletak pada air susu yang menyehatkan tetapi pada jemaatnya yang tidak bertumbuh.
Apa penghambat pertumbuhan (rohani) jemaat Korintus? Walau dari sudut waktu mereka seharusnya menjadi pengajar, ternyata mereka masih memerlukan susu – asas-asas pokok penyataan Allah – sehingga tidak memahami ajaran tentang kebenaran karena masih bayi (Ibr. 5:11-14).
Perlu diketahui Firman Tuhan adalah penyataan Allah kepada umat manusia. Kita tidak dapat mengenal-Nya kalau Ia tidak menyatakan diri di dalam Firman-Nya. Namun Allah adalah Pribadi yang kompleks. Bukankah manusia juga pribadi yang kompleks, buktinya kita sudah menikah puluhan tahun tetapi masih belum mengenal pasangan hidup kita sepenuhnya? Apalagi Pribadi Allah! Ia adalah Pribadi kompleks yang tidak gampang ditebak dan dimengerti dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Misal: seberapa baik Allah itu? Selain baik, Ia juga tegas di dalam kekudusan, keadilan dan kasih-Nya. Mampukah kita memahami karakter-Nya? Ilustrasi: Firman Tuhan dan penyataan-Nya bagaikan laut yang luas. Kita hanya melihat permukaan laut dari kejauhan yang tampak indah menenangkan jiwa. Kemudian kita mendekat memasukkan tangan ke dalam air dan terasa segar nan nyaman. Inilah “susu” – penyataan Tuhan sederhana yang sigap menjadi berkat bagi mereka yang mendekat dan menerimanya. Namun laut tidak berhenti hanya di permukaan, ada kedalamannya yang banyak tersimpan rahasia tersembunyi itulah pelbagai rahasia kekayaan hikmat (1 Kor. 2:7) bagaikan “makanan keras”. Kenyataannya, tidak semua orang mau menyelam ke kedalaman laut tetapi lebih suka bermain/berenang di permukaan karena lebih santai, ringan dan enak. Kalau menyelam harus menahan napas, pemandangan lebih gelap belum lagi ada tekanan. Jujur, kita enggan mendalami Firman tetapi lebih suka santai di pinggir laut, duduk di kursi pantai sambil minum es kelapa dan nonton ibadah di YouTube.
Introspeksi: maukah kita menyelam mendalami Firman Allah untuk mendapatkan “makanan keras” dalam usaha mendewasakan rohani kita?
Mengapa jemaat Korintus dan orang Kristen zaman now tidak dewasa rohani?
- Gereja hanya menyediakan menu susu melulu (ay. 2).
Memang jemaat yang baru lahir baru memerlukan “susu” itulah Firman sederhana karena akan bingung kalau diajak membahas penyataan Firman Allah yang mendalam.
“Susu” bukan hanya harus murni tetapi disajikan oleh “koki” (pembicara, pendeta) yang dewasa rohani sehingga susu murni diberikan dengan penuh tanggung jawab untuk menumbuhkan jemaat.
Masalahnya, gereja di dalam kelengahannya hanya mengajak jemaat menikmati pemandangan permukaan laut dengan memberikan “susu” saja padahal seharusnya juga mendorong mereka menyelami Firman lebih dalam untuk mengonsumsi “makanan keras”. Terkadang pendeta memberi “susu” saja karena dia sendiri hanya memiliki pengertian “susu” alias masih “bayi rohani” sehingga yang dikhotbahkan hanyalah “celotehan bayi”.
Introspeksi: sudahkah pembicara mimbar dewasa di dalam Tuhan? Kalau tidak, apa yang dikhotbahkan adalah “susu” – celotehan bayi yang terlalu sederhana. Terkadang jemaat mengomel kalau menunya cuma “susu” dan minta “susu’ diproses sedikit menjadi yogurt – tekstur beda tetapi tetap “susu”. Kalau stok susu menipis, diencerkan dicampur air, stroberi, gula agar manis sehingga apa yang dikhotbahkan terdengar manis nan lezat. Memang masih berbentuk Firman tetapi “encer dan manis”. Contoh: Firman motivasi yang mengatakan “Anda ada masalah hukum? Keuangan? Percintaan? Di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar”. Memang Firman Tuhan menjanjikan kemenangan tetapi sebenarnya hanyalah “susu encer” yang disampaikan sebagai motivasi. Lebih parah lagi kalau ditambahi “bumbu lawak” agar lebih menarik membuat jemaat tertawa. Ini pendeta atau “badut”? Alhasil, jemaat tidak bertumbuh bukan karena tidak ada Firman tetapi Firman telah “diencerkan” – dipermudah, dipermanis, dipermiskin secara rohani. Ironisnya, jemaat di gereja semacam ini makin bertambah banyak pindahan dari gereja lain. Dan kesaksian yang muncul dari mereka berupa pertolongan Tuhan karena masalah jasmani bukan kesaksian pembentukan dan keubahan hidup.
Masih lumayan kalau jemaat disuguhi “susu kental” yang terkesan praktis, cepat dan mengenyangkan tetapi amat berbahaya kalau “susu” tersebut diencerkan ditambah campuran lagi. Jemaat akan tertipu dan tidak bertumbuh rohaninya.
- Jemaat yang seleranya hanya minum susu (Ibr. 5:11-13).
Jemaat yang masih memerlukan susu tidak memahami/berpengalaman dengan Firman kebenaran sebab dia masih bayi. Sebenarnya jemaat ini sudah waktunya maju/move on tetapi masih perlu susu karena dibiasakan/terbiasa minum susu. Mereka termasuk orang percaya lama tetapi terikat dengan makanan favoritnya yaitu susu tidak mau digantikan menu lain.
Apa ciri-ciri jemaat yang seleranya “susu”? Menyukai Firman Tuhan yang enak didengar, singkat, mudah dimengerti, lucu, seru dan tidak perlu menggunakan otak untuk berpikir keras. Sebaliknya, kalau mendengarkan “makanan keras”, mereka mengomel sulit dipahami, teorinya tingkat tinggi serta menggunakan bahasa “setengah dewa”. Kita harus menghargai Firman baik yang ringan/sederhana maupun yang berat/mendalam karena Firman itu berkuasa. Mereka yang tidak terbiasa diajak berpikir lebih mendalam akan menolak “makanan keras” dengan alasan otaknya tidak kuat mencernanya.
- Tidak melakukan – memakan/meminum – susu itu dengan baik.
Inilah masalah utama yang menghambat orang percaya menjadi dewasa rohani. Yesus sendiri mengakui makanan-Nya ialah melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya (Yoh. 4:34).
Masalah yang paling mengerikan ialah susu sudah disediakan tetapi kita tidak meminumnya. Firman Tuhan adalah makanan sesungguhnya yang menjadi nutrisi dan kekuatan ketika Firman itu dilakukan. Waspada, Firman yang berhenti sebatas didengar akan sekadar menjadi informasi tetapi kalau dilakukan, Firman tersebut menjadi transformasi bagi kita.
Introspeksi: sudahkah kita melakukan – meminum – susu itu dengan benar untuk menjadi makanan bagi kita? Firman Tuhan bukan hanya untuk didengar, ditumpuk, ditaruh dalam “botol susu” untuk dikoleksi tetapi harus dilakukan menjadi makanan bernutrisi bagi tubuh kita. Itu sebabnya penulis Yakobus mengingatkan agar membuang semua kejahatan, menerima Firman yang tertanam di dalam hati dan menjadi pelaku Firman bukan hanya pendengar (Yak. 1:21-22). Orang yang hanya mendengar Firman dan tidak melakukannya sama seperti mengamat-amati mukanya di depan cermin (ada yang perlu dibenahi) kemudian pergi dan segera lupa bagaimana rupanya (ay. 223-24) juga cermin Firman ditinggal begitu saja tanpa ada gunanya. Namun siapa mendengarkan Firman dan melakukannya ia akan berbahagia oleh perbuatannya (ay. 25). Baik “susu” maupun “makanan keras” akan menjadi nutrisi jika dilakukan. “Makanan keras” bagi orang dewasa yang pancaindranya terlatih untuk membedakan yang baik dari yang jahat (Ibr. 5:14). Terlatih artinya pernah dipakai dan dipakai terus-menerus sehingga persepsinya terlatih dan berpengalaman untuk dapat memisahkan yang baik dan yang jahat. Ringkasnya, orang yang dewasa rohani terbiasa mempraktikkan Firman Tuhan.
Yesus sendiri mengatakan, “Akulah roti hidup....barangsiapa makan (gnaw = munch =mengunyah) daging-Ku...” (Yoh. 6:48,56) Kata “makan” bukan makanan masuk mulut lalu ditelan tetapi harus dikunyah sebab makanan Firmannya padat dan keras. Biasakan setelah mendengar Firman Tuhan (yang keras sehingga tidak dimengerti) di gereja, kita “kunyah” – berdiskusi – bersama istri dan anak di rumah.
Aplikasi: hendaknya kita memanfaatkan waktu mendengarkan/merenungkan Firman dan melakukannya seperti diperbuat oleh Zakheus. Dia memanfaatkan waktu sekelebat ketika Yesus mengatakan, “Zakheus segeralah turun sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk. 19:5) Perkataan/Firman yang sepenggal ini membuatnya bertobat dan berbahagia karena melakukan Firman dengan memberikan setengah hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan 4 kali lipat kepada mereka yang telah diperasnya (ay. 8). Demikian pula dengan sida-sida Etiopia yang membaca kitab nabi Yesaya namun tidak mengerti lalu diterangkan oleh Filipus. Begitu percaya dengan segenap hati dia minta dibaptis ketika melihat ada air lalu melanjutkan perjalanan dengan sukacita (Kis. 8:28-39). Sungguh kita akan bersukacita jika melakukan Firman Tuhan!
Gereja tidak hanya menyediakan susu tetapi dengan berani dan lantang memberitakan “makanan keras” walau berisiko ditinggalkan seperti dilakukan oleh murid-murid Yesus ketika mendengar perkataan Yesus yang keras kemudian mereka meninggalkan Dia (Yoh. 6:60,66).
Sudahkah kita melakukan Firman Tuhan yang kita kumpulkan dan timbun di pikiran selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun beribadah? Misal: kita melakukan perintah Tuhan untuk mengampuni seseorang, memberi mereka yang kekurangan, tetap jujur walau dalam kesulitan uang dst.
Jelas sekarang, semua orang Kristen dimulai dari mengonsumsi “susu” itulah Injil sederhana sebagai Firman dasar yang mengungkapkan asas-asas pokok penyataan Allah. Setelah memahami kebenaran Firman ini harus move on dengan meng-upgrade diri agar bertumbuh di dalam keselamatan dengan mengonsumsi “makanan keras” – Firman Allah yang lebih detail dan mendalam – untuk pendewasaan rohani.
Tantangan yang dihadapi gereja hari ini bukan karena kurangnya Firman tetapi kurangnya ketaatan pada Firman. Mari kita mempersilakan Firman Tuhan mengubah pola pikir dan pandangan hidup kita untuk segera melakukan Firman tanpa menunda-nunda maka kita akan bersukacita penuh. Amin.