• SALAM PERSEKUTUAN
  • 1 Korintus 1:1-3
  • Lemah Putro
  • 2026-01-18
  • Pdm. Eko Wahyudiono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
salam-persekutuan

Shalom,  

Perlu diketahui kota Korintus memiliki pelabuhan besar dengan perdagangan yang ramai. Di sana tempat meleburnya aneka ragam budaya dan etnis yang berasal dari orang-orang di seluruh dunia menciptakan perpaduan budaya internasional pada waktu itu.

Dengan meleburnya berbagai budaya, kota Korintus secara moral mengalami degradasi. Standar moralnya merosot sedemikian dalam menimbulkan kebejatan yang luar biasa. Jemaat Korintus yang berusaha hidup dalam kekudusan sangatlah tertekan bahkan sebagian besar terpengaruh sehingga menjalani praktik hidup amoral. Tidak itu saja, timbul perpecahan karena mereka mengidolakan pemimpin rohani, ada sengketa hukum (mencari keadilan kepada orang yang tidak beriman); percabulan di dalam gereja, penyimpangan seks, nikah yang berantakan, penyembahan berhala, persoalan mengenai tudung, kebiasaan perjamuan kudus yang salah, ribut persoalan karunia rohani. Singkatnya, kondisi jemaat Korintus ibarat orang yang sakit komplikasi akut nan kronis. 

Tulisan Rasul Paulus menjadi peringatan bagi gereja Tuhan di akhir zaman ini untuk tidak heran adanya perpecahan antarhamba Tuhan karena persengketaan ini sudah ada dari dahulu. Mirisnya kalau perselisihan ini masuk ke ranah hukum, sungguh tidak menjadi kesaksian dan mempermalukan Tubuh Kristus! Kiranya kondisi jemaat Korintus yang memprihatinkan ini tidak terjadi di dalam gereja kita saat ini. Andaikan ada, cepat lakukan tindakan pemberesan!

Tujuan Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus juga kepada orang-orang yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dalam bentuk arahan, nasihat maupun teguran ialah agar mereka (juga kita) tahu bagaimana seharusnya orang percaya dan beriman menjalankan perannya untuk tetap hidup dalam kekudusan di tengah kemerosotan moral yang ada. Rasul Paulus memberikan teladan bagaimana seorang hamba Tuhan peka dan berani memberikan nasihat bahkan teguran terhadap kekeliruan dan ketidakberesan di dalam jemaat. Siapa pun dari kita yang berposisikan sebagai pemimpin rohani yang didaulat dan dipercaya untuk memimpin kelompok besar atau kecil harus memiliki kepekaan untuk melihat dan mendengar serta berani meluruskan segala sesuatu yang tidak beres. Jujur, ini bukan pekerjaan mudah untuk menegur dan meningatkan seseorang yang hidup dalam perselisihan atau percabulan. 

Sebelum menasihati atau menegur, Rasul Paulus mengawali dan menulis kata pendahuluan “salam”. Apa arti dari salam? Salam merupakan kata sapaan untuk mengakui kehadiran orang lain dalam hubungan sosial. 

Apa makna salam yang disampaikan oleh Rasul Paulus?

Kata “salam” mengandung ungkapan doa, harapan dan pengakuan untuk sepakat dalam keselamatan dan kesejahteraan bersama. Salam dapat diungkapkan dalam bentuk tulisan, lisan atau gerakan yang dilakukan pada olahraga tertentu seperti bela diri dll. dengan maksud si pemberi salam dan penerima salam sepakat, seia sekata dalam doa mengharapkan terjadinya sesuatu yang baik. Oleh sebab itu ucapkan salam dengan sungguh-sungguh dan serius sebab mengandung doa di dalamnya. Salam yang benar akan membuka peluang lebih lanjut; sebaliknya salam yang salah akan sulit membuka pintu komunikasi berikutnya.

Jadi apa makna “Salam Persekutuan”? Persekutuan (= koinonia) artinya kebersamaan. Salam dari Rasul Paulus bermakna agar terjadi sebuah kesatuan yang dibentuk bukan karena upaya manusia tetapi karena panggilan kasih karunia di dalam Kristus untuk hidup menjadi satu saudara di dalam kekudusan. 

Rasul Paulus menyebut Sostenes sebagai “saudara kita” walau mungkin tidak ada hubungan darah. Paulus menekankan bahwa semua orang beriman adalah bagian dari kesatuan keluarga Allah.

Paulus juga menulis “mereka yang berseru kepada Nama Tuhan kita Yesus Kristus yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” maksudnya, “Kalau Tuhan mereka sama dengan Tuhan kita maka kita bersaudara”. Bukankah kita menjadi saudara seiman karena kita ditebus oleh darah Kristus yang sama? Kalau kita bersaudara, tidak boleh ada perpecahan di antara kita.

‘Saudara” berasal dari bahasa Sanskerta “sahodara” → Saha = bersama; udara = perut/rahim. Jadi, saudara berarti bersama dalam satu perut/rahim. Kata “saudara” merujuk pada kata “sedarah” maksudnya orang yang dilahirkan dari satu perut/rahim, dari satu darah yang sama. Ketahuilah kita dilahirkan kembali oleh darah Kristus maka kita bersaudara di dalam Tuhan. 

Kalau begitu apa pentingnya persekutuan dalam berjemaat? 

  • Mempersatukan untuk menghindari perpecahan (ay. 10).

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir....”

Jemaat yang terdiri dari sekumpulan orang dengan latar belakang aneka ragam seperti: pedagang, orang kaya, pekerja kelas menengah, buruh pelabuhan, petobat baru, jemaat Yahudi dan Yunani, mantan pelacur bakti menimbulkan potensi perpecahan di dalamnya. Untuk itu Paulus menekankan adanya persekutuan dan kesatuan Roh – seia sekata, sehati dan sepikir – dengan pertolongan Tuhan.

Mengapa terjadi perpecahan? Orang-orang mengelompokkan diri berdasarkan pemimpin favorit mereka seperti: Apolos, Paulus, Kefas, Kristus (ay. 11). Karena belum ada Alkitab fisik saat mendengar Firman Tuhan, mereka mendengarkan khotbah dari pembicara yang beda-beda. Sebenarnya ini tidak masalah ketika mereka memberikan penghormatan dan penghargaan kepada pengkhotbah. Namun menjadi salah ketika mereka memberi penghormatan berlebihan sampai pada pengidolaan dan pengultusan. Misal: ada yang mengidolakan Paulus, pendiri jemaat di Korintus, yang memiliki pengajaran teologi dalam dan mampu menjelaskan dengan retorika kuat menekankan kasih karunia keselamatan dan salib. Berbeda dengan Apolos yang sangat fasih lidah sehingga khotbahnya sangat dinamis dan cakap menjelaskan iman Kristen dengan kemampuan logika. Cocok bagi orang-orang Yunani yang cerdas dan suka filsafat. Ada pula yang mengidolakan Petrus karena dianggap mempunyai histori sebagai murid langsung dari Yesus maka pengajarannya dianggap paling murni/asli. Masalahnya terletak bagaimana jemaat mengukur pemimpin rohani dengan kriteria: pintar, lugas, fasih bicara dsb. Mereka mengganti Kristus yang seharusnya menjadi pusat perhatian bukan sosok manusia. Padahal tiga tokoh pembicara ini menyampaikan pesan sama yakni tentang kasih karunia, keselamatan, anugerah, iman, pengharapan dll. Dengan kata lain beritanya sama hanya cara penyampaiannya berbeda.

Aplikasi: kita patut menghargai setiap pembicara khotbah dengan cara penyampaian yang berbeda-beda tetapi harus lebih fokus pada isi pemberitaan Firman ketimbang pengkhotbahnya. Mereka beroleh kemurahan dan kepercayaan untuk melakukan tugas pelayanan namun mereka tetaplah manusia yang tidak boleh dikultuskan. Tuhan harus lebih penting daripada sosok figur manusia yang kita kagumi.

Kesaksian Pembicara: beliau sama sekali tidak memenuhi kriteria menjadi pengkhotbah melayani Tuhan. Tidak mempunyai karunia mengajar, menginjil, berkhotbah, karunia mukjizat; yang paling dominan ialah karunia administrasi dan berdoa. Hanya oleh karena kasih karunia dan kepercayaan, Beliau dapat memberitakan Firman Tuhan untuk tidak disia-siakan di tengah orang-orang yang lebih pintar dan lebih berpengalaman.

Waspada, perpecahan menghambat kesaksian. Jika kita mempunyai pemimpin-pemimpin favorit dan mengidolakannya, ini akan menghambat kesaksian karena di dalamnya ada perpecahan. Ingat zaman sudah berubah – setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya. Jika masanya sudah berlalu dan Tuhan memunculkan pemimpin baru, kita harus tetap seia sekata, sehati, sepikir untuk senantiasa menjaga kesatuan dalam melayani Tuhan karena kita bersaudara di dalam Dia. 

  • Mencerminkan sifat tubuh Kristus (1 Kor. 12:12)

“Karena seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu sekalipun banyak merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”

Paulus menggunakan metafora tubuh manusia untuk menggambarkan gereja. Dari sudut pandang surat Korintus, kesatuan sangatlah penting dalam melayani Kristus karena jemaat adalah satu tubuh yang terdiri dari banyak ragam anggota namun semua saling membutuhkan, saling terkait, saling berhubungan, dan bekerja sama untuk satu tujuan menjadi gereja yang Am dengan sasaran terakhir menjadi Mempelai Kristus.

Perlu diketahui Tubuh Kristus mempunyai keanekaragaman fungsi, misal: fungsi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, tangan untuk mengambil dan memegang, kaki untuk berjalan dst. Masing-masing melakukan peran sesuai fungsinya dan tidak boleh ada iri hati. Demikian pula anggota Tubuh Kristus memiliki tugas dan fungsi sesuai dengan karunianya masing-masing, misal: mulut bernyanyi memuji Tuhan dan menyaksikan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar; telinga peka mendengarkan keluhan seseorang, kaki berjalan memberitakan Injil keselamatan dll. Walau berbeda peran dan fungsi, mereka saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain serta saling melengkapi. Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil untuk kemudian merendahkan anggota tubuh yang lain.

Cerminan sifat tubuh Kristus juga terlihat dari adanya empati dan kepedulian. Tubuh Kristus yang sejati dapat merasakan kalau anggota tubuh yang lain dalam kondisi lemah atau kesakitan. Semua saling terkait ketika satu anggota tubuh tersakiti yang lain turut merasakan penderitaan.  

Kini kita mengerti pentingnya salam persekutuan sebab mempersatukan satu sama lain untuk menghindari perpecahan juga mencerminkan sifat Tubuh Kristus. Selain itu kita akan menjadi kesaksian bagi dunia serta kuat di dalam pelayanan saat menantikan kedatangan Tuhan. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: