Shalom,
Dapatkah orang yang menyanyi dalam ibadah dikategorikan sebagai orang yang memuji Tuhan? Belum tentu! Mungkin saja orang itu menyanyikan lagu rohani sebab dia dipaksa untuk menyanyi atau hafal lirik lagunya atau sekadar menyanyi di bibir tetapi hatinya jauh dari Tuhan seperti dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat (Mat. 15:8-9).
Kalau begitu bagaimana memuji Tuhan yang benar agar diperkenan oleh-Nya?
- Semua ciptaan-Nya memuji Tuhan sebab Ia mahakuasa (ay. 1-6).
“Pujilah Tuhan, Haleluya!” merupakan kalimat perintah/imperatif bukan sekadar ajakan yang boleh dilakukan atau diabaikan. Suatu perintah membutuhkan ketaatan dan penundukan. Jadi, kita harus memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap kapasitas yang Tuhan berikan, bukan asal menyanyi.
Heran, para malaikat juga diperintahkan untuk memuji Tuhan (ay. 2) bahkan matahari, bulan, bintang, langit juga diminta untuk memuji Dia (ay. 3-4). Sejak kapan malaikat di Surga memuji Tuhan? Di momen kelahiran Yesus di Betlehem, bala tentara Surga memuji Allah (Luk. 2:8-14). Berita kelahiran seorang Juru Selamat dunia diumumkan langsung dari Surga di mana para malaikat memuji dan memuliakan Tuhan.
Semua yang di atas – Surga, langit, matahari, bulan, bintang memuji Tuhan sebab Dia yang memberi perintah untuk ditaati adalah mahakuasa. Ia berkuasa di dalam Firman-Nya. Buktinya, Firman berkuasa menciptakan langit bumi dan segala isinya di awal penciptaan (Kej. 1).
Jelas Firman yang disampaikan-Nya tidak akan kembali dengan sia-sia. Firman-Nya berkuasa mendirikan alam semesta (ay. 6) hingga hari ini alam semesta berputar sesuai dengan orbitnya seperti matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di belahan bumi bagian barat; rotasi bumi tetap tertib dst. Alam semesta berada di dalam kendali-Nya, buktinya Yesus menenangkan angin ribut saat Ia bersama murid-murid-Nya berada di dalam perahu di Danau Galilea (Mat. 8:23-27).
Terbukti Tuhan yang mencipta tidak meninggalkan benda-benda ciptaan-Nya tetapi menopang dan memeliharanya. Oleh sebab itu alam semesta memuji dan memuliakan Tuhan, Sang Pencipta. Sayang, ada sebagian orang yang tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan lewat ciptaan-Nya padahal ini merupakan penyataan Tuhan secara umum untuk membuktikan Ia hadir di dalam karya ciptaan-Nya.
Introspeksi: sudahkah kita memuji Tuhan dan menghargai Firman-Nya walau dalam bentuk teguran untuk mengoreksi kesalahan kita? Jangan hanya memuji Tuhan dan mengucap syukur karena Firman-Nya memberitakan berkat (jasmani) tetapi menolak teguran-Nya!
- Semua ciptaan-Nya memuji Tuhan sebab Nama-Nya mulia adanya (ay. 7-14).
Tidak hanya benda-benda di atas (langit, matahari, bintang, bulan) yang memuji Tuhan, bumi juga diperintahkan untuk memuji Tuhan. Siapa yang berada di bumi? Di mana pun, kapan pun, bagaimana pun kondisinya, kita tidak lepas dari perintah untuk memuji Tuhan. Oleh sebab itu kita harus menghargai Firman Tuhan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh dan berkuasa menyelamatkan kita. Kita dapat pula memuji kebesaran Tuhan ketika melihat betapa indah dan hebatnya alam semesta serta tumbuh-tumbuhan, hewan dll. yang diciptakan oleh-Nya juga.
Perhatikan, memuji Tuhan bukan berarti kita berteriak-teriak di luar tetapi kita dapat melakukannya di dalam hati dan pikiran kita. Kata kerja 'pujilah' (bhs. Ibr.: halal = praise, shine, boast = memuji, memuliakan, membesarkan). Waspada, pada hari-hari terakhir manusia tidak membesarkan Tuhan tetapi memuliakan (membual, menyombongkan) diri sendiri (2 Tim. 3:1-2). Buktinya, banyak orang flexing (memamerkan harta benda, rumah mewah, travelling keliling dunia dll.) yang bermunculan di sosial media. Sesungguhnya, membesarkan diri sama dengan melawan sikap memuji Tuhan (Yer. 9:24). Sebaliknya, kita harus membesarkan Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran-Nya. Tahukah manusia diciptakan dan tinggal di bumi dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan (Yes. 43:7)?
Siapa lagi yang memuji Tuhan?
-
- Ular naga, samudera raya, api, hujan es, salju, kabut, angin badai (ay. 7-8) → berbicara tentang kekuatan serta kedahsyatan alam tetapi mereka semua tunduk kepada Tuhan dan memuliakan Nama-Nya.
- Gunung, bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras (untuk bahan bangunan), binatang liar, binatang melata, burung-burung bersayap dll. (ay. 9-10) tunduk kepada Tuhan dan memuliakan Nama-Nya.
- Raja-raja di bumi, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia yang memegang kedudukan tinggi (ay. 11). Apa pun status dan kedudukan yang kita miliki, kita tidak lepas dari memuji Tuhan.
- Teruna dan anak-anak dara → berbicara tentang kekuatan.
Orang tua → berbicara tentang pengalaman.
Singkatnya, kekuatan dan kedahsyatan alam, kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kaya pengalaman tetap harus memuliakan Tuhan.
“Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit” (ay. 13).
Berbicara tentang nama, ada satu peristiwa dalam sejarah peradaban manusia setelah mereka mengalami kejatuhan yakni mereka mau membuat nama untuk diri sendiri (make a name for ourselves) lalu mendirikan sebuah kota dengan menara Babel yang puncaknya sampai ke langit (Kej. 11:1-9). Alasan mereka mendirikan menara Babel ialah agar tidak terserak ke mana-mana tetapi tetap tinggal di satu tempat padahal Tuhan memerintahkan manusia untuk beranakcucu memenuhi bumi (Kej. 1:28). Tindakan mereka melawan ketetapan Tuhan berakibat Ia mengacaubalaukan bahasa mereka serta menyerakkan mereka ke seluruh bumi (ay.7-8).
Perhatikan, Nama TUHAN adalah menara yang kuat di mana kita lari ke sana untuk mendapatkan keselamatan (Ams. 18:10). Ternyata ada dua menara: (1) menara Babel yang berakhir dengan kekacauan dan (2) Nama Tuhan yang membawa keselamatan. Nama di Perjanjian Lama ini digenapi di dalam Yesus Kristus, Nama yang menyelamatkan manusia berdosa (Mat. 1:18-21) .
“Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!” (ay. 14)
“Tanduk” berbicara tentang kekuatan dan keselamatan (Mzm. 18:3). Kalau Ia telah memberikan keselamatan kepada kita, alasan apa lagi yang membuat kita tidak mau memuji Tuhan?
Aplikasi: hendaknya kita meningkatkan cara memuji Tuhan dengan penuh kesungguhan hati sebab Tuhan yang kita sembah ialah Tuhan yang mahakuasa. Kita juga lebih menghargai Firman Tuhan yang kita terima sebab Firman tersebut berkuasa mencipta, menopang dan memelihara kita. Ingat, sebesar dan seberat apa pun permasalahan kita, Firman Tuhan mampu menyelesaikannya asal kita percaya dan menaatinya.
Marilah kita memuji Tuhan dengan segenap hati dan penuh kesadaran oleh sebab Ia mahakuasa dan patut mengagungkan Nama-Nya yang berkuasa menyelamatkan kita dari ancaman hukuman mati kekal akibat dosa. Ia juga menopang dan memelihara hidup kita hingga satu kali kelak bersanding bersama Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin.