• ALLAH YANG BESAR DAN DEKAT
  • Mazmur 147
  • Johor
  • 2025-12-07
  • Pdm. Eko Wahyudiono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
allah_yang_besar_dan_dekat

Shalom, 

Kita patut bersyukur atas kemurahan Tuhan yang memberikan kesehatan dan kekuatan kepada kita juga kesempatan untuk boleh beribadah memuji dan memuliakan Nama Tuhan karena di luar sana masih banyak saudara kita yang belum seberuntung kita. Mereka rindu beribadah tetapi tidak dapat melakukannya karena kediamannya dilanda banjir besar seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dll. Ada pula yang rindu beribadah dan merayakan Natal tetapi mereka tidak mendapat kesempatan karena dipersulit, dipersekusi, diteror, bahkan ada yang dibunuh secara massal. Oleh sebab itu kita patut bersyukur dan memanfaatkan kesempatan selagi masih ada waktu karena akan tiba saatnya orang kelaparan akan Firman Tuhan (Am. 8:11). 

Kita mempelajari lebih jauh tentang Mazmur 147 yang termasuk Mazmur Halelulya karena ciri khasnya diawali dan diakhiri dengan kata Haleluya (“halelu”: pujilah/memuji dan “yah” singkatan dari “Yahweh” atau TUHAN). Secara hurufiah kata “haleluyah” berarti pujilah Tuhan atau ajakan untuk memuji Tuhan. Apa yang dipuji? Kebesaran, keagungan dan kemuliaan Tuhan. 

Sebesar dan sedekat apa Allah itu hingga Ia layak untuk dipuji? Besar-kecil, jauh-dekat ditentukan oleh alat ukur dan ada pembandingnya. Bagaimana kita mengetahui Allah itu besar? Bukankah Allah adalah Roh yang tidak berwujud lahiriah, bukan sosok jasmani yang dapat disentuh dan diraba sehingga kita tidak dapat menggambarkan dan mengukur kebesaran-Nya? Kita mengetahui kebesaran Allah dengan melihat karya-Nya di alam semesta. Jadi, kebesaran dan kedekatan Allah tidak dapat diidentifikasi berdasarkan diameter fisik melainkan dari aspek keberadaan, kehadiran dan sifat keilahian-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan oleh Allah dapat menjadi pembanding atau diserupakan dengan kebesaran-Nya. 

Lalu bagaimana pemazmur menggambarkan kebesaran dan kedekatan Allah? Ia mahakuasa, tidak terlihat, tidak terjangkau dan jauh di atas pemikiran kita alias transenden. Namun Ia juga imanen yang dekat, hadir dan terlibat dalam ciptaan-Nya. Ia hadir memelihara dan berinteraksi langsung dengan ciptaan-Nya. Singkatnya Allah itu jauh/transenden sekaligus dekat/imanen.

Apa alasan pemazmur mengatakan kebesaran dan kedekatan Allah? 

  • Terlihat dari kuasa-Nya dalam memulihkan suatu bangsa yang besar sekaligus perorangan/personal (ay. 2-6). 
    Ayat-ayat ini diduga ditulis pascapembuangan dari Babel di mana Allah membangun kembali Yerusalem dan mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai.

Pemazmur menyatakan bahwa Allah itu mahakuasa (omnipotent) ditunjukkan dengan bagaimana Ia membawa Israel keluar dari pembuangan Babel. Sebelumnya Allah telah membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju Kanaan. Akibat ketidaktaatan, mereka dibuang lagi selama 70 tahun di Babel. Semua ini hanya dapat dilakukan oleh Allah dengan kuasa-Nya yang besar. Selain mengumpulkan bangsa yang tercerai berai, Ia juga membalut luka hati dan ini bersifat personal/pribadi. Allah tidak hanya memerhatikan bangsa yang besar tetapi sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Ini menunjukkan hubungan yang dekat; Ia Allah yang besar tetapi juga dekat hingga mampu menyembuhkan setiap hati yang luka. 

Selain omnipotent, Allah juga berhikmat alias berpengetahuan luar biasa (omniscient) buktinya Ia mampu menentukan jumlah bintang dan menyebut nama mereka semuanya padahal jumlahnya triliunan. 

  • Terlihat dari kuasa-Nya yang mengatur alam semesta dan memelihara kelangsungan makhluk ciptaan-Nya (ay. 7-11).  
    Dalam mengatur cara memelihara makhluk ciptaan-Nya, Allah dengan hikmat-Nya menciptakan sebuah sistem yakni siklus terjadinya hujan untuk menumbuhkan makanan di bumi. Ia mengatur hujan jatuh ke bumi, menyuburkan tanah-tanah sehingga tumbuh tanaman dan pepohonan dengan buah-buahan untuk dimakan oleh manusia maupun hewan. Ternyata sebelum ilmu pengetahuan membuat teori tentang bagaimana hujan itu turun, Alkitab sudah mengatakannya. Artinya, seusai menciptakan, Allah mengatur dengan sistem sangat sempurna demi pemeliharaan dan kelangsungan makhluk ciptaan-Nya. Contoh: Allah memberi makan anak burung gagak padahal burung ini termasuk daftar binatang haram. Bahkan beberapa mitologi budaya tertentu menganggap burung ini membawa aura kematian tetapi Allah peduli dan memeliharanya. Kalau Allah memelihara makhluk ciptaan-Nya seburuk apa pun, terlebih kita yang menjadi umat kesayangan-Nya. 

Ironis, Allah begitu peduli pada anak burung gagak tetapi tidak suka kepada kegagahan kuda dan tidak senang kepada kaki laki-laki (ay. 10). Bukankah kuda dan manusia juga ciptaan-Nya? Kiranya dapat dipahami konteks struktur bahasa puisi Ibrani, ini tidak berarti Allah membenci kuda dan kaki laki-laki. Pada masa itu kuda yang gagah dan kaki laki-laki yang kuat merujuk pada kekuatan militer untuk berperang. Kuda yang gagah dan laki-laki yang kuat merupakan pasukan kalaveri dan artileri yang paling dibanggakan serta diandalkan oleh kerajaan Israel maupun bangsa-bangsa lain di luar Israel. Dengan kata lain, ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk menunjukkan kebesaran-Nya dalam menolong umat-Nya. Ia tidak mencari kekuatan dan kehebatan manusia sebagai dasar untuk memilih seseorang. Ia dapat memakai siapa pun walau memiliki kesan negatif (seperti anak burung gagak) untuk menyatakan kemuliaan-Nya asal takut kepada-Nya dan berharap akan kasih setia-Nya (ay. 11).

Heran, burung gagak yang terkesan negatif dapat dipakai Allah karena mau menjalankan peran, buktinya:

    • Dalam peristiwa air bah untuk menenggelamkan bumi akibat pehukuman Allah, burung gagak dilepas terbang ketika air surut tetapi karena tidak menemukan tempat maka dia kembali (Kej. 8:7). Burung gagak ini selamat karena dia tinggal di dalam bahtera. 
      Aplikasi: kita yang diselamatkan oleh kasih karunia harus mengambil peran dan kesempatan untuk mau tinggal di dalam bahtera penggembalaan itulah gereja supaya kita tetap terpelihara sempurna. 
    • Ketika Israel mengalami masa kelaparan, Elia tinggal di tepi Sungai Kerit dan Tuhan mengirim burung gagak pagi dan petang membawa roti dan daging kepadanya (1 Raja 17:1-6). Tahukah sifat burung gagak sebenarnya rakus dan tidak mau berbagi? Namun dari pengalaman dengan Nabi Elia, ternyata burung gagak bisa juga berbagi berarti dia dapat menjalankan perannya dengan baik.
      Aplikasi: ketika Tuhan mengizinkan kita melayani Dia, jalankan peran kita (sekecil apa pun) dengan baik karena Tuhan akan memperhitungkannya! Juga percayalah bahwa hidup kita ada di dalam pemeliharaan Tuhan asal kita hidup takut akan Dia dan berharap akan kasih setia-Nya. 
  • Terlihat dari kuasa-Nya dalam melindungi, memberkati, bahkan mengendalikan fenomena alam dengan kekuatan Firman-Nya (ay. 12–20). 
    Beda dengan dewa-dewa yang memiliki fungsi sendiri-sendiri (mis: dewa kemakmuran, dewa kecerdasan, dewa kesuburan, dewa perang dll.) tetapi Allah kita menciptakan, melindungi, memelihara, mengatur, memberkati dst. Semua dikerjakan oleh Allah yang satu ini. Itu sebabnya sudah selayaknya kita memegahkan Allah karena alasannya  benar-benar nyata terlihat dari sejarah yang dicatat di dalam Alkitab. 

“Meneguhkan palang pintu gerbang” berbicara tentang berkat perlindungan. Pada zaman Israel, hampir semua kota kerajaannya dilindungi oleh benteng agar tidak mudah ditembus oleh musuh. Satu-satunya akses keluar masuk ialah melalui pintu gerbang. Kalau pintu gerbangnya kuat penduduknya akan aman. Sebaliknya, kalau pintu gerbangnya tidak kuat, musuh akan mudah masuk dan menyerang. 

Namun Allah menjadi pelindung dari segala serangan musuh bahkan memberkati pertumbuhan keturunan dari generasi ke generasi (ay. 13) juga memberikan kesejahteraan (ketenteraman, kedamaian, keamanan) kepada daerah serta mengenyangkan dengan gandum yang terbaik. Artinya, Tuhan melimpahi berkat jasmani dan rohani.

Tahukah ketika Ia menyampaikan perintah-Nya kebumi; dengan segera Firman-Nya berlari (ay. 15)? Ini menunjukkan kekuatan dan otoritas kedaulatan Allah di mana Firman yang disampaikan segera berlari artinya tidak berlambat-lambat. Ketika Allah berfirman, alam semesta merespons dengan cepat tidak berlambat-lambat atau ditunda-tunda. 

Juga fenomena alam tidak terjadi secara kebetulan (ay. 16) tetapi masing-masing musim sudah diatur oleh Tuhan. Sungguh besar karya tangan Allah yang berkuasa mengendalikan siklus alam dengan sempurna – cuaca, iklim, musim dll. tunduk pada perintah-Nya. 

Dan akhirnya “Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. (ay. 19) Ini menegaskan bahwa Firman yang diberitakan itu suatu perintah dan ketetapan yang ditujukan kepada keturunan Yakub. Ternyata Tuhan tidak hanya memberkati secara jasmani tetapi juga berkat rohani yang diberikan khusus kepada Israel tidak kepada segala bangsa. Jelas Israel dipilih Allah bukan karena keistimewaan atau kehebatannya tetapi mereka dipilih untuk menyatakan kebesaran Allah bagi bangsa-bangsa lain. Jadi kalau di luar ada nabi lain dari bangsa lain, jangan cepat percaya karena pewahyuan Allah hanya diberikan kepada bangsa Israel! Buktinya Allah mengosongkan diri-Nya menjadi manusia Yesus melalui Israel untuk menyelamatkan manusia berdosa. 

Kini kita tahu bahwa Allah yang besar dan mulia juga dekat pada kita yang dapat dirasakan melalui pemulihan hidup kita yang dahulu kacau berantakan, pemeliharaan dan perlindungan dari-Nya melalui pengendalian fenomana alam juga otoritas Firman-Nya yang memilih kita, umat Israel rohani, untuk menyatakan kebesaran dan keagungan Tuhan kepada mereka yang belum/tidak mengenal Dia agar mereka juga takut kepada-Nya dan berharap pada kasih setia-Nya untuk beroleh keselamatan kekal di dalam Dia. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: