• TUHAN SATU-SATUNYA TEMPAT PERLINDUNGAN
  • Mazmur 142
  • Johor
  • 2025-10-26
  • Pdm. Mario Gani
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
tuhan_satu_satunya_tempat_perlindungan

Shalom, 

Yakinkah kita bahwa “Tuhan satu-satunya tempat perlindungan” atau sekadar kata-kata klise yang sering kita dengar dari pembicara atau kesaksian di gereja? Jangan-jangan dalam keseharian hidup saat beratnya penderitaan juga hektiknya kesibukan, kita lupa berdoa dan lebih cepat mengandalkan logika, kepandaian, pengalaman, harta, koneksi atau berlindung pada “orang-orang kuat” ketimbang lari kepada Tuhan?  

Kita mau belajar dari pengalaman Daud – seorang raja yang kaya raya dan mempunyai kekuasaan tinggi tetapi dia menomorsatukan Tuhan sementara yang lain-lain itu hanya pelengkap saja. Apa yang dilakukannya saat menghadapi pencobaan berat?

Mazmur 142 berupa nyanyian pengajaran yakni puisi mengandung pengajaran, kebijaksanaan dan hikmat berdasarkan pengalaman Daud dengan iman luar biasa dapat menjadi berkat bagi orang-orang yang menyanyikan mazmur ini. Nyanyian ini menuntun umat untuk belajar bersandar penuh kepada Tuhan. 

Bagaimana mungkin Daud mampu mencintai Firman Tuhan dan begitu dekat dengan Tuhan? Bahkan sebelum melakukan sesuatu selalu bertanya kepada Tuhan? Semua ini tidak terjadi begitu saja tetapi melalui proses yang harus dialaminya. Proses seperti apa itu?

Mengalami peristiwa gua - ayat 1 “....ketika ia ada di dalam gua” - yang merujuk pada kisah penderitaan panjang nan berat dikejar-kejar oleh Saul dan pasukannya untuk dibunuh (1 Sam. 22, 24). Diperkirakan Daud menjadi buronan selama ± 10 tahun. Tentu tidak mudah terus bersembunyi menghindari kejaran orang berkuasa yang mempunyai mata-mata di mana-mana padahal Daud tidak melakukan kesalahan tetapi semua ini karena Saul iri hati kepadanya.

Mengapa Tuhan mengizinkan Daud mengalami penderitaan bertubi-tubi tidak ada habisnya dan berkepanjangan? Untuk membuktikan bahwa tidak ada lagi yang dapat diharapkan oleh Daud selain Tuhan. Justru melalui penderitaan ini Daud dibentuk menjadi pribadi yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Daud menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat perlindungan (ay. 2-3). Daud tidak gengsi kepada Tuhan atau cengeng sedikit-sedikit mengeluh kepada-Nya. Menangis memohon pertolongan Tuhan adalah tanda kedekatan dan akrab dengan-Nya. Misal: ketika istri menghadapi suatu masalah, pasti curhat kepada suaminya sendiri. Jadi, suami jangan salah paham kalau si istri mengeluh karena memang ia merasa nyaman dan dekat dengan suaminya sendiri, bukan dengan orang lain. Ini yang dilakukan oleh Daud. Dia merasa dekat dan akrab dengan Tuhan maka semua hal dia keluhkan kepada Tuhan termasuk peristiwa pelariannya di dalam gua ini. 

Tampak penderitaan Daud makin memuncak namun justru ini membentuk hidupnya mengandalkan Tuhan dan menjadikan Dia satu-satunya tempat perlindungan. Apa tanda-tanda penderitaan Daud yang makin berat?

  • Semangat yang melemah (ay. 4).
    “Ketika semangatku lemah lesu (feeble, faint = lemah, kehilangan tenaga) di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui (bhs. Ibr. yada = know = mengenal) jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.” 

Dapat dimengerti penderitaan Daud yang berlangsung ± 10 tahun membuat batin dan rohnya menjadi lemah. Memang fisik kita menjadi lemah akibat bekerja keras namun beda saat menghadapi tekanan batin, mental kita yang kena imbasnya. Batin yang capek membuat hilang semua kekuatan walau mungkin fisik masih terlihat sehat. Lelah batin apalagi kalau mencapai titik nadir akan membuat seseorang putus asa serasa mau menyerah. Daud tidak habis pikir mengapa Saul, mertuanya, terus mengejar mau membunuhnya padahal dia tidak berbuat jahat terhadap mertuanya. Ini menjadi kelelahan luar biasa bagi Daud. Mengapa? Saul penuh dengan trik dan cara-cara licik nan jahat berusaha untuk menjerat dan menjebaknya. Saul memilki jaringan yang begitu kuat dan jahatnya luar biasa. Dia tega membunuh imam-imam yang memberikan roti kepada Daud. Ini menjadi beban bagi Daud, bukan berarti mentalnya lemah sebab Daud berjiwa pejuang. Dia seorang tentara tangguh dan terbiasa menderita dalam peperangan namun pada akhirnya mentalnya terkena juga.

Herannya, di dalam kelelahan batin yang terdalam, Daud tetap menyadari bahwa Tuhan mengetahui jalan yang dialaminya. Tuhan tahu dia harus bersembunyi dari gua ke gua dan Daud sadar sepenuhnya bahwa Tuhan tidak akan lepas kendali alias semua ada di dalam maksud dan pengawasan Tuhan. Daud memastikan dia sudah ada di jalan yang tepat saat di titik nadir.  

Kata “mengetahui” (bhs. Ibrani: yada = mengenal dengan dekat dan intim). Terbukti Tuhan begitu dekat dengan Daud dan sangat peduli dengan jalan yang ditempuh olehnya. 

Introspeksi: apakah saat ini kita dalam kondisi kelelahan batin akibat penderitaan yang datang bertubi-tubi tidak ada habisnya – terkena PHK, usaha pekerjaan ditipu orang, difitnah dll.? Sadarilah bahwa ini adalah proses yang Tuhan izinkan terjadi dan yakinlah bahwa kita sudah berada dalam jalan Tuhan untuk beroleh kekuatan menjadi orang yang sepenuhnya bersandar/mengandalkan Dia. Manfaatkan kondisi seperti ini bukan malah menyerah! Dalam keadaan apa pun hendaknya kita terbiasa lari kepada Tuhan sebagai tempat perlindungan bukan kepada yang lain sebab ini yang Tuhan inginkan.  

  • Semua orang menjauh (ay. 5).
    “Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorang pun yang mencari aku.”

Ternyata mempunyai backing kuat pun tidak mampu melindungi seorang pengusaha yang terkena kasus pidana. Satu persatu mereka mundur teratur tidak mau terlibat takut nanti namanya ikut terseret kasus tersebut, berakhir dengan dijebloskannya pengusaha itu ke penjara. Bukankah sering terjadi ketika seseorang dalam masalah, semua menjauh seolah-olah tidak mengenalnya? Daud mengalami hal serupa, saat ia menjadi buronan dan pelarian apalagi yang menjadi musuh adalah raja yang berkuasa, pasti semua lari tidak mau ikut-ikutan. Bahkan tidak sedikit rakyat justru mencari muka menjadi mata-matanya raja (1 Sam. 22:9-10). Jauh berbeda ketika Daud menjadi pahlawan Israel, setiap kali pulang dari perang semua rakyat Israel mengelu-elukan dia (1 Sam. 18:6-7). 

Dalam budaya Ibrani, posisi “sebelah kanan” adalah posisi seorang pembela, penolong dalam peperangan. Jelas Daud ditinggal sendirian tidak ada lagi yang menghiraukan dan mencarinya. Semua dukungan manusia terhadap dirinya sudah lenyap. Dalam kondisi semacam itu, Daud berseru kepada Tuhan seolah-olah tidak ada pilihan lain kecuali Tuhan.

Saat kita menghadapi permasalahan berat, satu persatu orang-orang yang biasa kita andalkan mulai menjauh. Mereka takut terlibat, terseret, tersangkut dengan masalah yang kita hadapi dan nama baik mereka akan terancam. Ini cukup manusiawi. Kita boleh dikecewakan oleh orang-orang di sekeliling kita namun jangan kita kecil hati sebab Tuhan mau membuktikan bahwa Ia satu-satunya tempat perlindungan yang patut diandalkan. 

Yesus yang merupakan garis keturunan Daud juga mengalami hal semacam ini. Berbondong-bondong orang datang kepada-Nya saat mengadakan mukjizat kesembuhan, perbanyakan roti dll. tetapi saat Ia berdoa di Taman Getsemani, saat mau ditangkap oleh prajurit-prajurit, satu per satu meninggalkan-Nya bahkan murid-murid termasuk murid yang paling dikasihi-Nya juga lari. Petrus yang menunjukkan pembelaan kepada Yesus diam-diam mengintip dari kejauhan dan akhirnya menyangkal pula.  

Adakah di antara kita sedang mengalami hal yang sama? Dalam penderitaan tidak ada seorang pun mau peduli dan kita serasa ditinggalkan. Tidak ada yang mau menolong saat kita benar-benar membutuhkan uang, mereka memfitnah untuk menjatuhkan kita, kita sakit berkepanjangan dst. Sadari bahwa Tuhan mengizinkan semua terjadi untuk membentuk kehidupan kita menjadi pribadi yang tangguh dan tidak lagi mengandalkan/ mengharapkan manusia yang sering mengecewakan. Firman Tuhan mengingatkan jika saja seorang ibu dapat melupakan bayinya tetapi Tuhan tidak akan melupakan kita (Yes. 49:15). Hanya Tuhan satu-satunya tempat perlindungan yang patut kita andalkan.  

  • Sengsara yang terlalu berat (ay. 7). 
    “Perhatikanlah teriakku sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku daripada orang-orang yang mengejar aku sebab mereka terlalu kuat bagiku.” 

Daud mengakui bahwa musuh-musuhnya terlalu kuat baginya. Ketika Saul mengejar Daud, dia membawa 3.000 pasukan tentara khusus/pilihan (1 Sam. 24:3). Sungguh irasional, ibarat mau membunuh “semut” menggunakan bom atau rudal. Ini yang dilakukan oleh Saul hanya karena kebenciannya terhadap Daud. Dan Daud sadar sepenuhnya bahwa tidak mungkin dia mampu melawan musuh sebanyak itu. Dalam keadaan terpojok, Daud sadar tidak ada alternatif pertolongan lain kecuali Tuhan yang mampu melindunginya. 

Kesaksian Pembicara: Tuhan mengizinkan Beliau menghadapi masalah dengan perusahaan besar yang tidak mau membayar utang. Perusahaan ini terlalu kuat dan percuma diperkarakan di pengadilan. Tidak ada pilihan lain kecuali berdiam diri dan mengalah. Satu-satunya jalan ialah berseru kepada Tuhan. Setelah bertahun-tahun Tuhan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang ajaib di luar pikiran Beliau. Pemilik perusahan memanggil Beliau dan melunasi utangnya. Bukankah dalam keadaan terjepit baru kita sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya perlindungan? 

Apa yang Daud serukan kepada Tuhan? Keluarkanlah aku dari dalam penjara untuk memuji nama-Mu. Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku.”

Daud memilih untuk tidak bertindak sendiri walau dia mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul (1 Sam. 23). Dia memilih untuk menantikan Tuhan yang bertindak dan akhirnya Saul mati di medan pertemuan tanpa Daud perlu menggunakan tangannya sendiri untuk menghabisi nyawa Saul (1 Sam. 31). Bahkan saat Saul mati, Daud meratapi kematiannya (2 Sam. 1:17).  

Tujuan permohonan Daud dikeluarkan dari dalam penjara ialah untuk memuji Nama Tuhan dan berkomitmen menjadi kesaksian bagi orang-orang benar agar mengetahui kebaikan Tuhan yang telah berlaku atasnya. 

Aplikasi: saat permasalahan memenjara membuat kita sulit melepaskan diri, jangan kita bertindak sendiri di luar Firman Tuhan tetapi nantikan pertolongan Tuhan! Juga jangan lupa menjadi kesaksian hidup bagi orang-orang di sekitar agar Nama Tuhan dipermuliakan. 

Ketika batin dan roh kita melemah ditambah orang-orang meninggalkan kita juga penderitaan makin memuncak, sadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan kita. Perhatikan, penderitaan demi penderitaan terjadi seizin Tuhan karena Dia mau membentuk hidup kita menjadi pribadi yang mengandalkan Dia semata dan kita tidak bertindak di luar kebenaran Firman-Nya. Jangan menunggu sampai kita terjepit baru berseru kepada-Nya; juga jangan merasa diri kuat kemudian menjadi sombong sebab di situlah kita rawan jatuh. Biarlah kita mempunyai kerinduan bahwa pertolongan Tuhan yang kita alami menjadi kesaksian bagi mereka yang membutuhkan dan kita memuji Tuhan seumur hidup kita. Amin.  

 

  • Video Youtube Ibadah: