Shalom,
Apa pun permasalahan hidup kita juga keadaan kita, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita diberi insting dan naluri untuk membela diri serta memikirkan jalan keluar saat menghadapi situasi yang mengancam nyawa kita maupun keluarga. Misal: ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, banyak orang mencari perlindungan dengan pergi ke luar kota, ke luar pulau bahkan ke luar negeri. Tentu tindakan ini tidak salah tetapi bagi orang percaya, kita harus yakin satu-satunya tempat perlindungan yang paling aman hanya ada di dalam Tuhan. Oleh sebab itu sebelum merencanakan segala sesuatu apalagi yang menyangkut nyawa, kita lebih dahulu berdoa kepada Tuhan yang sanggup menjamin keamanan tubuh, jiwa dan roh kita. Ia akan menuntun kita apa yang harus dilakukan.
Daud pernah mengalami terancam nyawa lalu bersembunyi di dalam gua saat melarikan diri dari kejaran Saul dan pasukan-pasukan yang lebih kuat darinya. Dia menuangkan pengalamannya di Mazmur 57 dan Mazmur 142.
Mazmur 142 adalah mazmur pengajaran/perenungan dalam bentuk puisi sebagai doa (ay.1). Ada tiga tempat perlindungan yang Tuhan sediakan yaitu, hadirat-Nya, jalan-Nya, dan persekutuan orang-orang yang mengandalkan-Nya. Inilah tiga perenungan doa kita jika yakin bahwa hanya Tuhan satu-satunya tempat perlindungan, seperti juga doa Daud saat menghadapi ancaman maut, kepada siapa dan ke mana ia harus berlindung.
- Berdoa dengan yakin bahwa kita ada di hadirat Tuhan (ay. 2-3).
Di dalam goa, Daud berseru nyaring memohon kepada Tuhan. Bayangkan ketika seseorang tertimbun di bawah reruntuhan, tentu dia tidak menangis tersedu-sedu meratapi diri tetapi akan berteriak-teriak minta tolong agar suaranya terdengar di luar. Siapa tahu ada anggota Tim SAR dari BASARNAS datang menolong korban bencana.
Suara nyaring yang diserukan oleh Daud di dalam gua bukan dilakukan secara literal supaya suaranya menembus bebatuan goa untuk mencapai Tuhan tetapi merupakan bahasa puitis. Daud menyadari Allahnya ialah TUHAN (YHWH) – yang transenden berada di tempat mahatinggi namun dapat mendengar suaranya apa pun keadaannya. Seruan ini tidak diterapkan secara literal dengan berteriak-teriak dalam doa sehingga mengganggu orang-orang di sekitar namun dia juga sadar, Allah yang transenden sekaligus imanen yang dekat sehingga bisa mengeluhkan, memberitahukan kesesakannya di hadapan-Nya (ay. 3). Di dalam goa, Daud mengharapkan Allah mengirim utusan dari Surga untuk menyelamatkannya (Mzm. 57:3-4). Ini pengharapan Daud ke masa yang akan datang, dikenal sebagai pengharapan kedatangan Mesias, keturunan Daud itulah Anak Daud.
Introspeksi: jika kita yakin akan hadirat Tuhan saat memuji-muji Dia, Ia bersemayam di atas pujian (Mzm. 22:3) apalagi dalam doa, Ia yang transenden sekaligus imanen pasti mendengar curahan keluhan kita di hadapan-Nya entah dengan perkataan atau tanpa kata-kata hanya tangisan. Ia sangat mengetahui jeritan hati kita ketika kita berdoa di hadapan hadirat-Nya. Bukankah Firman yang bersama-sama dengan Bapa menjadi Manusia (Yesus Kristus) dan diam (imanen) di antara kita? Ia, sebagai Anak Tunggal Bapa, yang transenden dari tempat mahatinggi diutus masuk ke dunia untuk menyelamatkan manusia sebagai wujud kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14, 16, 18). Kenyataannya, tidak ada orang pun dapat melihat Allah yang transenden dan tidak terhampiri, tetapi Utusan yang menyelamatkan itulah Anak Tunggal Bapa – Firman menjadi manusia (berinkarnasi) – dan imanen di antara kita. Hati pikiran kita diliputi oleh kasih karunia serta kebenaran yang memberikan kita ketenangan di tengah kelemahan. Oleh sebab itu di dalam doa kita harus mengakhirinya dengan “di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus”, Utusan yang menyelamatkan dari Bapa (Yoh. 16:23).
- Berdoa agar Tuhan menuntun kita di jalan-Nya (ay. 4-5).
Harus diakui kita dapat lemah, khawatir, cemas karena situasi dan kondisi yang memburuk tetapi Tuhan mengetahui jalan kita (ay. 4a). Dengan kata lain, semangat boleh lemah tetapi kita serahkan semua kepada Tuhan, jangan mencari jalan menurut pikiran sendiri yang sudah melemah dan iman sudah merosot karena adanya jerat yang dipasang di jalan-jalan kita oleh seteru (ay. 4b).
Siapa seteru kita? Bukan daging dan darah melainkan penguasa-penguasa di udara (Ef. 6:12) yang menghalangi langkah kita untuk mengacaukan segalanya. Segala sesuatu – jebakan, jerat, salah prosedur, dll. – ada di hadapan kita tetapi percayalah Tuhan yang selangkah di depan kita mengetahui segala jalan kita dan Ia pasti menolong kita sementara si seteru akan kejeblos dengan jeratnya sendiri (Mzm. 57:7). Oleh sebab itu kita harus berdoa agar selalu tepat di jalan Tuhan. Ia berkuasa membalikkan kejahatan kepada mereka yang merencanakannya.
Juga saat tidak ada seorang pun – suami/istri, anak, orang tua, keluarga, sahabat dst. – menghiraukan/memerhatikan dan tempat pelarian kita hilang (ay. 5), ada satu Pribadi yang sangat peduli itulah TUHAN yang transenden kemudian imanen dalam Yesus Kristus dan menempatkan Roh Kudus-Nya dalam hati serta pikiran kita. Ia sangat mengetahui dan peduli terhadap keresahan dan kesendirian kita. Ia mengirim Roh Penghibur dan Penolong mendiami dan menyertai kita untuk selama-lamanya. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Penyertaan Tuhan (Imanuel) bukan sekadar moto tetapi fakta Ilahi yang kita alami setiap saat. Dia mengenal jalan hidup kita sedetail-detailnya; maka dari itu berdoalah agar kita memahami jalan Tuhan untuk menuntun langkah-langkah kita menuju masa depan sampai pada kekekalan di jalan-Nya.
Tahukah Firman menjadi manusia, Yesus Kristus, adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6) yang membawa kita sampai kepada Bapa dalam kekekalan? Kalau begitu apa artinya masalah-masalah dalam perjalanan hidup kita di dunia ini? Terlebih lagi Roh Kudus, yang diutus Bapa menyertai kita selamanya, karena kita beriman kepada Yesus dan menaati Firman-Nya, yang memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, akan memampukan kita untuk peka terhadap jebakan dosa dan jerat yang membuat kita mengambil langkah salah. Kalaupun salah, Roh Kudus akan menginsafkan dan menunjukkan masa depan penuh harapan (Yoh. 16:13).
Aplikasi: hendaknya kita tidak sok tahu kemudian memutuskan sesuatu menurut pikiran sendiri. Berdoalah terlebih dahulu supaya Tuhan menyatakan jalan-Nya dan kita taat berada pada jalan-Nya.
- Berdoa agar kita tetap di dalam persekutuan orang percaya (ay. 6-8).
Kekuatan fisik bisa makin lemah serta kesehatan menurun tetapi persoalan-persoalan sepertinya terus mengejar (ay. 7) seperti Daud dikejar Saul dengan pasukan yang banyak sepertinya tidak pernah berakhir. Daud di dalam gua bagaikan dalam penjara (ay. 8a) namun ia tetap berdoa dengan keyakinan Tuhan adalah tempat perlindungannya (ay. 6). Dalam kondisi terpojok di dalam gua, Daud bisa saja dihabisi oleh Saul dan pasukannya tetapi ternyata Daud juga mempunyai pasukan/barisan sakit hati yang menjadikannya pemimpin (1 Sam. 22:1-2).
Introspeksi: bukankah kita dahulu juga termasuk “barisan” sakit hati – manusia bobrok yang layak dibinasakan? Namun persekutuan orang-orang bobrok ini diampuni oleh darah Yesus karena beriman kepada Yesus. Oleh sebab itu kita perlu berada dalam persekutuan orang-orang percaya untuk saling menopang, memerhatikan dan saling mengingatkan. Jelas, persekutuan adalah tempat perlindungan yang disediakan Tuhan menjelang Maranatha masuk ke negeri orang-orang hidup.
Bila kita tidak suka bersekutu dan memilih hidup seorang sendiri, kita akan makin lemah menghadapi musuh-musuh itulah pengaruh dunia dan dosa yang makin kuat dan nyaring. Sebaliknya, persekutuan menjadi tempat perlindungan Tuhan di mana di dalamnya kita saling menguatkan, saling menopang, saling membangun, saling menasihati, saling memerhatikan di dalam kasih.
Walau di dunia ini kita serasa mau mati menghadapi masalah-masalah pelik, bagian kita bukan di negeri orang-orang mati tetapi di negeri orang-orang hidup yang mengandalkan Tuhan sebagai tempat perlindungannya (ay. 6), bersekutu bersama, hidup oleh kasih karunia dan kebenaran, hidup karena keselamatan yang diberikan oleh Tuhan dan oleh pengampunan dosa (Ibr. 10:19-25). Persekutuan orang-orang percaya menjadi tempat perlindungan di kala dunia dihujani oleh murka Allah.
Jika kita mengalami kebaikan Tuhan, akan timbul ucapan syukur (ay. 8) dan kesaksian di antara persekutuan orang-orang percaya yang menguatkan juga tentang pengalaman kebaikan Tuhan. Ada pujian dan ucapan syukur bukan hanya dari kelompok tertentu tetapi dari persekutuan bangsa-bangsa berbagai bahasa seluruh muka bumi yang memuji-muji Tuhan (Mzm. 57:10-11). Dia yang ada di Surga melihat dan melindungi/mengayomi persekutuan orang-orang percaya di dalam kesatuan sampai pada akhir zaman.
Saat kita terjepit oleh masalah berat, ke mana dan kepada siapa kita mencari pertolongan serta perlindungan? Hanya Tuhan satu-satunya tempat perlindungan yang aman! Untuk beroleh perlindungan-Nya, kita harus berdoa di dalam hadirat Tuhan, berada pada jalan-Nya dan tetap di dalam persekutuan orang-orang percaya maka Ia yang transenden sekaligus imanen akan melindungi kita dari musuh-musuh yang menjerat mau menjatuhkan kita. Amin.