David Livingstone mengatakan bahwa Allah hanya memiliki seorang Anak tetapi Ia telah mengutus-Nya ke dalam dunia menjadi seorang missionari. Ya, Yesus Kristus telah datang ke dalam dunia untuk mencari yang terhilang. Sebenarnya misi penjangkauan terhadap yang terhilang ini telah Allah lakukan sejak terjadinya kejatuhan manusia dalam dosa di Taman Eden. Saat itu Allah menyatakan janji-Nya untuk mengutus keturunan (benih) dari perempuan untuk menghancurkan benih dari si ular. Janji keselamatan ini digenapi di Perjanjian Baru dalam inkarnasi Yesus Kristus dan tugas selanjutnya dari misi penyelamatan ini diteruskan oleh gereja oleh kuasa Roh Kudus. Gereja dalam menjalankan misi sebagai ketaatan terhadap Amanat Agung ini tidak berjalan dengan mudah tetapi menghadapi berbagai tantangan dan kendala namun semua itu tidak sebanding dengan sukacita ketika misi mencapai sasarannya, yakni Allah diperkenan dan dunia diberkati dengan shalom Allah.
Paradigma misi yang berubah
Kedatangan benih perempuan ini masih merupakan janji dalam Perjanjian Lama dan baru digenapi di Perjanjian Baru. Allah telah mempersiapkan saat yang tepat untuk mengutus Anak-Nya ke dalam dunia (bnd Gal.4:4). Namun bukan berarti misi tidak terjadi dalam Perjanjian Lama, hanya paradigma misi dalam Perjanjian Lama berbeda dengan paradigma misi dalam Perjanjian Baru. Misi dalam Perjanjian Lama (PL) lebih bersifat centripetal (berpusat ke dalam) di mana umat Allah diwakili oleh umat Israel menjadi pusat (lebih tepat dikatakan Yerusalem menjadi pusat (Yes. 62; Yoh.4:21-22) bangsa-bangsa datang kepada Israel untuk melihat terang Allah seperti tertulis di Yesaya 2:2-3 dan Mazmur 67:2-3). Sedangkan dalam Perjanjian Baru (PB) misi bersifat centrifugal (gerak menjauh dari pusat) di mana gereja diutus keluar ke segala bangsa untuk memberitakan keselamatan (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8). PL menekankan Israel sebagai saksi melalui hidup kudus dan membawa berkat Allah bagi seluruh dunia sedangkan PB menekankan gereja sebagai utusan aktif melalui Amanat Agung Yesus Kristus.
Paradigma PB ini antara lain memiliki karakteristik sikap proaktif dalam menjangkau yang terhilang dibandingkan dengan misi PL yang lebih pasif sifatnya. Jika dalam PL Israel merupakan pusat dari karya Allah, dalam PB menegaskan misi universal bagi seluruh dunia, Allah mengasihi seluruh bangsa di dunia, Allah mengasihi semua orang. Sebenarnya hal ini sudah dinyatakan dalam Perjajian Lama (Kej.12:3; Mzm. 67:2-3; Yes 49:6; 56:7; Yer.3:17; Zak.14:16; Yun. 4:11) tetapi hal itu semakin jelas dalam PB, Allah menjadi pusat yang di dalam kasih-Nya mengutus Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus, untuk maksud penebusan yang diterapkan oleh Roh Kudus kepada setiap orang percaya. Keselamatan pertama-tama dinyatakan kepada orang Yahudi sampai kepada segala bangsa sebagai Misi Allah (Missio Dei). Hal yang menonjol dalam PB adalah penggenapan janji keselamatan yang masih dalam wujud nubuatan di PL. Dengan demikian hal keselamatan umat PL memandang jauh ke depan kepada Kristus (misal: Abraham bd Yoh.8:56, 57; 8:58; Musa bd Luk.24:44; Yoh.1:45; 5:46).
Misi di Era Informasi
Namun dalam praktiknya misi sejarah gereja masih terus berubah karena konteks dan cara pandang yang berbeda, Bosch mengamati adanya enam paradigma dalam misi sejak gereja mula-mula:
Pertama, paradigma misi era gereja mula-mula yang memandang misi sebagai kesaksian komunitas orang percaya yang hidup di bawah kuasa Roh Kudus (paradigma apokaliptik). Fokus misi pada masa ini adalah pada kerygma (pewartaan Injil) dan pembentukan jemaat mula-mula. Kedua, paradigma bapa-bapa gereja yang dipengaruhi budaya Yunani (hellenisme) dalam mewartakan Injil. Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani dipandang sebagai kompatibel dengan Injil. Ketiga, Paradigma misi pada era gereja pasca-Konstantinus (Paradigma Gereja Katolik) di mana misi identik dengan ekspansi kekristenan, hal ini memungkinkan usai Kekristenan resmi menjadi agama negara pada kekaisaran Romawi setelah masa aniaya yang hebat pada masa gereja mula-mula. Keempat, paradigma misi era Reformasi (Gereja Protestan) dengan penekanan pada Firman dan iman pribadi. Misi lintas budaya masih relatif lemah, fokusnya lebih pada pembaruan internal gereja. Mulai dari masa ini didapati munculnya aliran-aliran gereja yang berkembang dari protestanisme. Kelima, paradigma misi era modern (masa pencerahan dan era kolonialisme), misi saat ini dipahami sebagai ekspansi Barat ke dunia Timur. Penekanan misi adalah pada rasionalitas, organisasi misi, dan “civilizing mission” untuk membawa peradaban Barat ke dunia yang dianggap masih tidak beradab. Keenam, paradigma era misi ekumenis abad ke-20 yang lahir dari gerakan ekumenis dan dekolonisasi. Mulailah lahir pemahaman misi sebagai Missio Dei — Allah yang mengutus gereja ke dunia dengan fokus pada keadilan sosial, perdamaian, dan keterlibatan lintas budaya. Keyakinan bahwa seluruh dunia akan dimenangkan bagi Kristus pada era-era sebelumnya menyurut dan beralih kepada tuntutan gereja untuk menyatakan kehadiran Kerajaan Allah di antara semua orang dengan perhatian kepada orang-orang tertindas dan termarginalkan.
Zaman terus berubah, Bosch melihat adanya “shift of paradigm” yang terjadi dalam misi ini karena setiap era membawa cara pandang baru yang mendasar terhadap misi, bukan sekadar strategi teknisnya saja. Kerangka berpikir berubah dari misi sebagai ekspansi institusi menuju misi sebagai partisipasi dalam karya keselamatan Allah. Juga subyek misi bergeser dari “gereja Barat” ke “gereja global” (from everywhere to everywhere). Bahkan tujuan misi sendiri bergeser dari sekadar konversi (pertobatan) kepada transformasi komunitas dan dunia.
Kita sekarang berada di era informasi digital. Dunia telah menjadi desa kecil di mana informasi dapat secara real time diikuti oleh semua suku bangsa dari seluruh penjuru dunia dengan hadirnya jaringan internet. Misi telah bergeser dan masuk di wilayah baru, ke dunia maya (cyber space). Dalam era informasi ini model misi cenderung berbasiskan komunitas (model komunitas) dengan hadir secara lintas ruang (offline dan online). Penjangkauan misi dengan paradigma yang baru ini membutuhkan pendekatan dan ketrampilan baru. Gereja harus memanfaatkan media sosial, Youtube, Tiktok, WhatsApp, dsb. dalam misi sebagai saluran menjangkau masyarakat dunia baru, yakni para netizen dengan latar belakang yang sangat beragam.
Berdiri sebagai seorang imam
Sebagaimana disinggung di atas paradigma misi ini seiring perkembangan zaman terus mengalami pergeseran sesuai dengan perubahan zaman. Memang perubahan paradigma ini pasti akan menimbulkan distraksi, seperti pergeseran lempeng bumi yang bisa saja menyebabkan gempa sekitar patahannya. Pemikiran selanjutnya yang harus kita pahami adalah bagaimana menilai keberhasilan misi di era informasi ini? Tentu bukan hanya ukuran “likes” dan “views”, tetapi bagaimana kualitas keterlibatan dengan komunitas dan dunia. Apakah misi penjangkauan era digital membawa transformasi hidup baik untuk pribadi maupun komunitas (secara spiritual, sosial, dan ekonomi) serta integrasi misi dengan isu keadilan sosial, perdamaian dunia, dan kesinambungan ekologi? Masalah keberlanjutan ekosistem mulai ramai diperbincangkan di tengah isu perubahan iklim dan pemanasan global serta kelangkaan energi. Singkatnya misi penjangkauan saat ini membawa gereja kepada dialog dengan pluralitas dalam keagamaan, isu budaya dan lingkungan.
Menghadapi era yang terus berubah sejak gereja mula-mula diperlukan suatu prinsip yang tidak berubah sehingga gereja tidak terbawa arus oleh derasnya arus perubahan. Untuk menghadapi perubahan-perubahan yang mendasar dan tetap menaati Amanat Agung sebagaimana sejak semula maka Rasul Petrus dan Paulus telah menjadi role model (bd Kis. 10; 15; Gal. 2) sebagai contoh bagi para misionaris yang berusaha untuk menjawab isu-isu yang berubah dan tetap relevan untuk eranya. Prinsip utama yang dijalankan ialah pelayanan misi hadir sebagai pelayanan imamat, misi harus dijalankan sebagai seorang seorang imam bagi Allah (bd 1 Ptr.2:9; Rom 12:2; 15:16). Seorang imam menjadi perantara antara Allah dan manusia, dalam hal ini misi Gereja (Missio Eccleciae) hadir sebagai perantara atau imam (agen) untuk menghadirkan karya keselamatan, damai sejahtera (shalom) dan keadilan sebagai saksi Kristus dalam kuasa Roh Kudus untuk kemuliaan Allah.
Penutup
Gereja dalam misinya tidak pernah berubah bahwa Allah mengasihi dunia dan telah mengutus Putra-Nya yang Tunggal menjadi Juru Selamat dunia karena hanya Dialah yang telah menghancurkan musuh abadi kemanusiaan, yakni si ular tua dengan tipu daya, dosa dan kejahatan yang menyertainya. Keyakinan kita dalam pelayanan misi ini ialah Kristus telah menang dan masih menyatakan kemenangan-Nya yang sempurna itu di era ini. Misi harus terus dilanjutkan dalam keyakinan akan penyertaan Tuhan Yesus sampai Ia datang kembali, Imanuel.