• KESAKSIAN NAOMI
  • Liliek Harwani

Kisahku ini dimulai dari persoalan dan masalah yang datang silih berganti dalam kehidupan keluargaku. Saat itu sepertinya sudah tak ada harapan untuk masa depan apalagi tanpa adanya pekerjaan suami yang pasti sehingga keuangan kami tidak pernah cukup untuk menyambung hidup di hari esok.

Melihat sorot mata kedua anakku yang begitu lemah dan terlihat sakit, aku benar-benar merasa berdosa karena tak mampu memberikan kehidupan yang layak buat mereka. Akhirnya kuikuti juga keputusan suamiku untuk merantau mengadu nasib ke negeri orang. Siapa tahu di sana kami akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak. Demi masa depan anak-anak, itu yang ada dalam pikiranku, tanpa ada pertimbangan lain.

Belum juga kunikmati hasil perjuangan dan kerja keras suamiku, Tuhan sudah memanggil dia pulang ke rumah Bapa di Surga. Dapat dibayangkan betapa hancur hatiku saat itu. Sebagai single parent, aku harus membesarkan dua anak, buah cinta kami berdua, yang aku tahu hidup mereka sangat tergantung pada aku, ibunya.

Perjuangan dan kelelahanku seolah terbayarkan ketika akhirnya kedua pangeranku mendapatkan pasangannya masing-masing dan kami hidup berbahagia. Sesaat…. ketika kemudian aku harus bertanya lagi, “Tuhan, kenapa Kau selalu izinkan aku mengalami duka ini? Kenapa harus Kau ambil kedua anakku di saat mereka sedang menikmati kesuksesan dan kebahagiaannya?” Di negeri orang aku harus kehilangan semua orang yang kucintai. Aku benar-benar tidak mengerti rencana-Nya. Aku sekarang sendirian di lingkungan orang asing tanpa sanak keluarga. Kedua menantuku pun bukan dari suku yang “diperhitungkan” dalam keluarga dan kaumku.

Habis sudah semangatku. Tak ada lagi alasan bagiku untuk berjuang mempertahankan hidup ini. Buat siapa dan untuk apa? Bertahan di sini tanpa keluarga? Atau pulang ke negeri asal “berjubahkan kegagalan” dan menanggung malu? Ini menjadi dilema bagiku.

Kulepas juga kedua menantuku yang masih muda untuk menyongsong harapan dan masa depannya masing-masing. Tak mungkin aku dapat menjamin kebahagiaan mereka bila mereka tetap bersamaku sementara untuk diriku sendiri aku juga belum pasti.

Namun salah seorang dari mereka bersikukuh untuk tetap mau mengikut aku apa pun keadaanku dan ke mana pun aku pergi ketika akhirnya kuputuskan aku harus kembali pulang ke kampung halamanku. Malu? Pasti! Tapi aku sudah tak peduli.

Dalam kemiskinan dan kepapaan yang mendera, kulalui hari-hariku bersama menantuku yang setia. Dia bekerja tak kenal lelah agar dapur kami tetap bisa berasap. Dia menjagaku, melayaniku dan mengasihiku dengan tulus – seorang wanita tua yang sudah tak ada daya kecuali hanya dapat berdoa. Berdoa buat kebahagiaan menantuku yang masih mudah, cantik dan baik hati. Baru kemudian kusadari ternyata Tuhan memang menyediakan dia, menantuku, untuk melanjutkan hidupku.

Dan sungguh nyata, doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya (Yak. 5:16). Tuhan mempunyai 1001 cara untuk menolongku ketika aku melepaskan semua perasaan “aku mampu” dalam diriku dan kembali menyerahkan semua harapan dengan bertaut kembali kepada-Nya.

Benar kata seorang sahabat yang pernah menguatkan imanku saat aku berada di titik nadir terendah,

“Tak seorang pun tahu

Apa yang ada di balik gunung di seberang sana

Kecuali banyaknya batu dan kerikil

Yang dapat membuat kita

Tersandung, terpeleset bahkan jatuh

Genggam erat tangan Tuhan

Jangan pernah lepaskan

Dan kamu akan melihat

Bahwa akhirnya kamu bisa melewati

Jalur pendakian itu… bersama-Nya

Karena rencana-Nya selalu baik adanya.”

Singkat cerita, Tuhan mempertemukan menantuku dengan jodoh yang sudah Tuhan siapkan baginya. Dan segalanya berjalan sesuai dengan ketetapan dan hukum Tuhan yang ada. Aku yakin kali ini aku tidak salah langkah lagi. Para sahabat dan kerabatku pun ikut berbahagia ketika seorang cucu laki-laki mungil dilahirkan bagiku sehingga mereka mengatakan “..dialah yang menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih sebab menantumu yang mengasihimu telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” 

Kini aku sadar ketika aku bergantung pada kemampuan dan cara berpikir manusiawiku serta meninggalkan tempat yang sudah membesarkan kehidupan rohaniku, Tuhan seolah mengizinkan aku berjalan sendiri – bukan meninggalkan aku – buktinya Ia tetap menyediakan seorang “guardian angel” yang menemaniku di saat-saat kesendirianku. Seperti Firman Tuhan mengatakan, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia  karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." (2 Tim. 2 : 13)

Jangan rendah diri sekalipun kita sudah berbuat begitu banyak kesalahan dalam hidup ini sebab di hadapan Tuhan kita tetap memiliki nilai.

Iblis selalu berusaha menanamkan benih keragu-raguan dalam pikiran tentang dosa masa lalu agar kita tidak percaya Allah sanggup mengampuni kita. Padahal Allah tidak hanya mengampuni dosa tetapi juga menyucikan kita dari segala kejahatan.

Pegang janji kasih setia Tuhan bagi mereka yang takut akan Dia namun jangan memandang enteng kemurahan-Nya sebab Ia adalah Allah yang adil.

Rencana Tuhan selalu indah serta tidak pernah gagal dan perjalanan hidupku juga masuk dalam salah satu rencana-Nya. Kini aku menikmati hari-hari tua bersama keluarga baruku. Terima kasih Tuhan untuk didikan-Mu juga untuk pertumbuhan iman dan kerohanianku.

 

Jangan rendah diri sekalipun kita sudah berbuat begitu banyak kesalahan dalam hidup ini sebab di hadapan Tuhan kita tetap memiliki nilai.

Iblis selalu berusaha menanamkan benih keragu-raguan dalam pikiran tentang dosa masa lalu agar kita tidak percaya Allah sanggup mengampuni kita. Padahal Allah tidak hanya mengampuni dosa tetapi juga menyucikan kita dari segala kejahatan.

Pegang janji kasih setia Tuhan bagi mereka yang takut akan Dia namun jangan memandang enteng kemurahan-Nya sebab Ia adalah Allah yang adil.