• AI DALAM PRESPEKTIF AGAMA DAN ETIKA
  • Abigail Soesana

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar (tselem) dan rupa (demut) Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung yang di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Kejadian 1:26


Manusia dijadikan menurut “gambar” (pola/ patron) Allah dan keserupaan dengan-Nya yakni adanya kualitas eksistensial bersifat kekal, juga unsur kreativitas yang luar biasa. Memang manusia jatuh ke dalam dosa dan mengalami kematian/kefanaan tetapi mereka yang diselamatkan di dalam Kristus mengalami pemulihan untuk beroleh hidup kekal di Surga.

Manusia memiliki daya kreasi luar biasa dan dalam perkembangannya manusia terus berkreasi menciptakan banyak teknologi di antaranya AI yang seharusnya digunakan sesuai dengan tujuan yaitu manusia berkuasa atas semua ciptaan dan menjadi penatalayan/mitra dan duta Allah di dunia ini. Manusia diminta melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (1 Kor. 10:31) dan berbuat apa pun seperti kepada Tuhan bukan kepada manusia (Kol. 3:23). Dengan kata lain, tujuan dari segala yang manusia lakukan terus-menerus harus berpusat untuk kemuliaan Allah.

Ternyata AI juga dapat digunakan sebagai sarana pelayanan konseling yang sangat efektif melalui chatbot. Anak-anak muda terbuka menyampaikan keluh kesahnya dan dapat memilih apa yang mereka butuhkan. Namun ada efek samping yang ditimbulkan dari chatbot AI di antaranya ada anak muda yang terjerat romansa virtual oleh karena kesepian dan tidak ada tempat untuk curhat.

Fenomena menunjukkan bahwa:

  • Berbagai gereja telah mengembangkan chatbot pendeta yang dapat menjawab pertanyaan teologis, memberikan bimbingan pastoral bahkan mendoakan jemaat.
  • Ada “Bible AI Chatbot” yang dapat memberikan jawaban berbasis Alkitab dalam hitungan detik. Dengan cepatnya jawaban yang diberikan menjadi kemudahan bagi orang untuk belajar dan mendalami Alkitab.
  • Pembuatan khotbah melalui teknologi sermon generator.
    Seharusnya pengkhotbah berproses membuat draft sendiri menggunakan nalar dan hikmat dari Tuhan baru kemudian bertanya ke AI meminta masukan juga minta diedit supaya kalimatnya lebih rapi dan bagus. Jadi tidak semua dikerjakan dan digantikan oleh AI. Demikian pula mahasiswa harus berpikir kreatif tidak sebatas menyelesaikan tugas terkait dengan konten.
  • Ada ibadah di sebuah gereja di Jerman yang seluruh isi khotbahnya dikembangkan dan dibacakan oleh AI. Apakah Anda setuju dengan virtual church semacam ini? Bukankah sering terjadi ibadah online dilakukan dengan santai, tidak khusyuk/khidmad, bahkan tak jarang malah ketiduran? Sesungguhnya ibadah (onsite) tidak seluruhnya dapat digantikan secara virtual karena jemaat membutuhkan ikatan relasi secara psikis dengan hamba Tuhan dan sesama jemaat sehingga fungsi persekutuan untuk saling membangun dan menguatkan terbangun. Ini tidak dapat digantikan dengan robot. Memang teknologi dapat menjadikan kita makin kreatif dan memberikan peluang lebih luas dalam pelayanan tetapi perlu dipertimbangkan juga faktor-faktor bernilai spiritualitas, etis dsb.

Ada kesempatan untuk melakukan hal-hal positif terkait dengan penggunaan teknologi AI, yaitu:

  • Peningkatan aksesibilitas terhadap teks-teks Alkitab (Kumar, 2019).
    Seseorang dapat mengakses Alkitab dari pelbagai macam versi terjemahan dan teks; tentu ini lebih memudahkan dibanding era lampau yang menggunakan textbooks tebal yang rentan dimakan rayap.
  • Chatbot berbasis AI – Ask God
    Harus diakui penggunaan teknologi memang membantu, namun kita tetap bertanggung jawab menggunakannya dengan bijak. Misal: kita minta tolong AI untuk menyusun khotbah kemudian mengambil semua bahan dari situ sementara kita sendiri tidak ada persiapan sama sekali bahkan mengakuinya sebagai karya asli kita; ini tidak etis.

Juga harus diperhatikan untuk tidak mengambil referensi dan artikel lepas yang kurang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

  • Aplikasi Soul Time karya Mark Wagner.
    Aplikasi ini untuk membantu orang yang mempunyai masalah psikologis.
  • Studi Alkitab berbasis AI – YouVersion’s Bible App
    Kita dapat mengakses aplikasi ini untuk menjadi bahan renungan harian. Kita dapat browsing terkait dengan hal-hal yang kita butuhkan. Misal: kita membutuhkan materi-materi tertentu dari Alkitab atau menanyakan hal-hal berbau sejarah terkait dengan Alkitab, dll.
  • Dialog lintas iman/agama juga difasilitasi oleh AI.
  • Proses administrasi yang efisien menggunakan AI.

Apa peran AI dalam pelayanan Kristen?

Dalam pengajaran dan Firman

  • Menolong mendapatkan bahan khotbah, renungan dan materi pemuridan.
  • Menyediakan ringkasan tafsiran Alkitab, teks asli Alkitab (Bahasa Ibrani, Aramik, dan Grika)
  • Konten Alkitabiah sesuai konteks jemaat.

Dalam doa dan renungan

  • Membuat panduan doa harian atau renungan singkat berbasis ayat.
  • Menyediakan aplikasi/chatbot doa interaktif untuk jemaat.
  • Mendukung Bible journaling digital.

Dalam misi dan penginjilan

  • Menerjemahkan Firman ke berbagai bahasa dengan cepat. Ini mempermudah semua orang di setiap tempat untuk dapat memahami Firman Tuhan sesuai dengan bahasa lokal.
  • Membuat konten kreatif – video pendek, desain, musik rohani.
  • Chatbot Injil yang dapat menjawab pertanyaan.

Dalam administrasi dan organisasi gereja

  • Memanage data jemaat, jadwal ibadah dan follow up pelayanan.
  • Alat bantu terjemahan lintas bahasa, teks Alkitab multibahasa, caption otomatis ibadah online.
  • Mendesain poster pelayanan, bahan studi Alkitab.

Konseling dan pendampingan

  • Memberikan respons awal bagi jemaat yang curhat.
  • Menyediakan bahan konseling Alkitabiah.

Pembelajaran dan pelatihan

  • Membantu kelas online Sekolah Minggu/ Pendalaman Alkitab dengan kuis interaktif.
  • Membuat materi ajar (visual, audio, interaktif).

Media dan komunikasi

  • Membuat poster ibadah, konten media sosial, newsletter jemaat.
  • Mengedit video khotbah atau meng-highlight Firman Tuhan.
  • Membuat lagu rohani sederhana. 

Apa tantangan dalam menggunakan AI?

  • Dilema etika dalam pembimbingan spiritual.
    Kalau semua dilakukan oleh AI mulai dari persiapan khotbah bahkan penyampaian khotbah pun dilakukan oleh AI, bimbingan konseling, ringkasan khotbah juga ada aksesnya, timbul pertanyaan apakah jemaat masih perlu ke gereja karena mereka dapat mengakses dari rumah? Apakah akhirnya gereja berubah menjadi gereja virtual? Tentu ini menjadi dilema dalam pembimbingan spiritual. Misal: untuk pelayanan konseling, dua pihak tidak sekadar berkomunikasi yang dapat diwakili oleh chatbot tetapi ada bagian lain berkaitan dengan relasi juga pesan-pesan non-verbal (aura wajah, gerakan tubuh, mimik wajah, dll.) yang diperlukan oleh konselor dan ini tidak dapat ditangkap oleh AI.
  • Ketergantungan AI pada algoritma.
    Tergantung pada input yang masuk. Pernah ada pertanyaan yang diajukan dan jawabannya tidak memuaskan kemudian si penanya malah “mengajari” dan membuatkan jawabannya. Ketika AI ditanya lagi, jawabannya sudah berubah sesuai dengan keinginan si penanya. Ternyata jawabannya dapat diatur tergantung pada input yang masuk.
  • Pengikisan otoritas agama.
    Memang ada peran rohaniwan yang digantikan oleh AI, tetapi tetap ada bagian-bagian yang tidak dapat tergantikan sepenuhnya oleh AI, seperti: baptisan air, pemberkatan nikah, sakramen ekaristi/perjamuan kudus, doa penghiburan.
  • Ketergantungan berlebihan pada teknologi. Terlalu bergantung pada teknologi membuat
    manusia yang diberi hikmat oleh Tuhan menjadi kurang mau berproses dalam menggunakan sumber daya yang dimilikinya.
  • Masalah privasi.
    Terkadang membuat si penanya ragu dan was-was ketika dimintai data untuk mengisi hal-hal bersifat konfidensial, ditakutkan nanti datanya bocor.

Apa strategi di dalam menyikapi tantangan dan peluang yang ada?

  • Dibutuhkan pengembangan kolaboratif.
    Kolaborasi teknologi yang mematuhi standar etika, relevan dalam konteks keagamaan, dan pertimbangan moral menjadi prioritas utama.
  • Pendidikan dan pelatihan.
    Diperlukan program pelatihan yang membekali rohaniwan dengan pengetahuan yang diperlukan untuk mengevaluasi secara kritis dan mengintegrasikannya dengan cara yang mendukung praktik spiritual tanpa mengorbankan nilai-nilai inti.
  • Implementasi sesuai konteks.
    Aplikasi AI disesuaikan untuk menghormati tradisi, keyakinan, dan praktik unik dari berbagai komunitas keagamaan. Nuansa budaya dan teologis yang spesifik juga merupakan kunci keberhasilan dalam mengadopsi teknologi.
  • Perlu keseimbangan interaksi virtual dan fisik.
    Meskipun AI dapat memfasilitasi interaksi agama virtual, penting untuk menyeimbangkan dengan pertemuan fisik untuk menjaga integritas komunitas. AI seharusnya berfungsi sebagai alat pelengkap yang mendukung bukan menggantikan keterlibatan pribadi dan pengamalan ritual. Itu sebabnya anak tetap memerlukan bimbingan orang tua juga pembatasan screen time supaya hidup seimbang – tidak hanya hidup di dunia maya tetapi juga menghadapi realita tantangan hidup agar anak berproses menjadi tangguh/resilien. Mereka tidak hanya berada di balik layar tetapi juga beradaptasi dengan lingkungan, berjejaring dengan dunia luar (bukan hanya lewat medsos) mengenal banyak orang dari beragam belahan dunia.