Dalam penerbitan yang lalu, kita belajar bagaimana seorang ayah berpengaruh dan memberikan dampak bagi anak-anaknya hingga tahun-tahun ke depan.
Tuhan Yesus memiliki hati Bapa yang baik. Untuk memiliki hati seperti hati-Nya, kita harus lebih mengenal Dia dan belajar meneladani-Nya.
Bapa adalah seorang dari mana kita berasal dan menurunkan DNA yang sama
DNA seorang anak pasti sama dengan DNA ayah/bapa kandungnya dan tidak ada orang tua menginginkan anaknya tumbuh besar berkelakuan tidak baik walau orang tua itu sendiri tidak begitu baik. Sesungguhnya, anak yang nakal, bandel suka memberontak merupakan cermin karakter dari orang tua itu sendiri seperti pepatah mengatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.
Seorang ayah menurunkan DNA kebiasaan, karakter, rupa dll. kepada anaknya. Contoh: Ishak meniru bapanya, Abraham, yang takut mengakui istrinya yang cantik, Ribka, di depan Ahimelekh karena mengkhawatirkan nyawanya sendiri (Kej. 26). Yakub yang menipu bapanya, Ishak, untuk mendapatkan hak kesulungan (Kej. 27:19) juga ditipu oleh anak-anaknya yang mengatakan Yusuf mati dimakan binatang buas padahal dia dijual ke tanah Mesir (Kej. 37:31-34)
Karena DNA diperoleh dari kelahiran maka tidak ada jalan lain bagi kita yang menginginkan DNA Kristus, kita harus “dilahirkan kembali” menjadi “manusia baru” di dalam-Nya agar dapat memiliki karakter dan hati Kristus. HATI BAPA YANG BAIK PENUH DENGAN KASIH
Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:16) dan Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi juga mengasihi sesama seperti diri sendiri bahkan mengasihi musuh serta berdoa untuk mereka. Ia mengasihi mereka (murid-murid-Nya) sampai kesudahannya (Yoh. 13:1).
Yesus juga menyatakan diri sebagai Gembala baik (penuh kasih) yang memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya. Buktinya, Ia rela mati disalib bagi manusia berdosa.
Dalam skala kecil, seorang bapa/ayah juga diberi hati yang rela berkurban bagi anak-anaknya. Ia rela membanting tulang, berlelah-lelah sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Tak jarang dia mengurbankan kepentingan dan keinginannya sendiri demi anak-anaknya.
Kasih bapa penuh pengampunan seperti kisah perumpamaan sikap bapa terhadap anaknya yang terhilang dengan meninggalkan rumah dan hidup berfoya-foya menghabiskan harta. Tentu hal ini menyakitkan hati sang ayah tetapi dia tetap menunggu dan mengharapkan kembalinya si anak yang terhilang ini. Ketika ia kembali, sang bapa menyambutnya, mengampuni dan merayakan kedatangannya. Bagaimana sikap kita, orang tua, menghadapi anak yang bandel, menjengkelkan dan suka melawan? Bukankah sering kita melampiaskan kemarahan karena merasa disakiti dengan menghajarnya? Seharusnya seorang ayah yang baik dapat menguasai diri dan memikirkan bagaimana bersikap demi kebaikan anak-anaknya. Memang menegur, memarahi bahkan menghajar pun boleh dilakukan asal tidak didasarkan pada pelampiasan kemarahan yang tidak terkontrol yang justru akan menghancurkan jiwa anak bahkan menjadikannya lebih bandel. Itu sebabnya Yesus memberikan Roh Kudus dan Firman-Nya untuk menolong kita menjadi seperti Dia. Soal pengampunan dan penguasaan diri tidaklah mudah, butuh pengurbanan perasaan dan penekanan emosi.
Bapa yang mengasihi anaknya tahu memberikan yang baik dan diperlukan mereka (Mat. 7:11; Luk. 11:13). Kita tidak perlu meragukan kasih-Nya, buktinya sebelum menciptakan manusia, Ia terlebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan manusia. Bukankah bapa jasmani juga menyediakan segala sesuatu yang diperlukan sejak bayi masih dalam kandungan hingga keahirannya? Bapa yang baik tahu apa yang diperlukan anaknya bahkan sebelum dia meminta kepada bapanya (Mat. 6:8; Luk. 12:30). Tidak mungkin sang bapa yang baik memberikan sesuatu yang membahayakan dan mematikan jika anaknya meminta sesuatu yang menyehatkan dan mengenyangkan.
Bapa yang baik menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Keberhasilan orang tua dalam meneladani Kristus akan tampak ketika anak-anaknya meneladani sikap baik kita yang meneladani Kristus. bukankah bapa menjadi superhero bagi anak laki-laki dan cinta pertama bagi anak perempuannya hingga tercetus anak laki-laki mengatakan, “kalau besar, aku pingin jadi seperti papa” atau anak perempuan mengatakan, “kalau menikah, aku ingin punya suami seperti papa.” Kasih suami-istri yang diperagakan di depan anak-anak menciptakan suasana kebahagiaan dalam rumah tangga menjalar pada anak-anak yang merasa aman dan tenteram.
Bapa yang baik adalah pemelihara keluarga
Pemeliharaan secara jasmani. Yesus menegaskan agar kita tidak khawatir akan apa yang kita makan atau minum sebab Bapa Surgawi mengetahui keperluan kita. Orang tua/ayah mengajarkan anak nya yang sedang mengalami masalah ekonomi untuk berdoa membawa semua masalah kepada Tuhan yang berkuasa menolong kita. Selain menguatkan dan menghibur, anak diajar beriman dan memercayai Tuhan yang mampu melakukan perkara di luar nalar manusia. Contoh:
- Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki yang kelaparan dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ini bentuk tanggung jawab Tuhan untuk memberi makan mereka yang mengikuti-Nya sepanjang hari.
Yesus mengajar untuk membawa berapa pun yang kita miliki kepada-Nya untuk mendatangkan berkat. Selain itu kita belajar mengucap syukur seberapa pun yang kita miliki serta rela berbagi. - Tuhan memelihara bangsa Israel selama 40 tahun dengan menurunkan Manna dari langit.
Ayah/bapa yang baik bertanggung jawab memberi makanan sehat bergizi (bukan makanan cepat saji/instan yang tidak sehat) kepada keluarganya. Waspada, kesehatan tergantung pada apa yang masuk ke dalam mulut kita. Itu sebabnya Tuhan, Gembala yang baik, membaringkan domba di padang berumput hijau yang menyehatkan.
Makanan bagi jiwa. Selain membutuhkan makanan jasmani, anak juga butuh makanan bagi kerohanian mereka. Mencukupi kebutuhan jasmani tidak memuaskan anak yang kesepian karena orang tua sibuk mencari uang sepanjang hari. Anak akan mencari kepuasan jiwa di luar rumah yang dapat terjerumus ke dalam kenakalan remaja, narkotika, dll. berbeda dengan kisah Thomas Alfa Edison yang kehilangan sosok ayah tetapi ibunya memberikan motivasi setiap hari hingga dia muncul sebagai anak jenius, penemu listrik yang kini dinikmati semua orang di seluruh dunia.
Jiwa seorang anak banyak berhubungan dengan perasaan, hati, dan emosi; itu sebabnya Firman Tuhan mengajar agar bapa tidak menyakiti anaknya juga tidak membangkitkan amarah mereka. Pemenuhan kebutuhan jiwa memerlukan sentuhan, pelukan, ciuman hangat dan kata-kata yang membangkitkan semangat juga kebersamaan bersama keluarga.
Makanan rohani yakni menuntun anak pada jalan yang benar itulah Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup sehingga anak menemukan solusi saat menghadapi masalah apa pun dan hidup disertai Tuhan. Dan yang terpenting ialah keselamatan jiwa serta kehidupan kekal bersama Tuhan.
(bersambung)