Shalom,
Apa yang paling berharga di dalam kehidupan ini hingga kita perjuangkan mati-matian dengan mengorbankan waktu, tenaga dan daya upaya kita? Umumnya harta, kekayaan, pendidikan, kedudukan, keluarga, prestasi, kesehatan dianggap paling berarti dalam hidup. Namun sesungguhnya bagi orang percaya yang paling bernilai dan terutama ialah memiliki Kristus dalam hidupnya.
Bagaimana hidup berpusat pada Kristus menurut 1 Kor. 3:18-23?
Jangan menipu diri sendiri (ay. 18). Kenyataannya, kita sering kali mudah tertipu saat menghadapi atau memilih sesuatu yang terbaik dan yang terpenting dalam hidup ini. Kita hanya melihat fatamorgana dan bayangan dari apa yang kita anggap terbaik. Akibat berhalusinasi meraih apa yang terutama, kita malah kecewa karena ternyata semuanya tidak memuaskan hati dan tidak menyegarkan dahaga jiwa.
Jujur, untuk hidup berpusat kepada Kristus bukanlah perkara yang otomatis dan instan terjadi dalam kehidupan kita, orang percaya. Ini merupakan proses yang dijalani sepanjang hidup kita. Seberapa dalam dan intim relasi kita dengan Tuhan? Kedalaman relasi kita hari demi hari bersama Tuhan menimbulkan pertumbuhan dan kedewasaan rohani kita. Semua ini menyadarkan kita bahwa hanya satu yang paling utama itulah Kristus.
Orang-orang Korintus merupakan kelompok bangsa yang memiliki pandangan pragmatis tentang kehidupan. Mereka tinggal di kota pelabuhan di mana kesenangan-kesenangan begitu bebas dilakukan. Di samping itu, sebagai orang Yunani, mereka sangat menghargai hikmat yang luar biasa. Dapat dikatakan, mereka memiliki pusat kehidupan: kesenangan dunia yakni hidup yang menyenangkan ditambah dengan hikmat kepintaran (1 Kor. 1:22-24). Rasul Paulus mengenal kondisi orang-orang Korintus karena dia yang merintis pelayanan di sana. Dia mengikuti proses perkembangan rohani mereka – orang Yunani mencari hikmat sementara orang Yahudi mengutamakan tanda dan mukjizat.
Introspeksi: bagaimana dengan kita, apa yang menjadi pusat hidup kita? Marilah kita hidup berpusat hanya pada Kristus seperti dirindukan oleh Rasul Paulus dalam mendidik jemaat Korintus dan mengarahkan mereka agar bertumbuh dewasa di dalam Tuhan.
Untuk bertumbuh dewasa rohani, kita harus memiliki cara hidup berbeda dari dunia, yaitu: jangan menipu diri sendiri atau membodohi diri sendiri (ay. 18). Bukankah ketika tertipu, kita merasa geram dan bodoh kok bisa ditipu?
Bagaimana mungkin orang menipu diri sendiri? Ketika orang Yunani merasa mereka berhikmat (menurut dunia) dan mencapai kondisi terbaik serta ideal dalam hidup, ternyata mereka bodoh di pandangan Allah sebab hikmat dunia ini memiliki keterbatasan. Memang hikmat dunia seperti kepintaran, kekayaan, prestasi dll. penting tetapi mereka bukan yang terpenting dan menjadi pusat dari segala-galanya.
Mengapa hikmat dunia (kepandaian, ilmu pengetahuan) tidak layak dijadikan pusat kehidupan kita?
- Sebab hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah (ay. 19).
“Ia menangkap orang-orang berhikmat di dalam kecerdikannya (craftiness, cunning = kelicikan).” Kecerdikan di sini ialah kelicikan, penuh intrik.
Rasul Paulus mengutip ayat 19 ini dari Ayub 5:12-13, “Ia menggagalkan rancangan orang cerdik (crafty = licik) sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya (craftiness = kelicikan), nasihat orang licik digagalkan.” (TB2)
Tuhan hadir untuk menggagalkan rancangan hikmat kepintaran manusia yang mengandung kelicikan. Itu sebabnya Tuhan menentang hikmat dunia karena adanya intrik dan kelicikan yang memperdaya manusia.
Rasul Paulus begitu khawatir ketika jemaat di Korintus mulai terpesona dengan Injil lain – ajaran yang sepertinya begitu berhikmat tetapi di dalamnya ada kelicikan dan ketidakmurnian yang membuatnya berpaling dari Kristus (2 Kor. 11:3-4). Dia cemburu kepada mereka dengan cemburu Ilahi karena mereka telah dipertunangkan kepada Kristus (ay. 3). Faktanya, universitas-universitas Kristen (di negara Eropa) yang dahulu dibangun untuk mengenal Tuhan, mendalami dan memperlengkapi mereka untuk pelayanan sekarang berkembang dalam ilmu pengetahuan menggunakan logika dan nalar tanpa memerlukan Tuhan di dalam pendekatannya. Metodologi yang diajarkan ialah hikmat yang dipisahkan dari Kristus.
Aplikasi: orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk meletakkan dasar hikmat yang benar kepada anak-anaknya dan tidak serta merta melepas tanggung jawabnya kepada sekolah maupun sekolah minggu. Untuk itu orang tua harus belajar kebenaran Firman Tuhan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat (Ams. 1:7). Jelas tidak mungkin hikmat diceraikan dari sumbernya hikmat yaitu Pribadi Allah sendiri. Demikian pula anak-anak harus mendengarkan didikan ayah dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibu (ay. 8-9). Kalau anak tidak memiliki iman yang hidup, kemungkinan di dalam keluarga tidak diajarkan hikmat yang benar.
- Karena rancangan-rancangan orang berhikmat semuanya sia-sia (useless = tidak berguna) belaka (ay. 20). Rasul Paulus menyinggung masalah ini dari Mazmur 94:8-11, “Perhatikanlah, hai kamu yang paling dungu di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, kapankah kamu menjadi bijak?......Dia yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia. Tuhan mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka." (TB2)
Jelas hikmat dunia ini sia sia, tidak berguna; semua sia-sia tanpa Kristus. Cara Allah melihat dan mendengar berbeda dengan cara manusia melihat serta mendengar sebab penglihatan dan pendengaran kita serba terbatas. Tuhan juga mengetahui rancangan dan pemikiran manusia. Sungguh kita tidak mampu menjangkau kedalaman rancangan dan rencana Tuhan tetapi tragisnya kita malah mengandalkan kepintaran, pengalaman dan logika manusia untuk mencapai keselamatan dan hidup yang diberkati. Jelas ini adalah kesia-siaan. Hendaknya kita menawan segala pikiran (cara pandang) dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Kor. 10:5).
Tuhan ingin kita memiliki hikmat yang berpusat kepada Kristus. Bagaimana caranya? Sejak kecil/dini, kita diperlengkapi dengan mengenal Kitab Suci yang memberikan hikmat dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2 Tim. 3:15).
Harus diakui mengikut Tuhan dan beroleh hikmat dengan berpusat kepada-Nya tidaklah mudah dilalui tanpa adanya halangan dan rintangan. Mungkin ada satu titik di mana kita memutuskan untuk tidak lagi mengikut Tuhan dan berpusat kepada Kristus karena terlalu beratnya beribadah dan melayani-Nya; kita gagal mengikuti hikmat-Nya seperti dilakukan oleh murid-murid Yesus yang meninggalkan-Nya karena menganggap perkataan-Nya terlalu keras (Yoh. 6:66). Tuhan tidak akan mencegah orang yang membelot dan meninggalkan-Nya sebab pengikutan kepada-Nya bukanlah suatu paksaan atau ikut-ikutan tetapi relasi kita dengan-Nya seperti diakui oleh Simon Petrus.
Introspeksi: apa yang paling berharga di dalam hidup kita yang membuat kita berpaling dari Sang Juru Selamat? Yesus memiliki perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68) berarti hikmat dunia tidak dapat menjamin kita untuk memperoleh hidup kekal. Anugerah-Nya sempurna bagi kita, Ia telah menuntaskan tugas penyelamatan di kayu salib. Ketika kita memahami kasih Tuhan, pengenalan kita akan Dia akan bertumbuh. Dosa pelanggaran kita dihapus dan kita diperdamaikan serta dikuduskan sama seperti Dia yang adalah kudus.
Mau hidup berpusat pada Kristus? Tetapkan langkah kita bukan karena terpaksa tetapi karena pilihan iman kita yang rindu bertumbuh dalam pengenalan kepada Tuhan. Kita mencari hikmat Allah yang memberikan hidup kekal hingga di langkah terakhir kita bertemu dengan Sang Juru Selamat itulah Yesus Kristus. Amin.