• MENEMUKAN TUHAN DALAM PERGUMULAN DAN KEMENANGAN
  • Mazmur 144
  • Lemah Putro
  • 2025-11-09
  • Pdm. Agus Muljono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
menemukan-tuhan-dalam-pergumulan-dan-kemenangan

Shalom,

Kenyataannya, kita mengalami serangkaian pergumulan dan kemenangan yang tidak pernah usai selama kita masih hidup. Hidup kita tidak selalu berada di tempat mulia serba menyenangkan tanpa masalah dan semua berjalan dengan baik tetapi juga menghadapi banyak tantangan yang menerpa bertubi-tubi baik jasmani, rohani, kesehatan, ekonomi dst. Perhatikan, tidak seorang pun, seberapa banyak kekayaan dan jabatan yang dimiliki, pasti pernah mengalami pergumulan yang menguji iman.

Kita dapat merayakan kemenangan saat doa kita terjawab dan krisis terlewati kemudian melihat berkat Allah terwujud dalam kehidupan kita. Namun sayangnya kita sering mencari Tuhan dengan panik ketika badai menerpa dan tanpa sadar kita melupakan Dia saat matahari bersinar terang. Kita memuji Dia saat berkemenangan tetapi gagal mengakui peran-Nya saat proses pahit melatih kita untuk bergumul.

Daud, penulis Mazmur 144 adalah seorang raja, pemimpin dan pejuang. Hidupnya penuh dengan rentetan pergumulan. Dia berperang melawan Goliat, dikejar Saul, menghadapi pengkhianatan Absalom, anaknya, juga berperang menghadapi musuh. Daud tahu betul apa artinya berada dalam medan perang. Dia tidak sekadar menulis teori pergumulan tentang bagaimana harus berperang tetapi rahasia Daud terletak pada fokusnya mencari Tuhan dalam setiap pergumulan. 

Kesadaran apa yang harus kita miliki untuk menemukan Tuhan dalam pergumulan agar beroleh kemenangan?

  • Kesadaran akan identitas (ay. 1-4).
    Kita menyadari siapa Tuhan dan siapa diri kita.

Langkah pertama menuju kemenangan bukan karena strategi perang yang lebih baik melainkan memiliki pandangan yang benar tentang Tuhan dan diri sendiri. Daud menyanyikan pujian pengakuan bahwa Tuhan adalah kasih setia (lovingkindness), tempat perlindungan, kubu pertahanan, kota benteng, penyelamat, perisai, kepada-Nya dia berlindung (the One in whom I take refuge), yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasanya. Perhatikan, Daud memulai mazmur ini tidak dengan keluhan atau permintaan tetapi dengan pujian memuliakan Tuhan. Ini menunjukkan sikap hati yang luar biasa sebelum berbicara tentang pergumulan dan musuh. Daud memulai dengan mendeskripsikan siapa Tuhan baginya dan menyematkan tujuh gelar teologis terhadap identitas Tuhan yakni: 

    • Gunung batu → stabilitas dan kekuatan yang tidak berubah
    • Pelatih perang → mengidentifikasikan bahwa kemenangan Daud adalah hasil latihan Ilahi bukan bakat pribadi.

Tuhan melatih kita melalui kesulitan dan problema hidup agar kita memiliki iman yang kuat.

    • Kasih setia → dasar dari semua perlindungan dan pertolongan-Nya oleh karena perjanjian kasih-Nya.

Tuhan menjamin melindungi kita sebagai manifestasi dari kuasa dan kesetiaan-Nya. 

    • Benteng → perlindungan yang tidak tergoyahkan.

Tuhan adalah tempat yang kukuh dan aman di mana musuh tidak dapat menembus. Kekuatan Tuhan adalah sumber dukungan yang tidak pernah gagal. 

    • Kota benteng → perlindungan total dan menyeluruh.

Tuhan memberikan sistem perlindungan yang  mencakup seluruh aspek kehidupan kita.

    • Penyelamat → Pribadi yang selalu bertindak aktif dan kuat untuk mengeluarkan kita dari situasi berbahaya.

Ini bukan sekadar perlindungan pasif tetapi tindakan campur tangan yang dilakukan dengan aktif, kuat dan signifikan mengubah arah atau hasil dari situasi.

    • Perisai → alat pertahanan pribadi, menggambarkan perlindungan Tuhan bersifat personal, langsung dan selalu tersedia.  

Daud menyadari bahwa pergumulan adalah “sekolah” dari Tuhan. Ia tidak hanya menyelamatkan tetapi juga mendidik kita melalui kesulitan dan problema kehidupan agar setiap kegagalan dan tekanan menjadi bagian dari “kurikulum” untuk melatih tangan dan jari kita supaya kita mempunyai kemampuan untuk bertindak, bekerja, dan berjuang dalam hidup.

Kita juga harus menyadari bahwa semua keahlian, ketahanan dan kesabaran kita dalam pergumulan adalah anugerah dan hasil pelatihan dari Tuhan. Kita harus berhenti mengandalkan kekuatan diri sendiri dan berseru, “Tuhan, ajarilah aku, bagaimana aku memenangkan pertempuran ini karena Engkau adalah Guruku.”

Selanjutnya Daud mengajukan pertanyaan retoris kepada Tuhan mengapa Ia begitu memerhatikan dan memperhitungkan padahal dia (manusia) sama seperti angin dan bayang-bayang yang lewat.

Daud secara reflektif membandingkan dirinya dengan kemuliaan Tuhan. Daud menggunakan metafora “angin’ dan ‘bayang-bayang” untuk menggambarkan kerapuhan manusia. “Angin” mengingatkan hidup manusia yang berlangsung sebentar saja, mudah hilang dan pada dasarnya kosong, sia-sia tidak memiliki tujuan kekal. Sementara “bayang-bayang yang lewat” menunjukkan pergerakan cepat, meninggalkan jejak minimal, menggambarkan kefanaan yang cepat berlalu. Bayangan tidak memiliki substansi ataupun kekekalan. Jelas, perhatian Tuhan terhadap kita adalah anugerah murni dari-Nya. Kita fana, rapuh, singkat tetapi Tuhan yang kekal memilih untuk memedulikan dan mengindahkan kita. Nilai kita tidak terletak pada apa yang kita capai atau miliki melainkan semata-mata karena anugerah dan kasih setia Tuhan yang selalu tersedia bagi kita. 

Pergumulan sering membuat kita merasa kecil dan tidak berarti tetapi justru kondisi kita yang fana dan rapuh menjadi bukti kepedulian dan kasih setia-Nya yang tidak terbatas kepada kita.

  • Kesadaran akan kekuatan (ay. 5-11).
    Kita menyadari bahwa kemenangan kita berasal dari Tuhan. Setelah menetapkan identitas Tuhan, Daud beralih kepada permohonan karena menyadari bahwa kekuatan untuk pembebasan hanya dimiliki oleh Tuhan. Daud menyampaikan doa yang cukup radikal, yakni: memohon manifestasi kuasa Tuhan, Pencipta alam semesta, untuk menyentuh gunung-gunung sehingga berasap, melontarkan kilat untuk menyerakkan, membebaskannya dari banjir (menggambarkan kekacauan) juga menghancurkan musuh yang semua ini diselesaikan di luar logika dan kekuatan manusia. Untuk ini kita harus berdoa dengan skala iman yang sangat besar untuk meyakini bahwa Allah yang mahaagung, mahamulia, mahakuasa peduli membebaskan kita yang sangat kecil, rapuh dan fana ini. 

Kemenangan datang ketika kita berhenti megandalkan sumber daya kita sendiri yang terbatas lalu meminta tangan Allah yang jangkauannya tidak terbatas untuk diulurkan. 

Introspeksi: apakah Anda sedang mengalami ancaman air besar (banjir) yang mau menenggelamkan kesehatan, ekonomi bahkan kerohanian Anda? Jangan membatasi pertolongan Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan mengajar tangan Anda untuk bertempur dan membebaskan Anda dari persoalan besar yang sedang dialami saat ini. 

Pergumulan Daud tidak semata-mata masalah fisik tetapi juga pertempuran melawan moralitas. Musuh utamanya adalah kebohongan, penipuan, ketidakkejujuran yang banyak dilakukan oleh manusia. Ingat, kemenangan sejati hanya diberikan oleh Tuhan. Tuhan adalah kebenaran yang harus diandalkan dan Ia satu-satunya yang memiliki kuasa untuk melepaskan umat-Nya bukan hanya dari bahaya tetapi juga godaan untuk berkompromi dengan ketidakkebenaran dan cengkeraman kepalsuan. 

Jujur, bukankah kita sering tergoda untuk berbohong dan memanipulasi situasi. Kemenangan dari Tuhan membuat kita tetap berintegritas dan jujur di tengah dunia yang penuh dengan kebencian dan dusta. Alhasil, Daud melantunkan nyanyian baru sebagai respons dari imannya (ay. 9-10).

Apa itu nyanyian baru? Ungkapan syukur dan penyembahan yang timbul sebagai respons dari pengalaman atau berkat baru yang luar biasa. Ucapan syukur ini menunjukkan iman profetik Daud walau kemenangan mutlak belum terwujudkan. 

Aplikasi: hendaknya pujian yang kita panjatkan kepada Tuhan bukan menyangkut rutinitas belaka tetapi pengakuan yang berakar dari pengalaman nyata akan kuasa dan kasih setia Tuhan kepada kita. Kemenangan harus mengarah kepada pembaruan penyembahan. Kita tidak boleh kembali ke cara lama dalam memuji Tuhan. Setiap pembebasan/kemenangan dari kesulitan, kesembuhan menuntut pembaruan penyembahan. Kemenangan adalah bukti nyata dari kuasa dan kasih Allah. Kemenangan harus menyalakan kembali api pengabdian, komitmen dan pelayanan kita yang telah redup. 

Apa maksud “cara lama” dalam memuji Tuhan? Itulah rutinitas ibadah yang hambar, tanpa perasaan,  otomatis, rutin tanpa melibatkan hati. Cara memuji Tuhan semacam ini tidak mencerminkan ke dalaman relasi dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Setelah mengalami pembebasan yang unik itulah pengalaman keselamatan, terjadilah perubahan radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya, memberi dampak positif serta mendalam. Alhasil,  ibadah kita tidak boleh lagi bersifat formalitas sebatas melakukan liturgi gereja sebab kemenangan yang besar menuntut pujian yang lebih besar, tulus dan hidup. Kita mengabdi berdasarkan iman yang nyata dan bukti bahwa Allah itu setia dan berkuasa. Contoh: bila kita dibebaskan dari kesulitan keuangan, pengabdian baru kita ialah kesediaan untuk berbagi lebih karena percaya pada penyediaan Tuhan; bila disembuhkan dari penyakit berat, kita berkomitmen untuk melayani sesama dengan sukarela dst. Kemenangan apa yang sudah Anda alami? Jangan hanya mengucap syukur dan bernafas lega tetapi jadikan kemenangan itu sebagai bahan bakar untuk “nyanyian baru” menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita. 

  • Kesadaran tujuan (ay. 12-15). 
    Akhirnya Daud menyadari bahwa kemenangan yang diraih bukan untuk diri sendiri tetapi untuk mewujudkan berkat Tuhan bagi seluruh komunitas. 

Daud mengalihkan fokusnya dari perang ke warisan dan kesejahteraan umat. Doanya mencakup berkat generasi (anak laki-laki yang kuat dan terhormat) dan berkat materi (lumbung penuh, ternak berlipat ganda). Kemenangan rohani harus menghasilkan buah dalam realitas sehari-hari. 

Tujuan Daud berperang ialah agar generasi berikutnya dapat hidup dalam kebenaran, kekuatan dan kemakmuran. Kemenangan sejati membangun kemenangan yang meluas kepada keluarga dan sanak saudara. Oleh sebab itu gunakan kedamaian, kesembuhan, kekuatan baru untuk menopang dan melayani sesama agar mereka juga berbahagia. Kemenangan sejati tidak terletak seberapa besar berkat yang kita terima melainkan seberapa intim relasi kita dengan Tuhan. Berkat dan kedamaian bukan tujuan akhir dari iman tetapi efek samping yang tidak terhindarkan akibat hubungan erat kita dengan Tuhan. Jangan menukar relasi dengan Tuhan demi berkat-Nya!

Jangan berkecil hati apalagi putus asa ketika pergumulan hidup menerpa bertubi-tubi; justru di saat itu kita harus menyadari identitas siapa Tuhan dan siapa diri kita untuk memuliakan Dia, Pencipta alam semesta; menyadari kekuatan kita yang tidak seberapa tetapi beroleh kemenangan dari-Nya juga menyadari tujuan perolehan kemenangan ialah untuk menjadi berkat bagi sesama melalui kesaksian hidup kita. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: