• Hanya Wanitakah yang Berdosa?
  • 2026-11-05
  • Liliek Harwani

Peristiwa itu terjadi begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Dengan cepat tangan-tangan kuat itu mencengkeram lengannya dan menariknya keluar. Tak ada waktu baginya untuk menjelaskan, membela diri apalagi mengelak. Bahkan dia juga tak sempat merapikan pakaiannya agar terlihat sedikit lebih senonoh. Semua terlihat begitu gamblang, terpampang jelas di depan mata banyak orang yang memergoki perbuatan aibnya.

Bak orang yang sudah tak punya harga diri, dia diseret dan dibawa ke tempat orang banyak berkumpul. Tempat ibadah. Tempat bersekutunya orang-orang yang ingin mencari kebenaran, termasuk juga mereka-mereka yang merasa atau menganggap dirinya benar.

Dia begitu putus asa. Dia tahu bahwa dia telah melakukan perbuatan yang jauh dari kebenaran. Perbuatan yang dibenci oleh semua agama apa pun di dunia ini. Dan dia tidak mungkin berharap bakal ada orang yang rela membelanya walau sekadar untuk meringankan hukuman yang sudah berada di depan matanya. Hukum yang sudah diturunkan dari zaman ke zaman tetap harus dilaksanakan sampai kapan pun.

Rasanya bukan hukuman rajam yang membuatnya takut dan tersiksa. Namun sorot mata dan senyum sinis dari para pendakwa yang seakan telah menyayat dan membelah mati tubuhnya sebelum batu-batu dilempar ke arahnya. Termasuk kata-kata cemooh dan ejekan yang keluar dari mulut para pemuka agama seakan mereka adalah orang suci tanpa cela sementara dirinya adalah wanita pendosa yang paling menjijikan. 

Sama sekali tidak ada keberanian padanya untuk mencoba melihat keadaan sekeliling. Dia hanya bisa tertunduk….malu dan pasrah ketika juru bicara orang-orang itu mulai membeberkan satu persatu nista yang telah dilakukannya. Dari tempat tersungkur tak berdaya, dia hanya dapat merasakan ada Seseorang di depannya yang terus memandangnya penuh kasih tanpa ada sikap menuduh. Aneh…siapa gerangan “Dia” pikirnya. Mengapa orang-orang itu terus mendesak Dia untuk segera memberi jawaban soal rajam batu yang dikenakan padanya? 

Eh….tunggu sepertinya ada sesuatu yang kurang di sini. Mengapa hanya wanita itu yang dibawa untuk diadili? Bukankah tadi ada laki-laki yang bersama dia di dalam bilik itu? Tidak mungkinkan dia juga melakukan dosa itu? Lalu ke mana perginya laki-laki tersebut? Apa karena dia seorang pria maka dia boleh berbuat dosa sembarangan dan terlepas dari hukum? Apakah hanya wanita yang harus menanggung semuanya sendiri? Hanya wanitakah yang dapat di “dosa”kan untuk sebuah kesalahan dosa yang dilakukan bersama? Sedangkan si pria bebas melenggang pergi tanpa harus bertanggung jawab?

Aku mulai mencium adanya strategi licik yang sedang mereka kerjakan untuk menjebak Dia. Para orang sok pintar itu ingin memojokkan-Nya pada dua pilihan – Dia harus menggagalkan hukum demi kasih dan pengampunan atau Dia harus membatalkan misi-Nya datang ke dunia ini, yaitu untuk mengampuni dan menyelamatkan manusia berdosa karena hukum tetap hukum yang harus ditegakkan.

Napasku seakan berhenti ketika harus menunggu apa kira-kira jawab Dia yang berada di hadapan wanita yang didosakan tadi. Oooh…Dia benar-benar menganggumkan. Aku bangga memiliki Junjungan seperti Dia. Kulihat Dia menulis sesuatu dengan jarinya di tanah. Tak tahu apa yang ditulis-Nya. Yang jelas banyak orang makin penasaran menunggu keputusan-Nya.

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”, kata-Nya penuh wibawa sambil berdiri dan menatap tajam setiap mata yang memandang kepada-Nya, yang ingin mencari kesalahan-Nya. Tiba-tiba….hening mencekam menyelimuti tempat penghakiman itu sementara si pesakitan sudah menyiapkan diri untuk menerima timpukan batu pertama yang akan menimpanya, entah bagian tubuh yang mana dulu. Tapi kok… semua diam? Kok semua jadi bisu? Mana koar-koar dan teriakan dari para orang “bijak” tadi? Kembali kulihat Junjunganku membungkuk dan menuliskan sesuatu di tanah.

Bagaikan pengecut yang kehilangan senjatanya, para pendakwa mulai menyelinap pergi satu persatu lewat belakang punggung yang lain meninggalkan tempat itu sambil menutupi wajahnya. Aku yakin mereka pasti malu. Siapa sih kita, manusia, yang tidak berdosa? Kitanya saja yang suka merasa lebih suci daripada orang lain dan dengan mudahnya menghakimi sesama. 

Sepertinya para ahli agama itu masuk dalam perangkap yang dibuatnya sendiri. Mereka tahu betul hukum Musa yang mengatakan “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar……jangan engkau turut kebanyakan orang yang membelokkan hukum”. Sementara hukum lain juga mengatakan bahwa siapa pun yang kedapatan berbuat zina harus dibunuh keduanya baik yang laki-laki maupun yang perempuan. (Kel. 23:1-2; Ul. 22:22). Namun mereka hanya membawa perempuan itu seorang. Mereka ingin menerapkan satu hukum demi kepentingan pribadi dan kelompoknya tetapi mengabaikan hukum lain yang sebenarnya sangat erat kaitannya. 

Masih tertunduk kaku, perempuan itu menunggu kapan rajam dimulai. “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Suara itu begitu lembut tetapi cukup membuatnya tersentak kaget seakan baru bangun dari sebuah mimpi buruk. 

Tidak ada seorang pun yang tinggal untuk menghukum dia dengan lemparan batu. Hanya ada Dia, Yesus, yang tetap bersamanya di situ. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”, kata Yesus.

Basah mataku merenungkan kebaikan dan kemurahan-Nya. Dia juga tidak menghukum para ahli Taurat yang sudah berusaha menjebak-Nya. Aku yang tidak terlibat saja sudah ingin meledak emosiku karena jengkel dan kesal melihat ketidakadilan itu. 

Bagi Tuhan, laki-laki dan perempuan sama berharga di mata-Nya. Selalu ada kasih dan anugerah yang Ia sediakan. Selalu ada pengampunan yang Dia berikan sebesar apa pun dosa itu. Peristiwa ini membuatku sadar bahwa kurban Kristus untuk menyelamatkan dunia tidak untuk diremehkan dan dipandang enteng dengan berpikir “santai aja, berbuat dosa tidak masalah, toh Yesus tidak akan menghukum” --- SALAH!!! 

Sekali lagi, sebesar apa pun dosa itu memang selalu ada pengampunan yang Dia berikan karena hukuman dan kutuk yang seharusnya ditimpahkan kepada kita sudah ditanggungNya di Golgota. Namun Ia juga berpesan, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh. 8:1-11)

*******