• Orang Benar di Hadapan Allah
  • KISAH ALLAH DAN KITA
  • 2026-11-05
  • Edi sugianto
orag-benar-di-hadapan-Allah

Pengantar

Orang yang baik belum tentu benar namun orang yang benar pasti menyatakan kebaikan. Salah satu bagian Alkitab yang membicarakan perihal orang benar ada di Kejadian 18 – 19. Ketika mendengar atau membaca secara sepintas teks ini, pemikiran kita langsung terfokus pada kisah kota Sodom dan Gomora berkaitan dengan dosa homoseksualitas. Juga istri Lot yang menjadi tiang garam. Kejahatan luar biasa kota tersebut telah naik ke hadapan Allah dan kebenaran Allah akan menghakiminya. Namun ketika kita membaca teks secara saksama, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kisah Abraham yang sedang tawar-menawar dengan Allah, Hakim segenap bumi tentang orang benar. Topik utama dalam teks ini bukan dosa moral Sodom dan Gomora melainkan tentang keberhargaan orang benar di hadapan Allah. Jadi, siapa dan bagaimana orang benar di hadapan Allah berdasarkan narasi kisah Kejadian 18:16 – 19:29?

Orang Benar Berbeda dengan Orang Fasik

Kejadian 18:23-26 menyatakan bahwa Allah tidak akan membinasakan orang benar bersama dengan orang fasik. Istilah orang benar dalam bahasa Ibrani adalah tsaddiq, yang berarti orang berstatus lurus, benar, dan sesuai dengan standar Allah. Seseorang menjadi benar karena dibenarkan oleh anugerah Allah dan hidupnya mencerminkan kebenaran Allah (Kej. 6:8-8; Rm. 3:21-23; Gal. 3:8). Orang benar percaya kepada Allah dan takut akan Dia. Ia menjadikan perintah Allah sebagai standar hidupnya. Sementara orang fasik, dalam bahasa Ibrani rasyah, berarti orang yang berstatus bengkok, bersalah, dan jahat. Orang fasik tidak mau mengakui Allah dan tidak menghormati-Nya, bahkan hidupnya senantiasa bertentangan dengan kebenaran Firman Allah. Artinya orang benar memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang fasik (Mzm. 1:1-6). Jiwa orang benar akan menderita jika berada di tengah-tengah orang fasik karena cara hidup orang fasik hanya mengikuti hawa nafsu duniawi (2Ptr. 2:6-10). Tuhan melepaskan orang benar dari segala kemalangannya (Mzm. 34:20). Pada akhirnya, orang benar akan diselamatkan dan orang fasik akan dibinasakan. Lalu, bagaimana dengan kita, apakah sudah mencerminkan kehidupan sebagai orang benar di hadapan Allah?

Orang Benar adalah Sahabat Allah

Kejadian 18:16-21 mengisahkan bagaimana Allah tidak menyembunyikan rencana-Nya kepada Abraham, orang benar itu. Hal ini menyatakan prinsip dari sahabat karib yang memiliki hubungan intim dan tanpa rahasia di antara keduanya. Alkitab secara eksplisit menyebut Abraham sebagai sahabat Allah karena kepercayaannya kepada Tuhan diperhitungkan sebagai kebenaran (2Taw. 20:7; Yes. 41:8; Rm. 4:1-5; Gal. 3:6; Yak. 2:23). Artinya, Abraham adalah orang benar yang menjadi sahabat Allah karena iman percayanya. Demikian pula kita yang beriman kepada Kristus adalah orang benar dan sahabat Allah.

Orang benar memiliki keistimewaan di hadapan Allah sebagai sahabat. Allah bersahabat dengan orang benar, yaitu orang yang takut akan Dia dan Ia memberitahukan maksud, rahasia dan perjanjian-Nya kepada mereka (Mzm. 25:14). Prinsip yang sama juga ditegaskan oleh Yesus bahwa Ia memberitahukan segala sesuatu kepada para sahabat-Nya, yaitu mereka yang melakukan perintah Allah (Yoh. 15:14-15). Selanjutnya, sebagai orang benar, Abraham dan keturunannya (termasuk kita secara iman) diperintahkan untuk hidup dalam kebenaran dan keadilan dengan mengikuti kehendak Allah (Kej. 18:18-19; Gal. 3:6-14; Yoh. 15:14).

Orang Benar, Doanya Dijawab oleh Allah

Kejadian 18:22-33 mengisahkan bagaimana Abraham yang adalah orang benar meminta keadilan bagi orang benar di hadapan Allah, Hakim yang benar. Orang benar diperkenan untuk datang mendekat kepada Allah dan menaikkan doa permohonan kepada-Nya. Dalam konteks ini, Abraham bertindak seperti imam yang membela orang benar (Lot) dari hukuman yang akan dijatuhkan bersama orang fasik. Allah mendengar dan menerima doa dari Abraham sebab doa yang dimohonkannya selaras dengan kehendak Allah (Yoh. 15:7-8; 1Yoh. 5:14-15). Sebaliknya, doa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah tidak akan akan dijawab oleh-Nya. Allah mendengar doa dan semua penawaran yang diajukan oleh Abraham.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah mendengar doa orang benar. Allah membenarkan orang percaya dan orang benar yang siang malam berseru kepada-Nya (Luk. 18:6-8). Lebih lanjut, kitab Yakobus menyebutkan bahwa efektivitas doa orang benar sangat besar kuasanya dan ada hasilnya (Yak. 5:16). Doa Abraham sangat besar kuasanya sehingga Tuhan menjawabnya. Memang Allah tetap menghukum kota Sodom dan Gomora namun Dia menyelamatkan Lot karena mengingat doa Abraham (Kej. 19:29). Demikian pula saat ini, kita sebagai orang benar dapat menaikkan doa yang sesuai dengan kehendak Allah dan Ia pasti menjawabnya (Yoh. 15:7-8; 1Yoh. 5:14-15). Saat ini kita memiliki keberanian untuk menghadap hadirat Allah (Ibr. 4:16). Biarlah kita juga berdoa untuk keluarga, kota dan bangsa kita agar keadilan Allah ditegakkan dan kemuliaan-Nya dinyatakan.

Kehadiran Orang Benar Menahan Hukuman Allah

Keberhargaan orang benar di hadapan Allah terlihat dari dialog tawar-menawar Abraham kepada Allah tentang jumlah orang benar yang turun secara sistematis dari 50, 45, 30, 20, 10 (Kej. 18:23-33). Abraham ‘mengingatkan’ Allah agar tidak membinasakan orang benar bersama orang fasik. Sementara itu Allah juga menegaskan bahwa Dia akan mengampuni serta tidak membinasakan orang atau  pun kota fasik demi orang benar yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang benar dapat menahan hukuman Allah dan orang benar menjadi saluran berkat bagi orang-orang sekitarnya. Kisah tawar-menawar berhenti di angka 10 orang benar setelah itu Allah pergi dan Abraham pun kembali ke tempatnya. 

Pasal selanjutnya (Kej. 19:1-29) mengisahkan bagaimana kedua malaikat Tuhan datang ke Sodom untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya. Tuhan berketetapan untuk tetap membinasakan kota Sodom yang penuh dengan dosa sebab ternyata tidak ditemukan 10 orang benar di dalamnya. Seandainya kota tersebut mempunyai 10 orang benar saja, pasti tidak akan dibinasakan Allah. Namun demikian ada hal yang menarik yakni bagaimana kehadiran orang benar dapat menahan hukuman Allah. Lot adalah orang benar (2Ptr. 2:6-8); oleh sebab itu dinyatakan bahwa malaikat Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa (melaksanakan hukuman) selama ada orang benar di dalamnya (Kej. 19:22). Selanjutnya, permohonan Lot dan keberadaannya sebagai orang benar juga menahan hukuman Allah atas kota Zoar yang seharusnya turut dibinasakan (Kej. 19:17-23). Oleh sebab itu biarlah kehidupan kita sebagai orang benar dapat berdampak bagi orang-orang dan tempat di mana kita berada. Juga menjadi pemberita kebenaran kepada semua orang agar mereka percaya kepada Kristus dan dibenarkan oleh Allah (2Ptr. 2:5).

Orang Benar Membenarkan Orang yang Tidak Benar

Kisah Allah dan umat-Nya dalam Kejadian 18 – 19 menunjukkan bahwa dalam diri manusia sendiri tidak ada kebenaran yang dapat membenarkan dirinya sendiri, keluarga atau pun komunitas di mana ia berada. Kebenaran Abraham dan Lot hanya mampu menahan hukuman Allah atas orang fasik dan bukan membenarkannya. Abraham tidak dapat membenarkan keponakannya, Lot, dan Lot pun tidak dapat membenarkan penduduk kota Sodom dari segala kejahatan mereka. Ini selaras dengan konsep yang ditegaskan dalam Perjanjian Baru bahwa semua manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah sehingga tidak dapat membenarkan dirinya sendiri atau pun orang lain (Rm. 3:23). Lalu siapa yang dapat membenarkan manusia berdosa? Pembenaran yang sejati hanya berasal dari Kebenaran yang sejati, yaitu dari Allah sendiri. Dalam Yesaya 53 dinubuatkan bahwa Hamba Allah, yaitu Satu Orang Benar akan membenarkan banyak orang dan memikul segala kejahatan mereka (ay. 11). Nubuatan ini digenapi di dalam diri Anak Allah, yaitu Yesus Kristus, Orang Benar itu.

Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya orang benar yang dapat membenarkan orang-orang yang tidak benar (Rm. 3:21-26). Ia adalah satu-satunya manusia benar, yang lurus dan sempurna di hadapan Allah. Ketaatan dan kebenaran-Nya di hadapan Allah dapat membenarkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Kasih dan keadilan Allah bertemu di atas kayu salib di mana Yesus yang benar dan oleh karena kasih-Nya menanggung keadilan Allah yang menghukum dosa ketidakbenaran manusia (1Ptr. 3:18; 2Kor. 5:21). Yesus Kristus tidak hanya membenarkan satu orang atau satu kota tetapi membenarkan semua orang di seluruh dunia yang percaya kepada-Nya (Rm. 3:26). Artinya di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita manusia yang percaya kepada-Nya dibenarkan di hadapan Allah. Jadi kita menjadi benar bukan karena perbuatan kita melainkan karena iman percaya kita kepada-Nya.

Refleksi Bagi Kita, Orang Benar Masa Kini

Pada akhirnya, kisah dalam Kejadian 18 – 19 menjadi cerminan bagi kisah Allah dan umat-Nya untuk kehidupan masa kini. Kita diingatkan bahwa status kita sebagai orang benar:

-     bukan karena usaha kita melainkan karena kita percaya kepada Kristus yang telah membenarkan kita. 

-     hidup kita harus berbeda dengan orang fasik dan kita hidup sesuai dengan standar kebenaran Firman Allah. 

-     kita adalah sahabat Allah yang perlu senantiasa bergaul karib dengan-Nya. 

-     kita memiliki akses untuk datang kehadirat Allah dan menaikkan doa-doa syafaat kita. 

-     kita harus berdampak bagi keluarga, lingkungan, kota, bangsa bahkan bagi dunia ini. 

Kebenaran sejati datangnya bukan dari manusia berdosa melainkan hanya dari Allah, Sang Kebenaran itu sendiri. Biarlah status kita sebagai orang benar di hadapan Allah dapat nyata melalui perbuatan-perbuatan baik kita dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memuliakan Tuhan serta menjadi berkat bagi sesama dan komunitas kita. 

*******