• Memenuhi Panggilan yang Mulia
  • 2026-11-05
  • Ursulla Maharani

Kisah perjumpaan pribadi dengan Yesus saat saya down membuat saya penasaran untuk mengenal lebih dekat siapa Dia. Mulailah saya mencari gereja Kristen untuk ibadah. Karena hari itu bukan Minggu tetapi Rabu, saya disarankan pergi ke ibadah Kaum Wanita (2008) dan saya duduk sendirian di belakang tanpa mengenal seorang pun di sana. Tiba-tiba pembicara mimbar mengatakan sesuatu yang sangat mengena berkaitan dengan keberangkatan putra saya yang belajar di Australia. Saya kaget dan berkata dalam hati kok bisa ya. Kejadian ini tidak terjadi hanya sekali. Saat mengikuti persekutuan doa di tempat lain dan mau pulang saya ketemu teman dari Lion’s club yang meminta saya menggantikan tempat duduknya di depan karena dia ada keperluan harus pulang lebih dahulu. Saya tidak mengerti mengapa masih ada orang-orang berebutan duduk di depan. Majulah saya dan ternyata  ada altar call. Tiba-tiba pemimpin doa yang tidak saya kenal mendatangi saya sambil menyerahkan tongkat berbisik, “Engkau siapkan dirimu, Aku akan memakaimu melayani banyak perempuan.” Saya ketakutan dan sebelum pulang saya protes kepada Ibu pendoa tersebut, “Maaf ya Bu, saya tidak mau, saya tidak bisa melayani orang-orang yang dalam penderitaan.” Jawabnya, “Saya hanya menyampaikan hal ini dari Tuhan. Kalau Ibu menolak, ini urusan Ibu dengan Tuhan.”

Saya terus kepikiran, di dalam mobil saya menelepon teman menceritakan masalah ini. Dia menenangkan saya, “Jangan takut, diterima saja karena itu pesan dari Tuhan. Kalau Tuhan menyuruh, Ia akan memperlengkapimu.” 

Sebagai orang Kristen baru, saya memutuskan mencari Tuhan tidak setengah-setengah karena dari kecil saya memang haus dan lapar ingin tahu siapa Tuhan itu hingga saya masuk Katolik tetapi tidak pernah membaca Alkitab kemudian pindah agama Buddha. Tahun 2008 saya ikut Yesus dan berjanji akan mengikut Dia seumur hidup.

Mulailah saya aktif membaca Alkitab dan berjemaat baik di ibadah raya maupun di Kaum Wanita serta menghadiri undangan-undangan kebaktian juga masuk sekolah teologi untuk memperdalam pengenalan akan Tuhan. Saya kemudian terlibat melayani KKRnya pendeta-pendeta besar yang tidak saya kenal secara pribadi.

Waktu bergulir terus dan tanpa terasa pada tahun 2018 saya diundang sahabat saya, ambasador dari Amerika, yang bertugas di India. Saya berkesempatan mengunjungi makam Mother Theresa di Calcutta. Makam Mother Teresa memakai granit putih dan ada tiga gedung tempat menampung anak-anak yang dibuang, orang-orang cacat dan perempuan-perempuan yang dibuang. Hati saya hancur tidak kuat melihat penderitaan mereka. Saya keluar dari ruangan itu dan menangis di lapangan, marah kepada Tuhan mengapa mengirim saya ke “neraka” ini. Tiba-tiba saya dipeluk oleh Mother Josephine, pengganti Mother Teresa, dibawa ke kantornya dan didoakan. Beliau sempat mengatakan, “I can see that the Lord Jesus is going to use you, be ready!” 

Saat itu merupakan peneguhan panggilan saya untuk melayani Tuhan. Sepulangnya ke Indonesia mulailah saya memikirkan untuk mengedukasi perempuan-perempuan Indonesia yang tampak galak dan depresi tak peduli mereka berpendidikan tinggi, aktif pelayanan, kaya. Amat disayangkan gereja tidak sanggup mengakomodasi kebutuhan mereka untuk dibina dan dilatih sepenuhnya. 

Perempuan penting belajar ketuhanan dari Firman Tuhan tetapi harus mengerti bagaimana melakukan Firman tersebut dengan merawat hati, belajar mengendalikan diri, menerima realita dan melepaskan ketidakmampuan kepada Tuhan yang akan dibereskan-Nya. Perempuan tidak perlu bersikap galak untuk menunjukkan kekuasaan atau menutupi kelemahannya. 

Perempuan harus dididik sebelum menikah untuk mempersiapkan kelahiran manusia-manusia muda yang sehat jasmani rohani menyongsong kesejahteraan hari demi hari di hadirat Tuhan. Hanya di hadirat Tuhan, kita dapat berdamai dengan diri sendiri, dengan Allah dan dengan alam. Dan pembelajaran harus berlangsung seumur hidup untuk merenovasi cara berpikir karena Tuhan menganugerahkan kita akal budi.

Bersama teman-teman dari lintas beda agama, kami berenam mendirikan Ladies’ Study sebagai hak paten dari Perempuan Indonesia Belajar yang diperebutkan oleh hampir 300 lembaga di Indonesia. 

Misi dari Ladies’ Study ialah mencerdaskan perempuan-perempuan untuk menyadari dan membangun generasi manusia-manusia baru yang lebih sehat, cerdas, bermoral, berketuhanan yang mahaesa,  menjadi bangsa yang kuat dan berdampak bagi negara. 

Ladies’ Study ini bersifat universal - lintas agama – untuk memeluk semua umat bukan berdiri hanya pada satu agama yang terkadang malah menonjolkan kesombongan dan memecah belah. Kebenaran harus ditegakkan serta berani meminta maaf mengakui kesalahan dengan rendah hati dan tulus. Seorang pemimpin bukan sekadar menjadi bos tetapi berani mengambil bagian terberat termasuk penghinaan. Tidak pula mencari nama dan pujian apalagi mencuri kemuliaan Tuhan, cukup melakukan tugas yang menghasilkan buah!

Kami berenam mempunyai goal sama yakni ingin belajar untuk menambah wawasan kemudian mengundang pembicara dra. Astrid Wiratna, seorang psikolog klinis senior dan grup ini awalnya kami namai 007 ala James Bond yang membela kebenaran. Makin lama grup ini makin berkembang dan pembicaranya (cukup kompeten) makin banyak dari pelbagai macam disiplin ilmu. Di grup ini kami belajar bersama, ada dewan pembina, dewan pakar dan dosen-dosen senior mayoritas S3. Topik pembahasan fokus pada perempuan dengan permasalahannya juga bagaimana meng-upgrade diri baik jasmani maupun rohani.

Komunitas Ladies’ study merupakan panggilan melayani kaum mapan yang sering mengalami kemiskinan kasih sejati oleh karena kepalsuan kasih dunia yang hanya mengincar harta mereka bukan jiwa mereka sebagai manusia. Dan seizin Tuhan, kami tidak menerima sumbangan tetapi hidup dicukupkan dengan dana yang ada di kas bendahara agar terbebas dan bersih dari masalah uang yang umumnya menjadi akar kegaduhan di dunia ini. Orang kaya dinilai hanya dari uang padahal sesungguhnya persembahan terbesar ialah hati penuh kasih. Orang kaya mampu memberi tanpa kasih tetapi orang yang mengasihi (tidak sebatas orang kaya) pasti suka memberi. Perempuan diajari self-love (mencintai diri sendiri dengan cara yang sehat) untuk dapat mengasihi orang-orang di sekitarnya. Self-love itu penting untuk dapat mengampuni dan menerima diri sendiri sebelum dapat mengampuni orang lain. Perjuangan manusia seumur hidup adalah waras. Jangan hanya berpenampilan cantik (di luar) tetapi bermasalah kejiwaannya!

Grup Ladies’ study berdiri tahun 2018 dan mengedepankan prinsip kebenaran bukan untuk mencari pencitraan dan popularitas. Kedisiplinan menjadi harga mati untuk diikuti oleh setiap anggota. Dan kita harus berkarakterkan servant leadership yang memperlakukan orang bukan berdasarkan kemauan sendiri karena ada uang dan power bagaikan bos tetapi meninggalkan keteladanan dan value dalam membangun manusia dengan meneladan Yesus. 

Misi dari Ladies’ study ialah menjadi sahabat sejati, saling menghormati dan saling mengasihi. Grup ini memiliki moto “be genuine, be godly and be fun”. Kita membangun dan membuang dengan ikhlas sampah kekotoran (amarah, kebencian, dendam, kepahitan dll.) dalam hati karena Yesus adalah “Pemulung” sejati yang memungut kita yang kotor menjijikkan.

Seiring berjalannya waktu, seperti sekolah ada kenaikan kelas, Ladies’ study juga mengalami peningkatan level maka pada tanggal 1 Juli 2026 dibagi menjadi dua kelas, yakni: (1) ladies’study fun dan (2) Ruang Cukup untuk menampung anggota yang benar-benar serius mau belajar untuk meng-upgrade diri. Sesungguhnya manusia harus belajar seumur hidup agar spiritualitas, intelektualitas, emosionalitas dan jasmani seimbang. 

Sungguh saya percaya panggilan Tuhan tidak pernah salah sasaran dan kalau kita senantiasa memandang wajah-Nya, kita akan bersukacita dan tidak malu (Mzm. 34:6). Jika mata kita tetap terarah kepada-Nya Ia akan menyelamatkan kita dari jerat musuh (Mzm. 25:15). Namun kita perlu “disekolahkan” melalui proses ujian penderitaan agar dapat memiliki pengetahuan dan empati terhadap kondisi orang lain hingga terjadi keubahan yang menjadi kesaksian hidup dan dapat dibaca oleh orang-orang di sekitar kita. 

Masing-masing dari kita dipanggil dan terbeban untuk melayani Tuhan sesuai dengan karunia yang Ia berikan. Pelayanan yang benar akan menyenangkan hati Tuhan, membuat kita sukacita penuh belas kasih serta berdampak keubahan bagi mereka yang kita layani. 

*******