• Osteoporosis: Kenali Sebelum Tulang Patah
  • 2026-11-05
  • dr. Marcus Anthonius Sp.KFR

Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun sehingga tulang menjadi rapuh dan lebih mudah patah. Penyakit ini sering disebut sebagai “silent disease” karena pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau keluhan apa pun.

Mengapa osteoporosis terjadi? Tulang bukanlah jaringan yang mati. Tulang terus mengalami proses pembentukan dan penghancuran sepanjang hidup. Pada usia muda, pembentukan tulang biasanya lebih cepat daripada penghancurannya. Namun dengan bertambahnya usia, terutama setelah menopause pada wanita, penghancuran tulang dapat menjadi lebih cepat daripada pembentukannya. Akibatnya, tulang perlahan menjadi semakin tipis dan rapuh.

Siapa yang lebih berisiko? Beberapa faktor yang meningkatkan risiko osteoporosis antara lain:

  • Usia lanjut
  • Wanita setelah menopause
  • Riwayat osteoporosis atau patah tulang dalam keluarga
  • Berat badan terlalu rendah
  • Kurang aktivitas fisik terutama latihan yang memberi beban pada tulang
  • Kurang asupan Kalsium dan Vitamin D
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Penggunaan obat kortiosteroid dalam jangka  panjang

Beberapa penyakit tertentu yang memengaruhi metabolisme tulang. Apa tanda-tandanya? Pada awalnya sering tidak ada gejala sama sekali. Osteoporosis biasanya baru diketahui setelah terjadi patah tulang. Patah tulang dapat terjadi pada: pinggul, tulang belakang, pergelangan tangan, dan tulang lainnya. 

Pada osteoporosis yang sudah lanjut dapat muncul: 

-     Tinggi badan semakin berkurang

-     Punggung semakin membungkuk

-     Nyeri punggung akibat tulang belakang mengalami keretakan atau kolaps

-     Mudah mengalami patah tulang setelah jatuh ringan atau benturan yang sebenarnya tidak berat.

Bagaimana mengetahui tulang kita kuat atau tidak? Pemeriksaan yang paling umum untuk menilai kepadatan tulang adalah DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry). Pemeriksaan ini terutama pentng bagi orang yang mempunyai faktor risiko osteoporosis. Hasilnya antara lain dinilai dengan T-score: 

T-score ≥ -1: kepadatan tulang normal.

T-score antara -1 sampai -2,5: osteopenia yaitu kepadatan tulangs udah menurun.

T-score ≤ -2,5: osteoporsis

Namun risiko patah tulang tidak hanya ditentukan oleh angka kepadatan tulang. Dokter juga mempertimbangkan usia, riwayat patah tulang, obat-obatan, dan faktor risiko lainnya.

Bagaimana mencegah osteoporosis? Pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum tulang menjadi rapuh, yakni:

1.   Latihan fisik secara teratur

2.   Jalan kaki, naik tangga, latihan beban dan latihan kekuatan dapat membantu mempertahankan kekuatan tulang dan otot

3.   Cukupi Kalsium

4.   Kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahannya, ikan tertentu yang dimakan bersama tulangnya, tahu serta berbagai sumber makanan lainnya.

5.   Cukupi Vitamin D

6.   Vitamin D membantu tubu menyerap kalsium dan berperan dalam ekseatan tulang.

7.   Pertahankan massa otot dan berat badan yang sehat

8.   Hindari rokok dan batasi alkohol

9.   Cegah jatuh terutama pada usia lanjut. Rumah sebaiknya memiliki pencahayaan yang baik, lantai tidak licin dan benda-benda yang dapat membuat tersandung sebaiknya disingkirkan.

Apakah osteoporosis dapat diobati? Bisa ditangani. Tujuan pengobatan bukan hanya meningkatkan kepadatan tulang tetapi terutama mengurangi riiko patah tulang. Dokter dapat memberikan obat osteoporosis tertentu sesuai tingkat risiko pasien. Selain obat tetap diperlukan olahraga yang tepat, asupan Kalsium dan Vitamin D yang cukup serta pencegahan jatuh.

Kesimpulan

Osteoporosis bukan sekadar masalah “tulang keropos”. Patah tulang akibat osteoporosis dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemandirian, sulit berjalan, bahkan menimbulkan komplikasi serius terutama pada usia lanjut. Karena osteoporosis sering tidak memberikan tanda pada awalnya, jangan menunggu sampai tulang patah baru mulai memerhatikannya. Rawat tulang sejak sekarang: bergerak aktif, makan bergizi, cukup vitamin D dan Kalsium, serta melakukan pemeriksaan bila memiliki faktor risiko.

Osteoporosis sering disebut sebagai penyakit yang “diam-diam” karena tulang dapat menjadi rapuh tanpa kita sadari. Namun ada pelajaran rohani di dalamnya apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak penting. Demikian pula dengan kehidupan iman. Akar iman, ketekunan dalam doa, dan hubungan kita dengan Tuhan mungkin tidak selalu terlihat oleh orang lain tetapi justru itulah yang membuat kehidupan kita kuat menghadapi tekanan.

“Orang benar akan bertumbuh seperti pohon kurma.” (Mzm. 92:13) Oleh karena itu mari kita menjaga bukan hanya tubuh kita dengan nutrizi, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjaga jiwa dengan Firman Tuhan, doa dan ketaatan.

*******

 

 

-