
ubungan terlarang dari tiga pihak yang mana pihak ketiga berada di tengah-tengah namanya uang. Jadi antara Allah dengan saya ada penghalang itulah uang. Namun sebenarnya God – Money – Me sejalan dengan urut-urutan dalam penciptaan.
Masih ingatkah kisah penciptaan Allah di Kitab Kejadian 1? Allah menjadi tokoh sentral sebagai Sang Pencipta langit dan bumi. Apa atau siapa yang Allah ciptakan terlebih dahulu? Ternyata Ia tidak langsung menciptakan manusia sebagai ciptaan yang spesial tetapi menciptakan resources, kekayaan alam semesta (energi matahari, pertambangan dan mineral di bawah tanah, tumbuh-tumbuhan, hewan, dst.) yang tidak habis-habis walau sudah diambil ribuan tahun dengan tujuan:
- Menyediakan segala kebutuhan hidup manusia yang dikasihi-Nya. Ilustrasi: calon orang tua telah mempersiapkan dan menyediakan semua kebutuhan (kamar bayi, tempat tidur, pakaian bayi dll.) untuk bayi yang akan dilahirkan ibunya. Terlebih lagi Allah pasti mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan sebelum maunusia diciptakan.
- Untuk memuliakan Allah (Ams. 3:9) sebab Ia yang berinisiatif menciptakan alam semesta dan puas melihat hasil karya ciptaan-Nya yang sangat baik. Contoh: Raja Salomo memanfaatkan semua kekayaan alam (kayu pohon aras dan sanobar, batu-batu pilihan, emas, tembaga dll.) untuk mendirikan Bait Suci yang megah nan mewah dengan tujuan memuliakan Allah.
Jadi Allah yang keberadaannya sejak dari kekekalan, lebih dahulu menciptakan kekayaan alam semesta, baru yang terakhir menciptakan manusia. Dan perhatikan apa perintah Allah kepada manusia di dalam menyikapi semua kekayaan alam tersebut? Menaklukkan dan berkuasa (mengelola) atas semuanya (Kej. 1:28). Kita harus menjaga agar semua kekayaan berada di bawah kekuasaan kita bagaikan memperbudaknya. Jadi, manusia diberikan mandat oleh Sang Pemilik menjadi perwakilan-Nya untuk mengelola dan menaklukkan semua kekayaan alam.
Masalahnya, mampukah manusia mengelola kekayaan alam dengan baik dan tepat? Ilustrasi: setelah menerima gaji pertama, bagaimana mengelola dengan baik uang yang diterima dan dikeluarkan? Apakah menghabiskan uang untuk kebutuhan atau kepentingan? Faktanya, berapa banyak celebrities terkenal berakhir tragis hidup miskin bahkan berutang banyak oleh karena pola hidup glamor.
Jangan lupa pengelolaan kekayaan alam merupakan amanat Tuhan untuk dilaksanakan! Kekayaan hanyalah alat yang dikelola demi tujuan Pemiliknya itulah Allah. Contoh: ketika manusia jatuh ke dalam dosa, buah terlarang (hasil kekayaan alam) menjadi alat yang ditawarkan oleh si penggoda ular. Kejatuhan manusia bukan salahnya ular, si pembohong, atau karena buah terlarang menjadi kambing hitam tetapi manusia memilih untuk jatuh sendiri. Yang jelas Hawa tergoda memetik buah ini bukan karena kelaparan tetapi keinginan menjadi seperti Allah. Benarkah materi (buah terlarang) mempunyai kuasa Ilahi yang sama seperti Allah? Siapa mampu membuat manusia menjadi sama seperti Allah? Bukankah hanya Allah sendiri? Namun manusia tergoda karena di dalam hatinya ada keinginan melampaui apa yang Allah tentukan sebagai bentuk ketidakpuasan. Keinginan semacam ini terkesan mekso (tanpa izin kepada Allah lebih dahulu) kemudian percaya bahwa suatu benda mempunyai kuasa. Misal: manusia melihat matahari, pohon besar, patung dll. memberikan nilai Ilahi kepada materi tersebut lalu memercayainya sebagai “Allah”. Waspada, pola ini masih dipakai sampai sekarang. Ketika melihat uang banyak, manusia merasa bahagia, terkenal, aman, dapat hidup mewah, semua kebutuhan terpenuhi dsb. Sebaliknya, kalau tidak mempunyai uang, merasa hidup tidak berarti lalu memaksakan diri memakai pinjol, kredit tanpa agunan dll. Pada akhirnya manusia dengan keinginannya mengangkat uang pada posisi setara dengan Allah. Padahal Yesus menegaskan kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24).
Mengapa manusia suka sekali mempertuhankan Mamon? Sebab Allah tidak selalu mengabulkan semua keinginan kita karena keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh (Gal. 5:17), sementara uang selalu siap sedia memenuhi segala keinginan kita, bahkan sampai dengan keinginan berdosa sekalipun akan dipenuhi oleh uang. Marilah kita berhati-hati memperlakukan dan memosisikan Allah; jangan menyetarakannya dengan uang. Kita harus beriman, berharap dan mengasihi Allah tetapi tidak demikian terhadap uang. Waspada, cinta akan uang adalah akar segala kejahatan (1 Tim. 6:10). Kita memosisikan sesuai dengan apa yang sudah Tuhan rancangkan, yakni: kita hidup benar-benar bertuhankan Allah; jangan kebalik posisinya. Kita menaklukkan dan mengelola semua harta yang Tuhan percayakan maka kita akan menikmati hasilnya dengan baik.
Berbicara mengenai kejatuhan manusia di Taman Eden, begitu dosa masuk, identitas manusia berubah. Begitu lahir, kita adalah hamba dari seseorang atau sesuatu karena manusia pada dasarnya adalah budak. Siapa menjadi tuan kita? Apakah diri sendiri seperti tipuan paling tua yang ditawarkan oleh si ular yakni “kamu akan menjadi seperti Allah”? Hawa terpikat berakibat menuhankan diri sendiri dan selanjutnya yang menjadi pertanyaan ialah “apa yang aku mau?” Berbeda bila kita mempertuhankan Tuhan, pertanyaannya menjadi “apa yang Tuhan mau?” Kalau kita tidak beres dengan identitas kita, kita cenderung berada di posisi bertuhanan diri sendiri sehingga selalu berpikiran apa yang kita mau bukan apa yang Tuhan mau.
Kenyataannya begitu dosa masuk, ada dua faktor utama yang mendorong manusia berfokus, yaitu:
- Kekhawatiran. Manusia mulai dikuasai oleh rasa kekhawatiran (Mat. 6:25-34; Luk. 12:22; 1 Ptr. 5:7) takut kekurangan harta dan uang.
Kekhawatiran menunjukkan kita tidak percaya kepada Tuhan yang memelihara kita padahal kita telah diberi mandat untuk menaklukkan, menguasai, mengelola dan menikmati kekayaan alam.
- Keserakahan (Luk. 12:15;1 Tim. 6:9-10; Ams. 28:22). Manusia dikuasai oleh rasa ketidakpuasan selalu ingin lebih dari yang sudah dimiliki. Kemudian ingin menjadi “Tuhan” atas diri sendiri.
Perhatikan, Alkitab adalah buku terbaik mengenai soal keuangan dan investasi walau ditulis ribuan tahun lalu tetapi masih relevan hingga sekarang.
Mengelola harta dan sumber daya kita berdasarkan Alkitab
Perhatikan, Alkitab adalah buku terbaik mengenai soal keuangan dan investasi walau ditulis ribuan tahun lalu tetapi masih relevan hingga sekarang.
Bagaimana cara mengatur uang secara Alkitabiah di bumi karena uang atau harta hanya ada di bumi ini? Ada dua cara yaitu:
- DO’S: giving (memberi) – spending (menggunakan) – saving (menyimpan) – investing (melipatgandakan).
Giving with a joyful heart (memberi dengan hati yang sukacita).
Begitu menerima berkat, kita diminta untuk memberi sebab segala sesuatu (langit bumi dan isinya) adalah milik Allah (Mzm. 24:1) dan kita hanya pengelolanya. Jangan merasa dunia dengan segala sumber dayanya adalah milik kita!
Mengapa kita harus memberi? Karena Allah senang kita memberi (Ibr. 13:16). Dengan memberi, kita memiutangi Tuhan (Ams. 19:17; Luk. 6:38) dan Ia akan memberi/mengembalikannya.
Kepada siapa kita memberi? Kepada Allah terlebih dahulu sebagai yang utama, karena Allah mau menjadi yang terutama (Ams. 3:9; Mal. 3:10; 2 Kor. 8:3-5) setelah itu baru kepada sesama yang membutuhkan (Ams. 11:25; 1 Yoh. 13:17; 1 Tim. 6:17-19).
Spending wisely (gunakan dengan bijaksana).
Bagaimana caranya?
-
-
- Pastikan alasannya tepat (Flp. 4:6-7, 11-13; Luk. 12:15). Jangan menghabiskan uang gara-gara FOMO tidak mau ketinggalan!
- Rencanakan dan perhitungkan (Luk. 14:28).
- Bedakan antara kebutuhan atau keinginan (1 Tim. 6:8; Flp. 4:19; Yak. 4:2-3). Standar kebutuhan ialah asal ada makanan dan pakaian bukan asal mempunyai mobil dan rumah mewah untuk memenuhi keinginan. Jangan pula berdoa meminta sesuatu untuk memenuhi keinginan hawa nafsu!
- Jangan boros (Ams.21:20)! Jangan habiskan semua uang yang kita dapatkan/terima tetapi kelola dengan baik!
-
Saving diligently (rajin menabung) sebagai persiapan untuk segala musim (baik atau buruk). Belajarlah kepada semut yang tidak mempunyai pemimpin tetapi menyediakan roti di musim panas dan mengumpulkan makanan pada waktu panen (Ams. 6:6-8)!
Jangan habiskan semua uang yang didapat tetapi sisakan sebagian untuk ditabung sebagai akumulasi kekayaan (Ams. 13:11).
Investing carefully (melipatgandakan, memperbanyak, meningkatkan aset dengan hati-hati). Berapa pun yang Tuhan percayakan kepada kita, itu adalah kedaulatan Tuhan dan kita tidak boleh iri hati.
Apa yang harus diperhatikan ketika hendak berinvestasi?
-
- Harus di tempat yang tepat seperti perumpamaan talenta (Mat. 25:27). Ternyata di zaman dahulu sudah ada pemutar uang atau manajer investasi supaya talenta/uangnya bertambah. Taruhlah di tempat yang tepat.
- Pahami dan kelola risiko (Ams. 28:19). Dikatakan “siapa mengejar yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan”. Hati-hati tergoda berinvestasi yang terlalu menggiurkan seperti yang banyak ditawarkan di medsos untuk cepat kaya. Pahami dahulu dan kelola risikonya!
- Diversifikasi (membagi/menyebar). Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang (bnd. Pkh. 11:2,6)!
- DON’TS:
-
- Jangan menomorduakan Tuhan (Mat. 6:24) sebab tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada Tuhan dan Mamon. Waspada, Mamon akan menjadi alat untuk kita menjadi “Tuhan” atas diri sendiri kalau kita tidak bijak menggunakan Mamon itu.
- Jangan cinta uang (1 Tim. 6:10). Jangan hati kita melekat dan terikat dengan uang; oleh sebab memburu uang beberapa orang menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai kesusahan.
- Jangan khawatir (Mat. 6:25a). Bila burung di langit dan bunga bakung di ladang dipelihara Tuhan, apalagi kita, anak-anak-Nya?
- Jangan serakah. Tentu tidak dilarang menjadi kaya tetapi jangan kekayaan menjadi tujuan akhir untuk diraih (Pkh 5:9)
- Jangan ingin kaya. Perhatikan, Iblis sangat cerdik nan licik untuk menipu kita. Firman Tuhan menegaskan orang yang ingin cepat menjadi kaya tidak akan luput dari hukuman (Ams. 28:20).
- Jangan utang apalagi kalau ‘terjebak’ utang karena orang kaya menguasai orang miskin dan yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi (Ams 22:7). Sedangkan kita harusnya menjadi ‘budak’ nya Allah.
- Jangan malas (Ams. 6:11) karena kemalasan mendatangkan kemiskinan. Juga orang yang tidak mau kerja janganlah ia makan (2 Tes. 3:10).
Demikianlah langkah-langkah praktis yang harus kita lakukan/tidak lakukan sebagai pengelola berkat kekayaan dari Tuhan. Bila kita mengutamakan posisi Allah di atas segalanya dan mengelola berkat alam semesta pemberian-Nya dengan tepat, Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita terlunta-lunta tetapi memelihara kesejahteraan hidup kita.
*******