Shalom,
Ketika ada keretakan di tembok, hanya ada dua pilihan yang dapat diambil, segera diperbaiki agar pulih kondisinya atau tetap dibiarkan dengan konsekuensi makin lama retaknya makin membesar serta melebar dan akhirnya menimbulkan persoalan yang lebih besar. Demikian pula kondisi kehidupan pasangan nikah yang dilanda keretakan tanpa diduga datangnya tak terkecuali menimpa anak-anak Tuhan pula. Ilustrasi: siapa pun kalau ditusuk jarum akan terasa sakit, terkena api akan mengaduh kepanasan dll. Dengan kata lain, setiap dari kita pasti pernah mengalami kecewa, marah, tersinggung, salah memahami, salah mengambil keputusan dst.
Kenyataannya, keretakan di dalam hidup nikah dan keluarga diawali bukan dari persoalan yang besar. Masalahnya, tindakan apa yang dilakukan, kalau keretakan dibiarkan berlarut-larut tanpa ada penanganan yang tepat akan makin membesar dan meluas hingga tiba saatnya terjadi kerusakan yang jauh lebih parah.
Bagaimana mempertahankan komitmen di dalam pernikahan untuk memperbaiki keretakan dalam hidup nikah?
- Jalani pernikahan dengan penuh tanggung jawab (ay. 3).
Umumnya konseling dilakukan bagi pasangan pranikah untuk mempersiapkan diri memasuki hidup nikah padahal konseling juga diperlukan bagi pasangan pascanikah.
Pernikahan tidak selesai seusai pemberkatan tetapi komitmen justru diuji setelah menikah bagaimana menjaga keutuhan nikah yang menuntut pengurbanan ego masing-masing.
Keretakan dalam hidup nikah dan rumah tangga akan berisiko tinggi jika dibiarkan tidak ditangani dengan anggapan akan selesai sendiri seiring berjalannya waktu. Permasalahan umumnya diawali dengan masalah sepele membuat suami mulai diam, istri menjauh dan percakapan makin sedikit, perhatian makin berkurang – dua orang masih tinggal dalam satu rumah tetapi perlahan tampak sebagai orang asing, masing-masing asyik dengan diri sendiri.
Menurut data statistik, angka perceraian makin hari makin tinggi juga ada orang Kristen di dalamnya. Orang bercerai tidak harus selingkuh tetapi dapat pula disebabkan karena kurang/tidak adanya komunikasi, tidak ada keintiman (emosional), atau suka ribut mempermasalah hal yang remeh-temeh.
Allah menciptakan nikah, menyatukan satu laki-laki dan satu perempuan bukan untuk jalan sendiri-sendiri tetapi mengikat keduanya menjadi satu serta memberikan kewajiban kepada istri maupun suami untuk dipenuhi (Ef. 5:21-33). Masing-masing diperintahkan untuk saling merendahkan diri dan memenuhi kewajiban tanpa harus menunggu siapa yang melakukannya lebih dahulu. Ingat, sebagai Pencipta nikah, Allah hadir di tengah-tengah kehidupan intim suami-istri.
- Membangun pernikahan dengan saling memberi (ay. 4).
Perhatikan, “istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi suaminya; demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi istrinya”, Ini konsep saling memiliki sepenuhnya bukan hubungan transaksional. Prinsip ini secara langsung menghancurkan ego dari suami maupun istri. Saling memberi diri di dalam pernikahan bukan hanya persoalan tubuh tetapi juga memberikan waktu, perhatian, tenaga, telinga untuk mendengar, kesediaan untuk memahami di dalam kerendahan hati. Dengan demikian, kewajiban membangun pernikahan dilakukan bersama dengan penuh tanggung jawab tanpa ada perbedaan pembagian tugas. Namun jangan melakukannya tanpa hati dan pikiran tulus. Juga komunikasi antara suami-istri harus intens dilakukan.
Pernikahan Kristen bukan pula soal mendominasi pasangan hidupnya karena istilah “tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri” sehingga istri/suami sangat ketakutan tidak berani membantah omongan suami/istri yang keras. Ikatan pernikahan adalah ikatan kudus bukan yang liar tidak terkendali juga saling memberi.
- Rawat pernikahan dengan saling menjaga (ay. 5).
Pernikahan orang tua seharusnya menjadi contoh bagi anak-anaknya. Jangan anak trauma takut menikah karena setiap hari melihat pertengkaran orang tuanya. Bahkan beberapa kasus anak menjadi homo/lesbi karena ayah KDRT terhadap ibunya sehingga anak membenci laki-laki atau ibu terlalu dominan dan tidak ada figur ayah dalam keluarga.
Pembelajaran: bagi anak muda yang akan masuk dalam kehidupan nikah agar mempersiapkan diri untuk tidak mengedepankan ego dan berani minta maaf kalau salah. Belajar menghargai orang lain sebelum statusnya berubah menjadi suami dan istri. Seluruh karakter akan dibawa masuk dalam pernikahan dan akan mengenali siapa dan bagaimana sifat asli pasangannya.
Aplikasi: saat masuk dalam kehidupan nikah, masing-masing membawa seluruh sifat, watak dan karakter yang tidak mungkin sama karena beda latar belakang. Dan pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan tanpa masalah. Konflik karena beda pendapat sangatlah wajar terjadi tetapi suami/istri tidak boleh terus membiarkannya yang mengakibatkan keretakan dalam hubungan nikah.
Pernikahan harus dirawat, dijaga, dan dipupuk. Caranya? Mengurangi ego, belajar mementingkan orang lain, menyukai apa yang disukai suami/istri, mampu mengampuni dll.
Memang ada istilah “saling menjauhi untuk sementara waktu” Kata “menjauhi” sebenarnya berarti “menahan sebentar” mungkin karena ada tugas dan urusan pekerjaan ke luar kota dll. tetapi “perpisahan” sementara waktu ini harus atas persetujuan bersama (bukan satu pihak). Juga bertujuan rohani yakni kesempatan untuk berdoa namun setelah itu kembali hidup bersama karena ditakutkan tidak dapat mengendalikan diri yang memberi ruang terjadinya perselingkuhan. Suami-istri harus tahu batas kelemahannya dan berdoa supaya Tuhan masuk mengintervensi sehingga mereka terhindar dari godaan Iblis yang mau merusak hubungan mereka.
Jangan merasa diri kuat lalu mencoba menambal atau menutupi keretakan dengan kekuatan diri sendiri. Datanglah kepada Tuhan yang sanggup menolong dan memulihkan serta menjamah “luka yang lebar dan dalam” untuk disembuhkan.
Hendaknya suami-istri berkomitmen dalam pernikahan dengan penuh tanggung jawab, saling memberi bukan menguasai, bukan pula mengedepankan ego sendiri. Juga hubungan nikah harus dijaga serta dirawat agar terhindar dari godaan Iblis yang berusaha menghancurkan hubungan suami-istri. Dan jangan lupa pasangan suami-istri harus selalu terhubung dengan Tuhan, Pencipta nikah, agar pernikahan langgeng sampai maut memisahkan mereka. Amin.