Shalom,
1 Korintus 7 dimulai dengan kata ‘Dan sekarang’ menunjukkan peralihan dari teguran dan peringatan keras Rasul Paulus terhadap jemaat Koristus menjadi FAQ (frequently asked questions) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari jemaat khususnya tentang etika seks dan pernikahan. Paulus memandang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut agar jemaat Korintus mengerti dengan jelas.
Salah satu pertanyaan menarik yang diajukan ialah tentang “adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin (not to touch = menyentuh a woman)”. Istilah “menyentuh” diucapkan Allah untuk mengingatkan Abimelekh agar tidak menyentuh Sara, istri Abraham (Kej. 20:6). Yang dimaksud “menyentuh” ialah melakukan hubungan seks.
1 Korintus 6 berbicara tentang jemaat Korintus yang terpapar dengan percabulan namun pasal 7 muncul dua paham ekstrem yakni:
- Tidak masalah melakukan percabulan karena yang bercabul adalah tubuh yang akan binasa, tidak ada urusan dengan roh yang hidup di dalam kristus. Paulus menegaskan tubuh kita satu dengan roh di dalam Kristus; oleh sebab itu tubuh tidak boleh dicemarkan oleh percabulan.
- Hidup sangat kudus bahkan meninggalkan hubungan seksual sama sekali. Mereka berpatokan lebih baik seorang laki-laki tidak berhubungan seks dengan perempuan mana pun dan pandangan ini berkembang menjadi larangan untuk tidak kawin sama sekali (bnd. 1 Tim 4:1-3). Rasul Paulus menegaskan pandangan ini termasuk ajaran sesat.
Paulus tampak tidak menyalahkan sepenuhnya “adalah baik (bhs. Yun. kalos = beautiful, suitable = elok, pantas) bagi laki-laki kalau ia tidak kawin” mengingat waktu darurat pada saat itu tetapi kalau sudah terikat dengan perempuan tidaklah boleh diceraikan (1 Kor. 7:26-27). “Baik” di sini bukan berarti kalau tidak melakukan kebaikan ini (tidak menikah) kita berdosa.
Bagaimana mencegah esktrem kedua yang terus melaju cepat dalam jemaat Korintus? Paulus menilai pernikahan itu sakral sebagai model/tipologi hubungan Kristus dengan jemaat. Dan mengingat bahaya pelbagai macam percabulan yang mengancam maka diperlukan pernikahan sebagai salah satu kubu/benteng pertahanan di mana laki-laki maupun perempuan yang masuk ke dalam benteng pernikahan dapat bertahan menghadapi ancaman percabulan tersebut.
Kalau begitu apa yang harus diperhatikan agar benteng pertahanan nikah kita berhasil melawan percabulan?
- Memerhatikan “dinding” atau tembok bentengnya.
Harus diakui natur alamiah tubuh manusia yang normal memiliki nafsu dorongan seksual. Untuk itu Allah memberikan solusi melalui hubungan nikah sebagai “dinding” pembatas agar tahu bahwa hubungan seksual di luar dinding pernikahan tidaklah kudus dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sebaliknya, hubungan seks di dalam dinding pernikahan yang dipersatukan Tuhan adalah kudus dan sesuai kehendak-Nya. Dijelaskan pula setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Artinya, perkawinan yang selaras dengan rencana Tuhan ialah monogami heteroseksual bukan pernikahan sejenis antara seorang laki-laki dengan laki-laki atau seorang perempuan dengan seorang perempuan atau seorang perempuan/laki dengan AI dll.
Kata “sendiri” menunjukkan kepemilikan seorang suami/istri terhadap pasangan hidupnya dan tidak boleh dibagi dengan siapa pun. Keberadaan suami dan istri ada di dalam kebersamaan, maksudnya hubungan nikah suami-istri harus dijalankan di dalam kebersamaan. Faktanya, suami/istri sering menjalin hubungan nikah tanpa kebersamaan atau tidak berusaha untuk tetap bersama. Contoh: karena lagi tidak enak hati, suami-istri pisah ranjang lama-lama pisah kamar dst. atau suami mencari nafkah di tempat jauh dll. ini harus diselesaikan di dalam kebersamaan. Waspada, hubungan antara suami dan istri tidak akan kuat jika tidak dijalankan di dalam kebersamaan.
Juga kata ‘mempunyai (hold fast = memegang erat, mencengkeram); istri/suami bagi suami/istri adalah sesuatu yang perlu dipertahankan, diupayakan, diusahakan, dipegang dengan erat. Hubungan nikah tidak dapat dijalani sekadar “mengalir saja” tetapi harus diupayakan menjadi hubungan yang lebih sehat, lebih kuat, dan pengenalan lebih mendalam.
Apa upaya suami-istri agar hubungan nikah menjadi kuat?
- harus saling merendahkan diri (Ef. 5:21)
- istri tunduk kepada suami (ay. 22)
- suami sebagai kepala harus rendah hati (tidak semena-mena) mengasihi istri (ay. 25) dan meneladan Yesus yang adalah kepala jemaat (ay. 23). Mengasihi di sini bukan hanya sikap hati tetapi dibuktikan dalam tindakan seperti Yesus menyerahkan diri-Nya bagi jemaat.
Untuk beroleh hubungan nikah yang sehat dan kuat harus diupayakan sepanjang perjalanan hidup pasangan suami-istri agar sanggup mengatasi ancaman percabulan.
- Menjaga pintu-pintu gerbang yang memungkinkan pengaruh luar masuk ke dalam dan berdampak. Sering kali pengaruh dari luar tidak menguatkan hubungan suami-istri tetapi malah meretakkan dinding berakhir dengan robohnya dinding itu. Analogi: pernikahan adalah benteng, hubungan nikah adalah dinding benteng dan suami-istri wajib menjaga gerbang-gerbang nikah mereka.
Gerbang apa saja yang berdampak bagi hubungan nikah?
- Mata (Ay. 31:1) menjadi ancaman sangat berbahaya bagi suami seperti diakui oleh Ayub yang dikenal saleh, jujur dan takut akan Tuhan.
Tentu wajar seorang pria senang melihat cewek cantik tetapi tetap harus dapat mengendalikan mata untuk tidak menginginkannya apalagi kalau sudah beristri. Hati-hati, Yesus sendiri mengingatkan setiap orang yang memandang perempuan hingga menginginkannya, dia sudah berzina dengannya di dalam hatinya (Mat. 5:28). Lebih lanjut Yesus menegaskan jika mata menyebabkan dosa, cungkil dan buang saja sebab lebih baik satu dari anggota tubuh binasa daripada seluruh tubuh dicampakkan ke dalam api neraka (ay. 29).
Hari-hari ini kita dihujani dengan ancaman pelbagai macam percabulan di mana mata kita dihibur dan dimanjakan dengan hal-hal cabul tanpa perlu mencari sudah tampil di HP, bacaan erotis, pakaian minim nan sexy di Mall bahkan berpakaian tidak sepantasnya ke gereja tanpa rasa malu. Memang segala sesuatu diperbolehkan tetapi tidak semuanya berguna dan membangun (1 Kor. 10:23). Hal-hal semacam itu meracuni pikiran dan mengikat kita.
- Fisik.
Kedekatan fisik dengan lawan jenis yang bukan suami/istri dapat menjadi gerbang yang mengundang tresno jalaran soko kulino karena merasa akrab, dekat, nyaman diajak bicara. Untuk kedekatan fisik, kita harus tegas menjauhi percabulan (1 Kor. 6:18) sebelum berlanjut dengan kedekatan emosional.
- Relasi keluarga.
Walau tidak menjurus pada percabulan, budaya “hubungan darah lebih kental” dapat menjadi ancaman yang meretakkan ikatan suami-istri. Itu sebabnya Firman Tuhan menegaskan seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:23). Hubungan suami-istri Kristen harus lebih erat daripada hubungan dengan keluarga masing-masing. Bukankah sering terjadi menantu bermasalah dengan mertua? Atau terjadi percekcokan karena suami/istri memberikan uang dengan diam-diam kepada keluarganya sendiri membuat keuangan pasangan nikah ini morat marit? Masalah keluarga dapat membuat retak hubungan nikah yang seharusnya sehat, solid, kuat dalam kebersamaan serta membuka peluang masuknya percabulan dan perselingkuhan. Amat disayangkan, kesibukan dalam pelayanan juga dapat membuat Hamba Tuhan yang sudah lama menikah jatuh dalam percabulan.
Perhatikan, pernikahan merupakan salah satu benteng pertahanan dari Tuhan tetapi bukan juru selamat untuk mempertahankan diri dari percabulan kalau masing-masing masuk nikah dengan hati tidak bertobat. Jangan berpikir kalau sudah menikah, kita tidak lagi bergumul dengan ancaman percabulan karena kehidupan nikah tidaklah seindah seperti cerita film drama. Ada masanya nafsu tidak dapat dipuaskan sepenuhnya oleh karena bekerja terpisah, capek ngurus anak, pusing urusan kantor dll. Kalau di masa lajang tidak pernah dapat mengendalikan diri, di dalam hidup nikah pun tidak akan dapat mengendalikan diri berakibat kegagalan dalam nikah.
- Fondasi dari benteng (1 Kor. 6:19-21).
Fondasi yang membuat benteng pernikahan kita mampu berdiri kuat dan kukuh ialah:
- Fakta bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah di dalam Kristus.
Mati bagi dosa artinya dosa tidak lagi berkuasa atas hidup kita dan sekarang hidup kita berorientasi kepada Allah.
- Fakta bahwa Roh Kudus berdiam di dalam kita.
Karena Roh Kudus ada di dalam kita, kuasa Ilahi-Nya memampukan kita hidup saleh (2 Ptr. 1:3) untuk menolak dosa percabulan dalam hidup nikah maupun menjaga kekudusan di masa lajang. Kita dimampukan untuk tidak menuruti keinginan berbuat dosa (Rm. 6:12).
Mengapa kita masih menuruti keinginan dosa? Karena membiarkan dosa berkuasa atas tubuh kita. Ilustrasi: Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, menandatangani surat pembebasan perbudakan (kulit hitam) pada tanggal 1 Januari 1863. Apakah semua budak mengetahui kalau status hukum mereka adalah free citizens pada hari itu? Ternyata ada budak yang masih memberi kuasa kepada majikannya untuk menyengsarakan, memanipulasi, mengeksploitasinya dan ini terjadi bertahun-tahun. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Karena budak tersebut tidak sadar kalau dia sudah bebas.
Bukankah banyak orang Kristen tidak sadar kalau dirinya sudah bebas dan membiarkan dosa menipunya? Mereka berpikir dosa tidak dapat dilawan dan bertahun-tahun hidup di dalam dosa yang mengikat kuat membuatnya tidak ada harapan. Memang proses kelepasan dari belenggu dosa ada yang cepat, ada pula yang lambat seperti dialami oleh para budak yang baru sadar dalam waktu satu bulan, tiga bulan, bahkan beberapa tahun untuk dapat melawan tuannya. Semua dimulai dengan kesadaran akan fondasi kebebasan yang ditandatangani seorang Presiden. Namun fondasi kehidupan kita jauh lebih kuat daripada tanda tangan yakni darah kurban Kristus yang sudah membebaskan kita. Oleh sebab itu sadarlah kita telah dibebaskan oleh-Nya sehingga tidak lagi memberi kuasa kepada dosa untuk tetap mengungkung kita. Dengan demikian kita akan menang melawan ancaman percabulan.
Bagi pasangan suami istri, rawatlah dinding benteng nikah dalam kebersamaan, saling merendahkan diri, mengasihi yang diwujudkan dengan tindakan, setia kepada pasangan hidupnya juga merawat tubuh yang menjadi milik Kristus.
Bagi jemaat yang masih melajang, kekudusan dimulai jauh sebelum nikah. Baik yang lajang maupun yang sudah menikah sama-sama baik. Yang penting ialah bagaimana membangun fondasi hidup kita. Jangan karena tidak terikat dalam perkawinan kemudian menggunakan kebebasan hingga kebablasan. Sadari akan konsekuensi dari kebebasan dengan berani menolak perbuatan dosa. Buang dan tinggalkan kebiasaan lama yang buruk sebab Anda sudah bebas di dalam Kristus dan dilengkapi dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk dapat hidup saleh di hadapan Allah!
Bagi mereka yang sedang dalam kejatuhan, akui dosa kalian kepada Tuhan, jangan lari bersembunyi dalam keputusasaan karena terus menerus jatuh bangun dalam dosa. Periksa diri apakah lupa dan tidak sadar bahwa kalian sudah bebas! Kembalilah kepada Tuhan yang menunggu dengan sabar dan setia! Ia akan membuat kalian tegak berdiri di atas fondasi yang sudah dibangun-Nya. Amin.