• Pernikahan Vs Percabulan
  • Johor
  • 2026-09-23
  • Pdm. David Wellyanto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
pernikahan_vs_percabulan

Shalom,

Sekarang ini kita hidup dijaman dimana hal-hal seksual ditemukan dengan mudah. Media sosial dan HP kita memfasilitasi kita menerima gambar dan tawaran seksual yang dapat masuk ke dalam pikiran dan angan-angan kita.

Sesungguhnya persoalan seksualitas bukan hanya pergumulan orang muda lajang akan keinginan seksual. Mereka yang sedang berpacaran bergumul dengan batas-batas hubungan. Bahkan yang sudah menikah pun menghadapi banyak godaan dalam aspek ini. Sehingga, menjadi orang Kristen tidak berarti membuat kita kehilangan keinginan, hasrat atau dorongan seksual karena beranggapan kita memiliki tubuh baru ketika percaya Yesus. 

Jika demikian, apakah seksualitas itu sendiri sesuatu yang kotor? Tidak. Allah menciptakan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Ia pula yang menetapkan pernikahan dan hubungan menjadi satu daging (Kej. 2:24). Persoalannya, di mana Allah menempatkan seksualitas itu harus kita pahami. Bukan hanya pada masalah baik atau buruknya seks. Sesuatu yang baik jika ditempatkan di tempat yang salah akan menimbulkan masalah. Contoh: air itu baik dan berguna tetapi air yang keluar dari sungai membanjiri rumah akan menjadi masalah. Api juga baik tetapi kalau tidak terkendali dari kompor akan membakar rumah. Demikian pula dengan seksualitas pemberian Allah tetapi harus dinikmati menurut rancangan yang Allah buat. 

Dalam tulisannya di 1 Korintus 7 – 10 Paulus  merespons pelbagai pertanyaan lewat surat yang dititipkan kepada para pekerjanya. Salah satu pertanyaan yang diajukan ialah masalah pernikahan.

“Adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” (1Kor 7:1-2)

Rasul Paulus sedang menghubungkan hal pernikahan dan bahaya percabulan. Dia tidak mengatakan bahwa semua orang harus menikah sebab hidup tidak menikah (selibat) juga merupakan panggilan dan karunia Allah bagi sebagian orang. Dia juga tidak mengajarkan jemaat harus menikah. Namun dia mengetahui bahwa jemaat Korintus sedang penuh dengan godaan seksual. Itu sebabnya dia menegaskan adanya batasan dan komitmen bahwa setiap laki-laki harus mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.  

Berkenaan dengan tema “Pernikahan Vs Percabulan”, apa yang membedakan hubungan seksual yang kudus dari hubungan seksual yang berdosa?

  •    Hubungan seksual yang kudus mengikuti rancangan Allah. 

Perlu diketahui Allah tidak anti seksualitas. Namun faktanya ada orang Kristen yang menganggap seks sebagai sesuatu yang memalukan, kotor dan tabu padahal Allah sendiri yang menciptakan laki-laki dan perempuan untuk bersatu dan keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:24). Hubungan menjadi satu daging adalah rancangan Allah sejak sebelum dosa masuk ke dunia.  

Hubungan seksual dalam pernikahan tidak bertentangan dengan kekudusan yang ditetapkan oleh Allah,   namun harus dihormati dan tidak boleh dicemarkan (Ibr. 13:4). 

Alkitab tidak dapat menerima dua pandangan yang sama-sama keliru, yakni:

-     Menganggap seks itu kotor sehingga orang rohani harus menjauhinya

-     Seks adalah sebuah kebutuhan biologis maka terserah bagaimana menyalurkannya. 

Yang benar ialah seksualitas adalah ciptaan Allah karena itu baik dan kita harus tunduk kepada-Nya. Sekalipun demikian jangan dipahami bahwa pernikahan adalah jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan seksual. Pernikahan jauh lebih luas lingkupnya, mencakup tempat berbagi kehidupan, membangun persahabatan, menyatakan kasih, melayani Tuhan bersama, menikmati pemberian Tuhan dalam batas yang kudus.   

Pernikahan adalah panggilan untuk berbagi kehidupan dengan seseorang dalam komitmen kepada Tuhan. 

Introspeksi: kita adalah milik Tuhan, apakah keinginan, pikiran, emosi, hasrat juga tubuh kita sudah ditundukkan kepada Tuhan? Ketika semua ini kita tundukkan kepada Kristus, kita akan terjaga dalam kekudusan. Hubungan seksual yang kudus harus mengikuti rancangan Allah.

  •     Hubungan seksual yang kudus berada di dalam perjanjian pernikahan

Frasa “istrinya/suaminya sendiri” sangat penting. Artinya, suami/istri mempunyai istri/suaminya sendiri bukan perempuan atau laki-laki lain apalagi banyak perempuan atau laki-laki di luar ikatan nikah. Dengan kata lain, ada batas, tempat dan komitmen dalam suatu ikatan pernikahan. 

Hubungan seksual merupakan hubungan eksklusif berpolakan hubungan monogami – pasangan satu suami dan satu istri dalam ikatan pernikahan. Hubungan seksual ini sesuai rancangan Allah dan pemberian dari-Nya yang ditempatkan di dalam perjanjian pernikahan.

PERNIKAHAN KUDUS PERCABULAN (porneia)
Digerakkan oleh kasih yang rela memberi (apa yang dapat aku berikan untuk kebaikanmu). Digerakkan oleh hawa nafsu ingin mengambil keuntungan untuk diri sendiri (apa yang dapat aku peroleh dari tubuhmu).
Mengejar kebaikan dan kesetiaan Hanya mengejar kepuasan diri sendiri
Tidak dapat dipisahkan tetapi dikontrol oleh komitmen  Hubungan atau perilaku seksual yang dilakukan di luar batas dari apa yang Allah tetapkan dalam pernikahan
Seks bukan sekadar aktivitas fisik tetapi tubuh ini membawa makna rohani (tubuh fisik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan rohani) Berdampak tidak hanya pada persoalan tubuh tetapi juga menyangkut hati dan pikiran.

 

Apa karakteristik dari pernikahan Kristen?

    • Pernikahan mempunyai tanggung jawab timbal-balik, artinya: pernikahan bukan tempat seorang suami berhak memperlakukan istrinya sebagai objek seksual; demikian pula sebaliknya istri tidak boleh memperlakukan suaminya sebagai objek untuk memenuhi kepuasannya sendiri. Pernikahan Kristen adalah tempat saling memberi diri bukan  untuk pemuasan diri. 

Hubungan seksual yang sehat dalam pernikahan tidak dapat dipisahkan dari kasih, penghormatan, komunikasi yang baik, pengampunan, kesetiaan, perhatian dan aspek-aspek lain yang membuat suami-istri saling memerhatikan dan mempererat kasih menjadi satu daging.

Persoalan seksual di dalam rumah tangga sering terjadi karena masih adanya kepahitan yang belum terselesaikan, komunikasi rusak yang perlu diperbaiki, pasangan yang merasa tidak dihargai, luka hati yang tersimpan, kemarahan dll. Jangan berpikir bahwa memperbaiki kehidupan seksual akan otomatis memperbaiki seluruh persoalan pernikahan! Seksualitas bukan satu-satunya problem yang membuat pernikahan menjadi beres. Masing-masing pasangan perlu belajar mengasihi, mengampuni, berkomunikasi dengan baik dan perlu kembali kepada Kristus. 

    • Pernikahan Kristen bukan hanya sebatas hidup bersama tetapi lebih dari itu yaitu tumbuh bersama di dalam Tuhan. Pernikahan Kristen membutuhkan lebih dari sekadar ketertarikan fisik, gairah romantis, kata-kata mesra tetapi lebih membutuhkan perbaikan karakter, kedewasaan, komitmen, kesetiaan untuk bertumbuh, sikap melayani satu-sama lain, memiliki kasih (1 Kor. 13) yang menyatukan dua pribadi (suami-istri) yang berkarakter beda. 

Hubungan seksual yang kudus bukan sebatas apa yang dilakukan di tempat tidur tetapi bagaimana suami-istri memperlakukan satu sama lain sepanjang kehidupan mereka berumah tangga dan berkeluarga. 

  •    Hubungan seksual yang kudus harus menjaga pintu-pintu godaan percabulan. 

Paulus sangat realistis mengingat bahayanya percabulan dan menganggap orang Kristen tidak kebal atau terbebas dari godaan-godaan seksual. Justru karena adanya godaan yang nyata maka diperlukan penjagaan bagi yang belum menikah untuk menjaga kekudusan dan penguasaan diri, bagi yang sedang berpacaran tetap memiliki batasan-batasan yang sehat dan yang sudah menikah untuk menjaga kesetiaan. 

Perhatikan, jangan membuka pintu yang seharusnya ditutup walau hanya membuka sedikit! Percabulan sering kali tidak dimulai dari kamar tidur tetapi dari mata – pikiran – percakapan lanjut pesan pribadi – kedekatan  emosional – pertemuan rahasia – tindakan. Oleh sebab itu jangan meremehkan hal-hal kecil seperti cuma chatting, bercanda, belum melakukan  apa-apa! Dosa yang terus dipelihara akan lama-lama mengikat. Karena itu jaga mata, hati, percakapan, penggunaan handphone, batas-batas hubungan dengan lawan jenis dan yang penting ialah menjaga hubungan kita dengan Kristus. 

Ingat, pernikahan tidak otomatis membuat kita kebal terhadap godaan. Bahkan yang sudah menikah pun tetap berurusan dengan ketertarikan, fantasi dan godaan terhadap orang lain. Kesetiaan bukan berarti tidak hanya berselingkuh secara fisik tetapi juga menjaga hati agar tidak memberi ruang yang seharusnya hanya dimiliki oleh pasangan kita.

Jadi percabulan melakukan kegiatan seksualitas  di luar batas dan rancangan yang Allah tetapkan. Oleh sebab itu bagi yang masih lajang, jagalah kekudusan. Jangan merasa bahwa menunggu menikmati seks adalah sebuah kerugian atau kehilangan kesempatan. Ada cinta yang harus menunggu; ada keinginan yang harus dikendalikan, dan ada berkat  yang hanya boleh dinikmati selaras waktunya Tuhan. 

Kepada yang sedang berpacaran, jangan gunakan cinta sebagai alasan untuk melanggar kekudusan. Kalau cintanya benar, cinta semacam itu sanggup menunggu. Sementara bagi yang sudah menikah, jangan hanya mempertahankan status pernikahan tetapi rawatlah pernikahan dengan berkomunikasi baik, menjalin persahabatan, keintiman dan rawat kesetiaan serta jangan lupa mendoakan pasangan yang Tuhan percayakan kepada kita. 

Bagi siapa pun yang pernah jatuh dalam masalah seksual, jangan bersembunyi dari Tuhan tetapi datanglah kepada-Nya untuk mengaku dosa, bertobat maka Dia akan memberikan pengampunan karena darah Kristus masih bekerja untuk menyucikan, mengduskan dan membenarkan (1 Kor. 6:11). Anugerah Kristus jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita dan Ia adalah Tuhan atas tubuh, hati, pernikahan dan seksualitas kita. Kita tidak lagi hidup berdasarkan apa yang kita inginkan tetapi menundukkannya kepada Kristus, kita juga harus berjuang untuk tetap berada di dalam kekuasaan Kristus.

Kita perlu membawa tubuh, hati, hasrat, seksualitas bahkan seluruh aspek kehidupan kita kepada Tuhan karena kita adalah milik-Nya. Kita juga harus menjaga kekudusan hubungan seksual mengikuti rancangan Allah, berada dalam perjanjian nikah dan menjaga pintu godaan percabulan dalam mempersiapkan diri untuk bersanding dengan  Kristus, Mempelai Pria Surga kita. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Video Youtube Ibadah: