Pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2026, jemaat GKGA beserta para undangan menyaksikan tonggak pimpinan penggembalaan dari Bpk. Pdt. Paulus Budiono, dialihkan kepada generasi lebih muda yakni ke Bpk. Pdm. David Wellyanto setelah melalui pergumulan cukup lama untuk pengajuan permohonan regenerasi.
Wejangan Firman Tuhan disampaikan oleh Ketum sinode GPT: Bpk. Jontu Dongalemba dengan tema “Melayani dengan rendah hati” diambil dari 1 Korintus 4:6-13.
Apa pentingnya melayani dengan rendah hati?
Sebab kerendahan hati adalah kekuatan dan modal setiap hamba Tuhan dalam melayani pekerjaan Tuhan. Memang kemampuan teknis sangat dibutuhkan bagi seorang pelayan di bidang apa pun seperti: pelayanan musik, multimedia dll. tetapi lebih dari semuanya dibutuhkan pula kemampuan kekuatan Ilahi yang diperoleh di dalam kerendahan hati. Jujur, tidaklah mudah bagi seorang hamba Tuhan untuk menggembalakan jemaat yang terdiri dari aneka ragam latar belakang budaya, etnis, pendidikan, status sosial dst. Untuk itu Yesus menawarkan siapa pun yang berbeban berat supaya datang kepada-Nya untuk beroleh kelegaan serta ketenangan karena Ia lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:28-30).
Ketika Tuhan menetapkan seseorang menjadi pelayan-Nya, Ia mengetahui kondisi, kemampuan dan keterbatasannya. Untuk itu Tuhan memberikan kemampuan Ilahi agar dapat melanjutkan pelayanan hingga Ia datang kembali. Ingat, seorang hamba Tuhan tidak pernah pensiun tetapi tetap melayani Dia seumur hidup tanpa pernah menyesalinya. Benarkah kuk yang dipasang-Nya enak dan beban-Nya ringan? Jujur, sama sekali tidak enak dan tidak ringan! Namun menjadi enak dan ringan bila kita mau belajar rendah hati dan lemah lembut dalam melayani Tuhan, Raja di atas segala raja, juga melayani jemaat yang adalah biji mata-Nya (Zakh. 2:8). Hati-hati “mempermainkan” biji mata Tuhan karena kita akan berhadapan langsung dengan-Nya!
Harus diakui setiap dari kita, termasuk hamba Tuhan, memiliki keterbatasan dan kelemahan namun Tuhan menguatkan kita di saat lemah karena sehebat apa pun kemampuan diri sendiri akan hancur karena terlalu beratnya beban yang ditanggung. Perhatikan, Tuhan tidak hanya memberikan kekuatan dan kelegaan tetapi juga memberikan teladan sempurna dalam kerendahan hati (Filipi 2:6-8).
Ada lima prinsip praktis bagaimana melayani dengan rendah hati, yakni:
- “Jangan melampaui yang ada tertulis” (ay. 6) → jangan tinggi hati/sombong.
Yang dimaksud “apa yang tertulis” ialah Firman Tuhan yang menjadi standar baku bagi jemaat (Kristus) untuk dipercaya, direnungkan dan dihidupi. Oleh sebab itu dilarang melebihi “apa yang tertulis” (= Firman Tuhan) karena ini bukan sekadar pelanggaran tetapi ada spirit Lucifer yang mau melebihi batas kewenangan dalam pelayanan karena ketidakpuasan (Yes. 14:12-14). Tampak jelas perbedaan spirit Yesus, Anak Allah, yang penuh dengan kerendahan hati sementara spirit Lucifer penuh dengan kesombongan berakhir dengan dijatuhkannya ke tempat paling bawah. Sebaliknya, Yesus ditinggikan oleh Allah dan dikaruniakan nama di atas segala nama.
Introspeksi: teladan mana yang kita pilih? Jangan memberi kesempatan Iblis menyuntikkan spirit pemberontakan dan kesombongan sebab kejatuhan manusia pertama bukan karena pembunuhan, perzinaan, tetapi ketidakpuasan akan batas yang Allah tentukan. Setiap kita mempunyai limit yang Tuhan berikan dan jangan bekerja di luar batas yang sudah dipatok. Rendah hati memampukan kita untuk menerima dan puas dengan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya. Bila kita mengalami kepuasan, di situ timbul kekuatan (Ilahi) tidak terbatas menembus segala halangan yang membuat kita hancur. Waspada, jangan ambisi dan semangat kita membuat kita merasa lebih benar dan kudus daripada Firman Tuhan sebab seorang murid tidak akan melebihi Gurunya.
- “....apakah yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (ay. 7) → sadar diri bahwa apa yang kita punyai, kita terima dari Tuhan
Orang yang tidak rendah hati akan menganggap apa yang dicapai dan dipunyai adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Benarkah demikian? Bukankah apa yang kita miliki dari ujung rambut hingga telapak kaki adalah pemberian Tuhan semata sebagai anugerah? Jangan gereja merasa berkembang besar oleh sebab sistem yang diterapkan juga riset yang dilakukan! Waspada, Tuhan berkuasa memberi dan berkuasa pula mengambil apa yang kita miliki. Ingatlah perolehan yang kita capai saat ini hanya karena anugerah Tuhan. Oleh sebab itu kita tidak perlu bermegah seolah-olah semua karena hasil upaya, doa serta puasa kita. Jangan pula menghina pemberian Tuhan seperti dilakukan oleh hamba yang dipercayakan satu talenta (Mat. 25:14-15,25). Sebenarnya dia mendapat privilege karena tidak membutuhkan usaha banyak dalam mengembangkan satu talenta untuk dihargai tuannya sebagai hamba yang baik dan setia. Namun dia merendahkan pemberian tuannya berakibat dicampakkan ke dalam kegelapan paling gelap. Sungguh pencapaian yang kita peroleh hanya karena anugerah Tuhan sebab apa pun usaha kita kalau Tuhan tidak berkenan maka semua usaha kita akan sia-sia.
- “Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu.” (ay. 8) → jangan suka dipuji
“kalau benar demikian” berarti pujian yang belum tentu benar dan kemungkinan besar tidak benar.
Orang yang suka dipuji pasti tidak mempunyai kerendahan hati berakibat tidak mampu melayani Tuhan dalam jangka panjang. Mengapa tidak boleh dipuji-puji? Sebab segala pujian, hormat dan kemuliaan hanyalah milik Tuhan. Memang seorang gembala patut dhormati tetapi jemaat tidak boleh memuji melebihi apa yang sepantasnya sebab orang yang suka memuji bagaikan penjilat yang membentangkan jerat bagi sesama (Ams. 29:5). Waspada, Tuhan sangat marah kalau ada pengultusan gembala sidang yang dapat menyebabkan kejatuhan karena skandal keuangan, moralitas dll.
Tahukah orang yang suka makan pujian menandakan bahwa dia tidak dewasa seperti anak kecil yang gampang marah kalau kurang/tidak dipuji? Juga tidak sehat mentalnya karena narsistik – mengagumi diri sendiri secara berlebihan.
- “….Allah memberikan kepada kami para rasul tempat yang paling rendah sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia….” (ay. 9-10) → rela direndahkan
Umumnya tidak ada seorang pun mau direndahkan bahkan semut kecil nan lemah di lantai atau di tanah akan menggigit kalau kita mengganggunya. Terlebih lagi orang yang mempunyai kemampuan, kekayaan, koneksi dll. akan bereaksi keras bila direndahkan. Namun Rasul Paulus rela direndahkan dan dianggap sampah/kotoran bagi dunia.
Ternyata kita tidak akan jatuh saat berada di tempat paling rendah dan di posisi ini pasti ada kerendahan hati. Sebaliknya, makin tinggi posisi (kedudukan) kita, kemungkinan jatuhnya akan makin besar dan fatal. Contoh: saat Rasul Paulus berada di titik terendah mengaku bahwa justru di dalam kelemahan dan kesukaran karena Kristus, dia menjadi kuat (2 Kor. 12:10). Yesus menjadi teladan sempurna direndahkan hingga mati dalam kehinaan untuk membawa kita naik bersama-Nya ke tempat yang paling tinggi.
- “…..kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara. Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat….kami dimaki, kami memberkati…kami dianiaya, kami sabar…kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah…” (ay. 11-13) → rela menderita
Hanya orang yang rendah hati rela menderita seperti dialami oleh Yesus, Gembala agung, yang rela menderita bahkan mati demi domba-domba-Nya.
Selama kita memberontak saat direndahkan dan dianiaya secara batin, mental dan moral, selama itu pula kita akan hidup dalam penderitaan. Namun kita akan mengalami kelepasan dan kekuatan untuk dapat menanggungnya saat kita dapat berdamai dengan situasi. Rasul-rasul sudah memberikan contoh kerendahan hati dalam penderitaan hingga mampu bertahan sampai garis akhir. Demikian pula hamba Tuhan seharusnya mengerjakan pelayanan di bumi ini sebagai latihan karena pelayanan sesungguhnya ada di dalam Kerajaan Surga. Bila kita gagal di bumi, kita akan gagal selamanya. Ingat, kesusahan dan penderitaan hanya terjadi di bumi (Why. 7:14) namun berakhir dengan pelayanan siang malam di hadapan takhta Allah tanpa lagi menderita lapar dan dahaga sebab Anak Domba akan menggembalakan dan menuntun ke mata air kehidupan (ay. 15-17).
Seusai pemberitaan Firman Tuhan, dilakukan prosesi penahbisan dipimpin oleh Pdt. Jontu Dongalemba dan Pdt. Daiman Sinaga (sekretaris 1 BPP GPT).

Penandatanganan janji & pakta integritas

Doa penahbisan gembala baru

Penyerahan cinderamata

Foto bersama penatua
Kita patut bersyukur proses regenerasi gembala baru telah berlangsung dengan baik. Kiranya visi gereja GKGA untuk tumbuh bersama melayani Tuhan dapat terwujudkan atas pimpinan Gembala Agung kita, Yesus Kristus, yang setia dan penuh kasih kepada domba-domba-Nya. Amin.