• Topik: Kisah Allah dan Kita
  • JANJI DALAM UJIAN
  • Perjalanan Iman Abraham dari Keyakinan Menuju Ketaatan
  • Setio Dharma Kusuma

Pendahuluan: Dari Panggilan Menuju Konflik
Setelah kisah pemisahan yang dramatis antara Babel dan Abram, serta pemberian janji tentang "nama besar" (Kej. 12:2), kita mungkin membayangkan perjalanan Abram akan lancar tanpa halangan. Namun, Kitab Kejadian justru jujur menunjukkan bahwa mengikuti panggilan Allah tidak berarti terbebas dari masalah. Pasal 13 langsung membuka dengan konflik internal: perselisihan antara para gembala Abram dan Lot karena tanah yang mereka diami tidak cukup menampung kedua kelompok yang memiliki harta benda sangat banyak (Kej. 13:5-7).

Kata Ibrani untuk "perkelahian" di ayat 7 adalah ִריב(riyb), yang mengandung  makna persengketaan hukum atau pertikaian yang serius. Konflik ini menguji integritas Abram. Sebagai orang yang lebih tua dan pemegang janji, Abram bisa saja memaksakan haknya. Namun, di sinilah ujian pertama atas janji itu muncul: apakah Abram akan memperjuangkan janji Allah dengan kekuatannya sendiri, atau memercayai bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya meskipun ia rela melepas haknya?

Abram memilih jalan damai. Ia memberikan pilihan kepada Lot (Kej. 13:8-9). Lot memilih lembah Yordan yang subur "seperti taman TUHAN" (metafora yang ironis mengingat akhirnya Sodom dan Gomora), sementara Abram tinggal di tanah Kanaan. Tindakan Abram ini bukanlah bentuk kelemahan melainkan keyakinan aktif. Ia yakin bahwa Allah yang berjanji adalah Allah yang akan memberikan tanah itu sekalipun bagian terbaiknya diambil orang lain. Respons Allah pun langsung datang: "Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram... Aku akan memberikan seluruh tanah yang kaulihat itu kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya" (Kej. 13:14-15). Ketaatan dalam melepas hak demi perdamaian justru mengukuhkan janji.

Peperangan dan Penyertaan (Kej 14)
Ujian berikutnya datang dari luar: konflik politik-militer antara raja-raja setempat. Lot yang tinggal di Sodom tertawan. Abram harus menghadapi pasukan koalisi yang kuat. Di sini Abram bertindak bukan sebagai pengembara pasif, tetapi sebagai pemimpin militer yang tangguh, menunjukkan bahwa iman tidak menghapuskan tanggung jawab untuk bertindak adil dan berani.

Kemenangannya membawanya pada pertemuan dengan Melkisedek, raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi (El Elyown, ֶעְל֔יֹון ֵ֣אל ). Abram mempersembahkan sepersepuluh dari segala jarahannya kepada Melkisedek, sebuah pengakuan akan otoritas spiritual dan superioritas Allah yang diwakilinya. Namun, ia menolak mengambil harta dari raja Sodom, dengan pernyataan tegas: "Aku tidak mau mengambil apa-apa dari kepunyaanmu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku yang membuat Abram menjadi kaya" (Kej. 14:23).

Abram menjaga kemurnian sumber berkatnya: itu harus datang dari TUHAN, bukan dari kompromi dengan sistem dunia yang jahat.

Janji dalam Bayang-bayang Ketakutan (Kej. 15)
Pasal 15 adalah momen penting di mana Abram, setelah menunjukkan ketaatan dan integritas, justru menyuarakan keraguannya kepada Allah: "Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak?" (Kej. 15:2).

Kata Ibrani untuk "orang yang akan mewarisi milikku” adalah ֶבן־ֵֶ֣מֶשק  (ben mesheq) yang merujuk pada seorang budak yang diangkat sebagai ahli waris – situasi yang memalukan dalam budaya saat itu.

Allah tidak menghukum keraguan Abram yang jujur. Sebaliknya, Dia membawanya keluar dan menunjukkan bintang-bintang, lalu berfirman: "Coba hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya... demikianlah banyaknya nanti keturunanmu" (Kej. 15:5). Respons Abram sangat mendasar: "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Kata "percaya" adalah ָאַמן (‘aman), yang berarti meneguhkan, mendukung, memercayai. Iman

Abram adalah keyakinan yang kokoh yang diperhitungkan Allah sebagai ְצָדָָֽקה (tsedaqah) kebenaran atau keadaan yang benar di hadapan-Nya.

Allah kemudian mengikat perjanjian dengan Abram melalui ritual yang serius (memotong hewan dan berjalan di antaranya), di mana hanya "perapian yang berasap" dan "suluh yang berapi" (lambang kehadiran Allah) yang melewati potongan-potongan daging itu (Kej. 15:17). Ini menunjukkan bahwa perjanjian ini sepenuhnya dilaksanakan oleh Allah sendiri; Abram dalam keadaan tidur lelap (ay. 12). Janji itu tergantung pada kesetiaan Allah, bukan kesempurnaan Abram.

Kegagalan dan Kedaulatan Allah (Kej. 16:21)
Janji itu kemudian diuji oleh waktu yang berjalan lambat. Sarai, yang tidak kunjung melahirkan, mengambil inisiatif manusiawi dengan memberikan Hagar, hambanya, kepada Abram. Ini adalah praktik yang lazim dalam budaya Mesopotamia kuno, tetapi menunjukkan ketidaksabaran dan kurangnya kepercayaan pada cara dan waktu Allah.

Akibatnya adalah konflik keluarga yang pahit. Hagar mengandung dan mulai memandang rendah nyonyanya (Kej. 16:4). Abram tampak pasif dalam konflik ini. Saat Hagar melarikan diri, Malaikat TUHAN menemuinya dan menyuruhnya kembali sambil memberikan janji tentang keturunannya, Ismael  עאל ֔ ִיְשָמ (Allah mendengar). Nama ini mengingatkan bahwa Allah mendengar kesusahan, bahkan yang diakibatkan oleh kesalahan manusia.

Pasal 17 mencatat titik balik penting. Tuhan menampakkan diri kembali kepada Abram (kini berusia 99 tahun) dan memperkenalkan diri sebagai ַשַ֔די ֶאל (El Shadday), Allah Yang Mahakuasa. Dia mengubah nama Abram ( ַאְבָ֔רם "Bapa yang luhur") menjadi Abraham ( ַאְבָרָ֔הם “Bapa sejumlah besar bangsa") dan Sarai menjadi Sarah ("putri"). Perubahan nama ini adalah meterai ilahi atas identitas dan tujuan baru mereka. Perjanjian itu diteguhkan dengan tanda lahiriah: sunat.

Keduanya menertawakan (Kej. 17:17; 18:12) – kata Ibrani ָצַחק (tsachaq) merupakan akar kata yang  sama  dengan nama  Ishak (  ִיְצָָ֑חק,Yitschaq) - ”ia tertawa". Tertawa ini mencerminkan ketidakpercayaan yang berbaur dengan kekaguman. Namun, Allah menegaskan: "Tidak, Sarah isterimu akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu." (Kej.18:14). Pertanyaan retoris Allah menjadi peneguh janji: "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?"

Janji itu akhirnya digenapi. Sarah melahirkan Ishak (Kej. 21:1-7). Penggenapan ini sekaligus membawa konflik baru antara Ishak dan Ismael yang akhirnya mengakibatkan Hagar dan Ismael diusir. Keputusan yang menyakitkan ini sekali lagi menunjukkan bahwa janji Allah akan diteruskan melalui garis yang ditetapkan-Nya (Ishak), dan bahwa Dia tetap melindungi dan memberkati Ismael karena ia juga keturunan Abraham (Kej. 21:13, 18-20).

Ujian Terakhir dan Penyediaan Allah (Kej. 22)
Klimaks dari seluruh perjalanan ini adalah perintah yang mengerikan di Kejadian 22: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran" (ay. 2). Ini adalah ujian tertinggi dari Allah.

Setelah segala penantian, kegagalan, dan akhirnya penggenapan janji melalui Ishak, Allah meminta anak itu kembali. Ketaatan Abraham di sini luar biasa. Ia bangun pagi-pagi dan pergi. Responsnya yang terkenal kepada para bujangnya: "Kami akan sembahyang, dan sesudah itu kami kembali kepadamu" (Kej. 22:5), dan jawabannya kepada Ishak: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku" (Kej. 22:8), menunjukkan keyakinannya yang mendalam bahwa Allah sanggup membangkitkan orang dari antara orang mati (Ibr. 11:19).

Saat Abraham mengulurkan tangannya untuk menyembelih, Malaikat TUHAN menghentikannya. Ia melihat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham menamai tempat itu ִיְרֶָ֑אה ְיהֵָ֣וה Yehovah yireh -"TUHAN menyediakan"). Peristiwa ini bukan tentang pengurbanan manusia, tetapi tentang penggantian dan penyediaan Allah. Janji itu diteguhkan sekali lagi: "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku" (Kej. 22:18). Ketaatan Abraham membuka pintu berkat bagi dunia.

Refleksi untuk Kehidupan Kristen Masa Kini
Perjalanan Abraham dari Kejadian 13 hingga 22 memberikan pelajaran abadi bagi iman kita hari ini:

  • Iman yang aktif dalam konflik: Seperti Abram yang memilih damai dengan Lot, iman kita diuji dalam relasi. Apakah kita memercayai bahwa Tuhan dapat memulihkan hak-hak kita ketika kita memilih mengutamakan perdamaian dan keutuhan?
  • Kejujuran di hadapan Allah: Seperti Abraham yang jujur menyatakan keraguan dan ketakutannya (Kej. 15), Allah mengundang kita untuk datang dengan jujur dalam doa. Iman bukan tentang menyembunyikan pergumulan, tetapi tentang membawanya kepada Dia yang berdaulat.
  • Bahaya "inisiatif daging": Kisah Hagar dan Ismael mengingatkan kita akan konsekuensi dari memaksakan penggenapan janji Allah dengan kekuatan dan kecerdikan kita sendiri. Kita dipanggil untuk berjalan dalam Roh, bukan dalam daging (Gal. 4:21-31).
  • Ketaatan yang radikal: Puncak iman Abraham  adalah  ketaatan  yang  siap melepaskan apa yang paling berharga karena percaya bahwa Allah adalah Penyedia. Dalam kehidupan kita, "Ishak" kita bisa berupa rencana karier, hubungan, keamanan finansial, atau reputasi. Apakah kita rela menyerahkannya jika Tuhan meminta?
  • Yehovah yireh - Tuhan Penyedia: Kisah pengikatan Ishak mengarahkan kita kepada pengurbanan agung Allah sendiri di Gunung Kalvari. Domba yang disediakan bagi Abraham adalah bayang-bayang dari "Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh. 1:29). Janji Allah mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus, keturunan Abraham yang melalui-Nya semua bangsa di bumi diberkati. 

Kesimpulan
Perjalanan Abraham adalah cermin bagi setiap orang percaya. Janji Allah tidak dijamin terlaksana dalam jalan yang lurus dan mudah. Ia justru sering ditempa dalam tungku konflik, penantian, kegagalan, dan ujian yang dalam. Namun melalui semuanya, Allah setia. Dia adalah El Shadday, Allah Yang Mahakuasa yang tidak terbatas oleh keadaan kita. Dia adalah Yehovah yireh, Tuhan yang menyediakan segala sesuatu menurut kekayaan dan hikmat-Nya. Tugas kita adalah belajar seperti Abraham: untuk percaya, meski harus menunggu; untuk taat, meski harus melepaskan dan untuk selalu yakin bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik itu, Ia juga yang akan menyelesaikannya.

Kiranya kehidupan kita menjadi mezbah penyembahan yang terus berkata, "TUHAN yang akan menyediakan," sambil melangkah dalam ketaatan, menantikan penggenapan janji-Nya yang sempurna dalam Kristus.