Setelah kita membahas mengenai area-area Tabernakel, pada edisi kedua ini kita membahas satuan ukuran yang dipergunakan Musa sesuai perintah TUHAN untuk membuat setiap bagian Tabernakel, yaitu satuan ukuran “hasta”. Satuan ukuran ini adalah satuan ukuran yang lazim dipergunakan bangsa-bangsa Timur Dekat Kuno (Ancient Near East) seperti Mesir, Mesopotamia dll. pada zaman itu sebagai satuan ukuran bagi bangunan secara utuh, bagi bagian-bagian bangunan tersebut, juga bagi perabot-perabot yang berada di dalam ruang-ruang bangunan tersebut.
Satuan ukuran “hasta” di dalam Alkitab pertama kali dipakai untuk membuat bahtera (Kej. 6:3-18), menyiratkan bahwa “hasta” memiliki kaitan dengan penyelamatan oleh inisiatif Allah dari dunia fasik untuk memiliki hidup baru (Kej.6:5-8). Tabernakel memakai satuan ukuran ini karena Tabernakel merupakan “pola langkah iman” yang menyelamatkan melalui pendamaian dengan Allah (baca edisi 1). Melalui Tabernakel ,Allah menyatakan pola keselamatan kekal-Nya.
“Hasta” (Ibr., 'ammâ; Yun., pêkhus) adalah ukuran panjang lengan dari siku ke ujung jari tengah. Kalau kita melihat di Kamus Alkitab LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), di bagian belakang Alkitab kita, ukuran ini setara 45 cm namun ada buku yang menyebutkan 44cm dan leksikon Ibrani juga Aram menyebutkan 50cm. Jadi ada berbagai pendapat ukuran “hasta” namun yang jelas “hasta” adalah ukuran lengan manusia.
Yeremia 51:13 menyiratkan bahwa kata Ibrani “'ammâ” merupakan batas hidup sedangkan kata Yunani “pêkhus” di P.B. menyiratkan kemampuan hidup hanya berasal dari Allah sehingga harus beriman kepada-Nya (Mat.6:24).Di dalam kekekalan, Yerusalem Baru sebagai Kemah Allah (Why.21:1-3), memakai ukuran “hasta” menurut ukuran “manusia” (Why.21:14). Maka secara mendasar, makna rohani “hasta” bagi kita, berapapun panjangnya, sebagaimana panjang lengan masing-masing, adalah simbol kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menanggapi inisiatif pola keselamatan yang dari Allah. Allah sudah membuat jalan keselamatan bagi Nuh dan keluarganya melalui bahtera yang memiliki satuan ukuran “hasta”. Allah kemudian membuat jalan keselamatan bagi Israel dengan keluarga masing-masing dari dua belas suku melalui Tabernakel.
Allah yang kasih-Nya kepada manusia tidak berubah karena manusia dijadikan dan diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, di P.B., membuat satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia berdosa dengan mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus (Yoh.3:16; bnd. Yoh.14:6). Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh.1:14a). Kata “diam” dalam bahasa Yunani adalah, “skçnóô” yang berarti hidup/ berdiam dalam kemah dan kalimat berikutnya, “dan kita telah melihat kemuliaan-Nya...(Yoh.1:14b) menyiratkan adanya “tipologis” (lih. pengertian tipologi di edisi 1 – Tata Ruang Tabernakel) sehingga kata “diam” (Yun., skçnóô) di ayat tersebut merupakan “anti tipe” (penggenapan “tipe”) dari “hidup di dalam Kemah Pertemuan/Tabernakel” yang dipenuhi kemuliaan Allah (Kel. 40:34). Jadi, Yesus adalah Firman yang adalah Allah (Yoh.1:1-2) menjadi manusia berdiam di Tabernakel tubuh kemanusiaan-Nya sebagai “kemah-Nya” (berinkarnasi) dan menyatakan kemuliaan-Nya sebagaimana dahulu kala Allah berdiam di Tabernakel kemah fisik dan menyatakan kemuliaan-Nya.
Inilah sebabnya mengapa Tabernakel dibuat dengan ukuran dasar “hasta” yang dipahami oleh bangsa Israel, yaitu agar bangsa Israel mampu menanggapi kehadiran Allah di Tabernakel untuk diselamatkan dari dosa melalui pendamaian dengan-Nya. Demikian pula Yesus Kristus, Firman yang adalah Allah itu (Yoh.1:1-2), mengambil Tabernakel kemanusiaan untuk didiami-Nya, manusia yang “berukuran hasta” manusia biasa. Dialah manusia Kristus Yesus, agar dapat dipahami menurut “hasta kemampuan” manusia kita, sehingga Ia dapat menjadi pengantara manusia dengan Allah (bnd. 1Tim.2:5-6). Maka tidak ada dalih untuk tidak menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya, yang oleh-Nya manusia, kita, yang berdosa, diperdamaikan dengan Allah sebab kepada kita Allah telah memberikan “hasta kemampuan”, untuk mampu meraih ukuran “hasta” kemampuan Yesus untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita dengan menyerahkan hidup-Nya mati di kayu salib menjadi jalan penebusan segala dosa manusia.
“Hasta” manusia sebagai “'ammâ” adalah batas hidup (Yer.51:13), agar selagi hidup yang terbatas karena fana, manusia menggunakan kesempatan menanggapi anugerah Allah yang menyelamatkan dari dosa. “Hasta” di masa P.L. yang menjadi satuan ukuran bagi bagian-bagian Tabernakel yang akan dihadiri Allah berasal dari satuan ukuran bangunan bangsa-bangsa Timur Dekat Kuno (Mesir, Mesopotamia, dan lainnya). Selain mereka menggunakan satuan hasta untuk bangunan-bangunan rumah dan perabot, satuan ukuran “hasta” juga dipergunakan mereka untuk bangunan kuli-kuil berhala. Seperti itulah kita di masa sebelum kita menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat kita. Dahulu kita menggunakan “hasta” kita untuk berbuat dosa karena kita adalah manusia yang lahir berdosa (bnd. Mzm.51:5) dan telah sekian waktu lamanya kita gunakan untuk berbuat kejahatan bahkan mungkin kita menjadi penyembah berhala namun anugerah Allah menyelamatkan kita oleh iman kepada Kristus Yesus.
Setelah kita diselamatkan dari dosa, Allah mau memakai “hasta” kita bagi proyek Tabernakel-Nya yang rohani. Sebagaimana setiap bagian dan perabot Tabernakel dibuat berdasarkan ukuran “hasta” yang ditetapkan Allah dengan hikmat Roh Allah (bnd. Kel. 31:1-11), agar Allah hadir, dibangun dalam kesatuan dan keutuhannya (bnd. Kel. 40:33). Demikian setiap kita, sebagai Bait Roh (bnd. 1Kor.3:16), dengan karunia Roh yang dianugerahkan kepada masing-masing, kita menggunakan “hasta” kemampuan yang kita miliki selagi masih dalam “batas hidup” kita untuk mengerjakan ibadah dan pelayanan kepada Allah sesuai kebenaran Firman-Nya, sebagai Bait/ Tabernakel Roh-Nya.
Bagaikan bagian-bagian Tabernakel dengan ukuran “hasta” dalam dimensi ukuran masing-masing maka ibadah dan pelayanan kepada Allah, idealnya terjadi di dalam semangat kesatuan/ kebersamaan tanpa merasa “rendah” diri atau “tinggi” diri/ hati sebab masing-masing bekerja menurut “hasta kemampuan” ukuran iman yang dianugerahkan Allah (bnd. Rm.12:1-3) bagi kemuliaan Allah, bukan bagi diri sendiri, bukan bagi program pelayanannya sendiri, atau bagi kelompok pelayanan gerejanya sendiri.
Menanggapi keselamatan dari dosa-dosa kita oleh anugerah-Nya yang menghasilkan pembaruan pikiran/ akal budi, hendaknya setiap kita mencari dan menggali talenta masing-masing, memahami, menyadari “hasta kemampuan” kita masing-masing untuk dipergunakan, diberdayakan, dikembangkan, bagi tersusunnya bangunan Tabernakel tempat kediaman Allah (bnd. Ef.2:21-22). Tidak ada kata mundur atau mengendur dalam beribadah dan melayani Allah; dan jika terjadi demikian, segera kuatkan kembali “hasta lengan” kita yang lemah dengan tetap tekun bersekutu dalam komunitas di mana terdapat “hasta-hasta” orang percaya yang giat digunakan melayani Allah agar kita kembali bergairah menggunakan “hasta” kita dalam pekerjaan pelayanan bagi pembangunan Tabernakel Roh untuk menyatakan kemuliaan Allah kepada dunia. Allah mau memakai “hasta kemampuan” kita oleh kuasa Roh-Nya untuk menjadi kesaksian yang menyadarkan manusia berdosa di sekitar kita agar selagi mereka dala “hasta batas hidup” menanggapi anugerah keselamatan Allah melalui Kristus Yesus.