• DIA MEMBEBASKANKU DARI KEGELAPAN
  • Diana Simon

Aku dibesarkan di sebuah rumah dengan tradisi mengunjungi klenteng, membakar dupa dan mempersembahkan makanan kepada patung-patung yang ada di meja persembahan di ruang keluarga. Aku merasakan tradisi itu telah menjadi bagian dari hidupku. Setiap tahun kami melakukan ritual-ritual untuk menghormati nenek moyang kami. Dulu aku berpikir itu merupakan budaya kita jadi normal-normal saja. Namun aku tidak menyadari bahwa di balik semua tradisi itu ada sesuatu yang makin membawa kami ke dalam kegelapan yang lebih pekat.

Aku mulai mengalami hal-hal aneh; aku sering mendapat mimpi buruk, mendengar suara dan melihat benda-benda yang orang lain tidak melihatnya. Ketika aku apa yang kualami kepada ibuku, dia berpendapat aku memilliki indra keenam yang harus dipelihara dan dikembangkan. Namun aku begitu ketakutan saat sendirian. Aku menghindari cermin dan benda-benda yang memantulkan bayangan karena membuat hati dan perasaanku tidak nyaman. Aku tidak dapat tidur dalam kegelapan dan hatiku senantiasa diliputi kegelisahan. 

Kini, kalau melihat ke belakang, aku tahu bahwa batinku saat itu berada dalam tekanan yang sangat berat. Dan lebih dari itu, aku merasa benar-benar sendirian. Perasaan terisolasi masih kadang-kadang memasuki jiwaku saat hati ini bergejolak atau dalam keadaan sedih. Aku yakin sebagian dari rasa tersendiri itu berasal dari masa kecilku yang menyembah dewa-dewa dan melakukan ritual serta persembahan bukan suatu hubungan. Segala sesuatu ada peraturan dan perintah – jangan tanya ini atau jangan berkata begitu. Bahkan ada buku pegangan untuk menaikkan doa berisi peringatan dan kesengsaraan. Aku juga diberitahu nasibku di masa depan berdasarkan tanggal dan jam aku dilahirkan. Sejak muda aku merasa hidup ini begitu berat, kaku dan suram.

Suatu hari, kakak iparku, penganut Budha yang taat, yang selalu mengingatkanku untuk melakukan tradisi dengan setia memberiku sebuah buku agama Budha tentang hukuman-hukuman dari dosa. Buku itu memberikan gambaran sangat mengerikan, membuatku ketakutan. Aku menutup buku itu dengan kegelisahan yang mendalam. Bukan takut kepada Tuhan tetapi takut gagal melakukan yang seharusnya dilakukan, aku takut masuk neraka jika aku melakukan kesalahan. Perasaan takut tersebut tertanam begitu dalam membuat hati tidak tenteram. Hatiku bertanya-tanya apakah ini arti kehidupan di mana aku harus terus-menerus menghindari kesalahan.

Suatu hari aku pergi ke gereja karena pelajaran agama merupakan kewajiban untuk diikuti. Ada tiga pilihan agama: Budha, Katolik atau Kristen. Aku mengikuti pelajaran agama Budha selama dua tahun karena penganut aliran itu tetapi merasa gagal kemudian memutuskan mengikuti pelajaran agama Kristen yang katanya tidak terlalu sukar materinya. Ternyata meninggalkan tradisi kebudayaan yang telah bertahun-tahun diikuti tidaklah mudah. Aku masih berkecimpung dalam dunia okultisme, keluargaku tetap melakukan upacara-upacara keagamaan Budha dan pergi ke dukun-dukun. Bahkan ibuku mulai menggunakan ilmu hitam (bertentangan dengan kehendakku dengan maksud memperbaiki kehidupan keluargaku yang hancur. Semakin ibu melakukannya, semakin parah keadaan rumah tangga kami.

Terkadang aku membayangkan andaikata keluarga kami mengenal Yesus, betapa bahagianya keluarga kami. Mungkin saja ayah tidak akan meninggalkan kami dan ibu tidak akan menderita begitu dalam juga kakak-kakak lakiku tidak menanggung beban begitu berat seperti yang dialami sekarang. Aku iri hati melihat teman-teman atau sepupuku hidup berbahagia karena mereka pergi ke gereja.

Aku makin merasa tidak berguna, hancur dan terhilang. Aku terjebak dalam sebuah identitas yang bukan pilihanku. Di saat itu aku menyadari keadaan keluargaku, suatu kutuk keturunan yang terus menerus mengikuti kami – kehancuran dan ketakutan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Aku seperti berada dalam keadaan berutang yang harus dibayar, itulah “karma”. Aku tidak memilihnya tetapi hidup di dalamnya. Identitas itu mengikatku sedemikian rupa; aku terus menerus diingatkan dari mana asalku namun tidak pernah mendapat harapan akan masa depanku. Setiap hari kakak iparku memberitahu bahwa tidak ada yang dapat kuharapkan bahkan kemungkinan hidupku akan berakhir dengan ketidakbahagiaan. 

Suatu saat aku pergi ke ahli jiwa karena berpikir andaikan aku meninggal besok, aku tidak peduli apa yang bakal terjadi padaku karena aku begitu lelah menjalani hidup ini. Namun Allah datang dan menjangkauku.

Ternyata ketika masih kecil, jauh sebelum aku mengenal Dia, ada dorongan dalam hatiku untuk berdoa tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku berdoa semampuku namun doa yang sederhana itu memberiku kedamaian di tengah-tengah kekacauan dalam hati. 

Setelah aku menerima Yesus dan dibaptis, tekanan jiwa, suara-suara dan penglihatan-penglihatan yang menakutkan itu berhenti.

Aku dikelilingi oleh teman-teman gereja dan Marco (yang menjadi suamiku) membangkitkan semangatku dan membawaku keluar dari suasana yang menghancurkan itu. 

Kartu Tarot yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupku aku letakkan di sebuah rak bercampur dengan buku-buku dan kertas koran. Suatu saat atap rumah bocor dan kartu-kartu tersebut hancur sementara barang-barang lain di rak itu masih utuh. Heran, seolah-olah Tuhan mengatakan, “Kartu-kartu itu tidak lagi mempunyai tempat dalam hidupmu.”

Hidupku benar-benar diputarbalikkan. Tuhan datang untuk menarikku keluar dari kegelapan hidup di bawah ancaman “kutuk keturunan” dan penderitaan berat dalam keluarga. Ia tidak hanya menemukanku yang terhilang tetapi terus memegangku dan tidak membiarkanku lepas dari genggaman-Nya.

Aku teringat pula ketika berada di titik terendah dalam hidupku, Tuhan tetap menjangkauku. Saat itu ibu yang menempati sebagian besar hidupku dipanggil Tuhan. Aku tidak tahu bagaimana dapat melalui hidup ini tanpanya. Ketika dia meninggal, aku seperti kehilangan sebagian dari hidupku. Jujur, aku merasa tidak lagi dapat melanjutkan hidup ini. Namun kemudian aku diingatkan oleh ayat yang mengatakan bahwa terkadang Tuhan mengambil sesuatu dari seseorang (dalam hal ini ibuku) bukan untuk menghancurkan hidupku tetapi bertujuan agar kita tidak bergantung pada manusia tetapi kepada Dia sepenuhnya. Dengan kelembutan-Nya, Ia menyadarkan aku untuk bangkit. Melalui kehilangan sosok ibu, aku belajar untuk hidup mandiri. Dan bersama Tuhan, Ia menyembuhkan luka batin yang kuderita. 

Hingga saat ini aku masih dalam proses penyembuhan luka batin dan berjuang menghadapi trauma bagaimana dapat mengampuni seseorang. Ibu mertuaku menasihati kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus; yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Aku meyakini akan hal ini. 

Tanda-tanda perubahan terlihat juga dalam keluargaku. Seorang dari saudaraku pergi ke gereja dan menjadi kehidupan yang diubahkan. Ayahku bukanlah seorang yang sempurna tetapi hidup dia juga diubahkan. Hubunganku dengan saudara-saudaraku makin membaik dari sebelumnya. 

Jangan menoleh ke belakang untuk melihat kembali masa-masa lalu yang penuh dosa dan kesalahan tetapi arahkan pandangan kita ke depan pada rencana-rencana-Nya yang telah disiapkan untuk kita.   

Terbukti Yesus tidak hanya menyelamatkanku dari kegelapan – Ia telah mematahkan rantai yang mengikat keturunan keluarga kami bertahun-tahun itulah rantai ketakutan, aib dan kesenyapan. Bahkan hingga sekarang Ia masih melakukan-Nya. Mungkin Anda tidak mengalami peperangan rohani seperti yang aku alami tetapi kita semua pasti mempunyai beban hidup sendiri-sendiri entah menghadapi trauma, penderitaan, pola hidup lama yang berat menekan atau sejarah keluarga yang menyedihkan. Apa pun yang Anda alami, yakinlah Allah tidak gentar akan kegelapan Anda. Dia sanggup menjumpai Anda di dalam kegelapan itu, berjalan bersama Anda untuk melewatinya dan membimbing Anda pada pengalaman baru bersama-Nya.

Sumber damai sejati bukan dari luar melainkan dari dalam.

Saat kita mampu menerima diri apa adanya, memaafkan luka dan menghargai perjalanan hidup maka ketenangan akan hadir tanpa harus dicari.


*******

Sumber damai sejati bukan dari luar melainkan dari dalam.

Saat kita mampu menerima diri apa adanya, memaafkan luka dan menghargai perjalanan hidup maka ketenangan akan hadir tanpa harus dicari.