Shalom,
Kalau kita perhatikan setiap ayat dalam Mazmur 119, semuanya selalu menyinggung Taurat Tuhan dan peringatan- peringatan-Nya. Penulis Mazmur 119 begitu dikuasai oleh kebenaran Firman Tuhan bahkan setiap helaan napasnya hanya ada satu pemikiran yaitu Firman Tuhan.
Mazmur 119 diyakini ditulis setelah masa pembuangan ke Babel. Kita tahu umat Israel beribadah awalnya fokus pada Kemah Suci kemudian menjadi Bait Allah yang permanen. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari Bait Allah dan membawa persembahan kurban di sana. Dapat dibayangkan ketika Bait Allah diruntuhkan, runtuhlah keagamaan umat Israel!
Selama dalam pembuangan di Babel, bangsa Israel tidak lagi dapat mempersembahkan kurban dan imam-imam tidak dapat melakukan tugas pelayanan. Kemudian terjadilah pembaruan berkaitan dengan ibadah karena mereka menyadari keadaan mereka yang terbuang dan tertindas di Babel akibat dosa dan sikap mereka yang tidak menghargai perintah Tuhan padahal Tuhan telah mengutus nabi-nabi untuk memperingatkan cara hidup mereka namun mereka mengabaikannya.
Pembuangan ini merupakan penindasan yang merendahkan bangsa Israel, membuat mereka terserak di antara bangsa-bangsa. Ketika menyadari kebenaran Firman Tuhan, mereka rindu untuk berbalik kepada-Nya karena mereka sudah jauh dari-Nya. Timbullah pemikiran untuk membangun sinagoga atau rumah peribadatan Israel di pembuangan dan keharusan adanya Torah. Tabut Torah dianggap pengganti Tabut Perjanjian dan ditaruh di satu tempat di dalam setiap sinagoga. Setiap hari mereka datang ke rumah Tuhan, berpusat pada Firman dan hidup berhaluan pada Firman- Nya seperti disampaikan di Mazmur 119.
Bagaimana bangsa Israel mengungkapkan keajaiban Firman Tuhan yang sudah memelihara mereka menurut Mazmur 119:129-135?
- Kerinduan akan Firman Tuhan (ay. 129-131).
Mengapa ada kerinduan terhadap Firman Tuhan dan ingin merenungkan-Nya setiap hari tanpa bosan? Karena ajaiblah peringatan-peringatan-Nya (ay. 129). Firman Tuhan itu ajaib artinya melebihi pemikiran manusia dan semua yang ada di dunia ini karena bukan perkataan manusia biasa tetapi perkataan Allah sendiri. Bahkan Nama Tuhan juga disebut ajaib (Yes. 9:5).
Apa keajaiban dari Firman Tuhan? Pemazmur mengakui semua yang diperkatakan oleh Firman Tuhan menjadi kenyataan. Firman Tuhan yang ajaib mampu mengadakan apa yang tidak ada menjadi ada dan inilah kekuatan dari Firman Tuhan (Mzm. 33:9).
Siapa sebenarnya yang berfirman? Allah sendiri sementara hamba Tuhan memberitakan Firman Tuhan dan kita mengimaninya maka terjadilah suatu keajaiban karena perkataan yang diucapkan adalah Firman dari Tuhan sendiri. Kalau kita memegang dan memelihara Firman dalam hati, Ia pasti akan menggenapi janji-Nya.
Pemazmur tidak hanya mengakui keajaiban Firman tetapi juga ingin mengerti/memahami keajaban Firman Tuhan yang mampu memberi terang dan pengertian (ay. 130). Bukankah Allah, Pencipta alam semesta, menciptakan terang dari Firman-Nya (Kej. 1:1-4)?
Ada banyak orang membekali diri dengan harapan sanggup menghadapi dunia yang banyak sandungan ini namun ketahuilah bila Firman Tuhan dan Roh-Nya menerangi pikiran kita untuk dapat memahami kebenaran Firman-Nya,
kita akan diberi pengertian menghadapi pelbagai tantangan di depan kita. Kita tidak akan mudah tersandung bila kita berjalan di dalam terang-Nya (Yoh. 11:9-10) sebab Ia adalah terang dunia (Yoh. 8:12).
Pemazmur begitu merindukan Firman Tuhan dalam kehausan untuk dinikmati sehingga dia melukiskannya dengan kata-kata mengangakan mulutnya mendambakan perintah Tuhan (ay. 131). Bagaimana dengan kita, apakah kita ada kehausan akan Firman Tuhan? Kalau tidak ada, patut dipertanyakan apakah kita sudah lahir baru? Bagaikan seorang bayi yang tidak dapat hidup tanpa asupan air susu yang murni; demikianlah seharusnya kondisi anak-anak Tuhan yang tidak dapat hidup tanpa Firman Tuhan (1 Ptr. 2:1-2). Memang kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia (Ef. 2:8) tetapi kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12) agar iman kita bertumbuh.
- Kehadiran Allah yang empunya Firman Tuhan (ay. 132-134).
Pemazmur merindukan Firman Tuhan karena ingin mengalami kehadiran Tuhan.
Apa motivasi kita merindukan Firman Tuhan? Ketika kita menerima Firman Tuhan, Ia menyertai pemberitaan itu dan hadir di tengah-tengah kita. Sudahkah kita mengalami kehadiran Tuhan dalam pengikutan kita kepada-Nya? Jika tidak, kita bagaikan kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat yang mati rohani karena matanya tidak tersingkapkan sehingga tidak dapat melihat kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Mereka hanya menganggap Yesus sebagai anak tukang kayu dari Maria dan Yusuf. Mereka tidak melihat pribadi Allah yang sedang melawat umat-Nya.
Pemazmur rindu Tuhan berpaling kepadanya (ay. 132) sebab menyadari dirinya adalah manusia yang sudah jatuh di dalam dosa.
Kata ‘berpalinglah’ mengindikasikan Tuhan sedang tidak melihat kita dan kita berada di dalam keadaan tanpa Allah di dunia. Kalau kemudian kita mendengar Injil dan berita pengajaran, ini kesempatan bagi kita agar Tuhan berpaling melihat keadaan kita yang dalam pergumulan dan kesesakan. Tuhan berpaling kepada kita bukan untuk mensyukuri tetapi mengasihi kita; buktinya Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menanggung segala dosa penderitaan kita (Yoh. 3:16). Yesus menempatkan diri sebagai manusia menggantikan kita dengan mati disalib menyelesaikan semua dosa kita (Yoh. 19:30). Sekarang kita sudah diperdamaikan dengan Allah dan dapat menikmati perjalanan hidup yang baru.
Lebih lanjut pemazmur rindu mengalami peneguhan dari Tuhan setelah menjadi milik-Nya (ay. 134). Kita juga perlu mengalami peneguhan di setiap langkah kita yang lemah untuk dikuatkan dengan berdiamnya Roh Kudus di dalam kita (2 Kor. 1:21-22) agar kejahatan tidak berkuasa atas kita.
Jujur, perjalanan hidup kita sering mengalami kegagalan oleh karena beratnya pergumulan di tengah kejahatan yang makin hebat melanda kita. Namun Firman Tuhan memberikan janji pengharapan membebaskan kita dari orang-orang yang menindas/memeras kita (ay. 134). Bukankah kita sering tergadai atau menggadaikan diri sendiri karena kesusahan yang kita alami karena kita tidak lagi berpegang pada Firman? Terpujilah Tuhan karena Yesus, Sang Penebus membebaskan kita dari segala pelanggaran kita.
Aplikasi: kita harus percaya ada pribadi Allah di tengah-tengah kita di setiap pemberitaan Firman Tuhan. Dan ketika bersekutu dengan Firman Tuhan, ada pengharapan Firman membawa berkat bagi kita.
- Berkat dari Firman Tuhan yang ajaib (ay. 135-136).
Pemazmur hidup di tengah bangsa-bangsa yang sama sekali asing dengan Taurat Tuhan dan dia merasa sedih karenanya (ay. 136).
Ketika pemazmur memandang pribadi Allah, datanglah janji berkat (ay. 135) seperti berkat yang diucapkan oleh para imam kepada bangsa Israel (Bil. 6:24-26). Percayalah bahwa Firman Tuhan itu adalah berkat (Mat. 6:33). Oleh sebab itu utamakan kita merindukan berkat Firman Tuhan dan ketetapan-ketetapan-Nya.
Introspeksi: sudahkah kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita? Kita yang berkeyakinan akan kebenaran Firman Allah bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus (Kis. 4:12) selayaknya menangis dan berdoa bagi mereka yang masih belum/tidak mengenal Tuhan dan hidup tidak sesuai dengan kebenaran Firman. Marilah kita hidup berkenan di hadapan Tuhan dengan meninggalkan kefasikan dan keinginan duniawi (Tit. 2:11- 15) sehingga menjadi kesaksian hidup bagi mereka untuk tertarik datang kepada Tuhan. Mungkin kita sekarang berada dalam kesusahan dan penderitaan tetapi kita memiliki pengharapan penuh kebahagiaan saat kemuliaan Allah dinyatakan ketika Tuhan datang kembali.
Sudahkah kita mengalami keajaiban Firman Tuhan dalam hidup kita? Biarlah kita memiliki kerinduan akan Firman Tuhan yang ajaib dan menghadirkan Tuhan di tengah kita untuk menyertai kita dalam pergumulan hidup juga hidup menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita karena kita sudah mengalami berkat Firman Tuhan sambil menantikan hari penuh berkat saat Tuhan datang kembali menjemput kita untuk dibawa masuk ke dalam Kerajaan- Nya yang mulia dan kekal selamanya. Amin.