Rasa kesepian (loneliness) adalah sebuah perasaan kompleks yang sedang marak beberapa tahun terakhir ini. Dr. Vivek H. Murthy selaku 19th dan 21st Surgeon General of the US (setara Menteri Kesehatan RI), menyebutkan bahwa 1 dari 2 orang dewasa di Amerika merasa kesepian. Fakta tersebut diukur bahkan sebelum pandemi Covid-19 yang memisahkan kita dari banyak relasi sosial. Kini, lebih banyak orang merasa kesepian. Keberadaan sosial media yang membuat kita terkoneksi 24 jam tidak membuat kita berhenti merasa kesepian. Inilah yang mendasari munculnya fenomena ‘alone together’ di mana orang dapat merasa kesepian walau sedang bersama dengan banyak orang. Lalu bagaimana orang Kristen menyikapi fenomena ini?
Apa itu kesepian (loneliness)
Setiap orang dapat merasa kesepian. Mengapa? Karena perasaan kesepian itu sangat subyektif. Perasaan kesepian ini sering muncul karena adanya perbedaan ekspektasi terhadap koneksi sosial. Misal: orang tua ingin anaknya yang sudah menikah sering mampir ke rumah. Kenyataannya? Tidak dapat karena ada pekerjaan dan kesibukan lain yang diurus. Perbedaan ekspektasi ini dapat memunculkan rasa kesepian.
Kesepian pun tidak hanya disebabkan oleh hal-hal fisik saja (misal: minimnya kehadiran orang lain) tetapi manusia juga dapat merasakan kesepian psikologis yang disebabkan karena kurangnya rasa dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Bahkan emosi yang lebih intens dapat membuat kita merasa ‘tidak dilihat’ oleh orang lain. Saat-saat inilah kita terpisah dari relasi sosial yang ada di sekitar kita sehingga kita merasa sendirian (lonely) dan mengalami kesepian (loneliness).
Apa saja tanda bahwa kita merasa sepi
Secara emosi kita dapat merasa sedih, cemas, bahkan putus asa. Sering kali hal-hal ini diperkuat dengan adanya kata-kata menyalahkan diri sendiri: “Aku seharusnya lebih …” “Aku seharusnya tidak begini …” “Aku seharusnya bisa …” dst. Kata-kata ini membuat interaksi sehari-hari terasa tidak menyenangkan. Ternyata hal ini pun pernah dirasakan oleh Nabi Elia.
Setelah Nabi Elia mengalahkan ratusan nabi Baal dalam pertarungan mendatangkan api di Gunung Karmel (1 Raja. 18:20-46), Elia bergumul dalam kesendirian saat dikejar oleh Izebel bahkan cenderung ingin mengakhiri hidupnya (1 Raja. 19:1-4).
“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.“ – 1 Raja-raja 19:4
Bayangkan sekelas nabi Tuhan saja dapat mengalami rasa kesepian, apalagi kita?
Bagaimana cara menghadapi kesepian (loneliness)
Rasa kesepian muncul karena manusia memang makhluk sosial. Tuhan menciptakan kita sebagai sosok yang butuh terkoneksi dengan orang lain. Menurut pandangan Psikologi Evolusi, pembentukan koneksi dapat meningkatkan keberlangsungan hidup kita. Ketika koneksi ini tidak ditemukan atau tidak cukup berkualitas, ini membuat kita mengalami kesepian. Pesan selanjutnya di 1 Raja-raja 19:5-21 menunjukkan cara Tuhan mengingatkan manusia ketika kita mulai lelah.
Pertama, istirahat. Jika kita menghadapi suatu perasaan kesepian yang membuat kita sangat menderita, langkah pertama adalah istirahat. Tidurlah dahulu sebentar, letakkan punggung Anda dan istirahat sejenak supaya pikiran lebih jernih.
Kedua, makan. Setelah kita istirahat, sempatkan mengonsumsi makanan yang berkualitas. Jangan asal makan tanpa memikirkan gizi yang dapat membuat kita berpikir lebih jernih dan merasa lebih baik.
Ketiga, pergumulkan kepada Tuhan. Komunikasikan kepada-Nya tentang apa yang dirasakan, ceritakan semua pergumulan Anda kepada-Nya, bahas kekhawatiran yang Anda rasakan serta emosi apa yang muncul di situ. Terlihat Nabi Elia mencurahkan segala protes dan kekhawatirannya kepada Tuhan (1 Raja. 19:14).
Keempat, carilah teman. Setelah Nabi Elia curhat kepada Tuhan, dia diizinkan mencari teman sepelayanan, yakni Elisa (ay. 19-21) sehingga dalam perjuangan pelayanan, dia tidak sendirian tetapi dapat mengobrol yang berkualitas dengan orang dekat.
Kesimpulan
Di era ketika sosial media menjadi keseharian kita, kita tidak perlu menyempatkan waktu lima jam untuk ngobrol dengan orang lain. Dari hasil penelitian terbaru dapat disimpulkan bahwa orang hanya perlu delapan menit sehari untuk mendapatkan obrolan yang berkualitas (dengan orang yang sama) sehingga walaupun kita bekerja dengan mobilitas tinggi, shift kerja yang tidak seimbang, juga dengan semua kesibukan kita: tetaplah berkomunikasi.
Gereja juga sudah menyediakan beberapa ladang pelayanan bersama para pekerja seiman. Datanglah pada komunitas-komunitas yang membangun seperti komunitas kelompok sel Growing Together (G-To) yang tersedia dari berbagai lapisan dan wilayah. Sampaikan keresahan dan kekhawatiran Anda kepada Tuhan dan sesama. Jangan merasa sendirian.